
Pasca ketahuaan mengkosumsi obat tidur secara berlebihan Marissa mendapat penjagaan ketat dari Bobi, ia menempatkan beberapa pengawal secara tersembunyi memata-matai segala kegiatan Marissa. Kali ini Bobi ingin memastikan putri dari tuan besarnya berada dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa? Nona pergi ke club malam ?" Bobi yang mendapat laporan dari pengawal membuatnya kesal.
"Kalian perhatikan saja, sebentar aku akan ke sana." Bobi terpaksa meminta ijin meninggalkan pertemuannya dengan beberapa klien malam itu.
"Ada apa kau pulang lebih awal ?" Tomas yang hadir dalam pertemuan itu menanyakan Bobi yang tergesa-gesa.
"Maaf aku ada urusan penting. Marissa membuat ulah lagi."
"Oh..God. Sepertinya kau punya perhatian khusus dengan bossmu itu." goda Tomas.
"Tidak seperti itu. Hmm. Sudahlah aku pergi dulu." Bima yang berada di samping Tomas mendengar pembicaraan antara kedua pria itu.
Bima penasaran entah apa lagi yang diperbuat perempuan yang sangat di bencinya itu. Dasar perempuan malam. Bima mengutuki Marissa dalam hatinya.
Begitu cepat Bobi sudah ada di club malam tempat yang dikunjungi Marissa malam itu. Suasana yang begitu ramai dan berisik membuat Bobi kesusahan mencari Marissa. Pandangannya menyapu satu persatu orang yang ada di club malam itu, susah melihat dimana Marissa karena lampu di sana remang-remang.
__ADS_1
Akhirnya matanya menangkap sosok Marissa yang duduk di pojok ruangan, ia sendiri dan sedang asyik memainkan rokok di bibirnya.
"Nona. Apa yang kau lakukan disini ?" Bobi sangat kesal melihat sikap Marissa yang tidak menghiraukan kondisinya yang sedang hamil.
"Bobi. Jangan ganggu aku." Marissa menyesap kembali cerutu di tangannya.
"Sini." Bobi merebut dengan paksa rokok dari tangan Marissa dan membuangnya begitu saja.
"Ikut aku pulang atau akan kuceritakan semuanya kepada tuan besar." ucap Bobi dengan nada mengancam.
Bobi menarik tangan Marissa dan membawanya ke luar dari club malam itu.
"Hai Bob, kau disini juga ternyata. Nona Marissa selamat malam." tanpa disengaja Bobi dan Tomas bertemu di parkiran, Tomas dan Bima baru saja datang mereka mau pulang.
Bima melihat Bobi memegang erat tangan Marissa. Lagi-lagi ia merasa muak bila berhadapan dengan wanita di depannya.
"Apa kalian punya hububgan khusus ?" ada senyum samar di wajah Marissa, ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain agar tidak bersitatap dengan Bima.
__ADS_1
"Argh..kau ada-ada saja." ucap Bobi sambil memukul pundak Tomas.
"Maaf, tuan. Kami permisi dulu." Marissa memotong pembicaraan dan mengajak Bobi beranjak dari sana.
"Kalian memang pasangan serasi. Cepat kirim undangannya, bro. Kau tunggu apa lagi, nona Marissa cantik dan pintar. Perusahaannya akan berkembang pesat bila kalian berkolaborasi." kekeh Tomas bercanda sambil menggoda.
Marissa hanya tersenyum kemudian menarik Bobi , memberi kode kepada Bobi agar cepat meninggalkan Tomas dan Bima.
"Kami harus pulang sekarang. Terima kasih." Bobi dan Marissa bergegas meninggalkan Tomas dan Bima.
Bima memandang Marissa dengan geram, wanita itu tidak menghiraukannya, bahkan dengan tanpa berdosa menggandeng pria lain.
Marissa sama sekali tidak mempedulikan Bima, untuk apa ia memikirkannya lagi, jelas-jelas ia sudah menghamilinya, tapi tidak mengakuinya.
Bobi membawa Marissa kembali pulang ke apartemennya. Meski Bobi hanya seorang asistennya, Marissa harus menurutinya, Bobi menggunakan alasan kehamilan Marissa, jika ia tidak mengindahkan perintahnya, maka berita kehamilannya pasti akan diketahui oleh kedua orangtuanya.
bersambung
__ADS_1