
"Aku akan menikahi Alina." Suara Rey jelas dan tegas memberitahu kepada keluarganya setelah makan malam selesai.
Alina menundukkan kepalanya, rasa malu dan tidak pantas menyelimuti pikiran dan hatinya. Ia tidak pernah diberitahu Rey kalau ia akan berbicara seperti ini di hadapan semua keluarga.
Togar dan Indah tersenyum senang karena Rey sudah berani mengakui cintanya kepada kedua orangtua mereka.
"Hmm. Apakah itu tidak terlalu terburu-buru?" Morin menanggapi pernyataan Rey.
"Tidak. Aku ingin secepatnya menikah dengannya." Rey mengambil tangan Alina dan menggenggamnya erat seakan memberi kekuatan agar wanitanya itu tidak menunduk terus.
"Alina ! Kau yakin menikah dengan putraku, Rey." Morin bertanya kepada Alina.
Alina terkejut mendengar namanya di panggil oleh Morin. Alina gugup tidak tahu harus menjawab apa, Rey semakin menggenggam erat tangannya, Alina menatap Rey yang kemudian dibalas dengan anggukkan.
"A..a..aku." Alina menjeda ucapannya.
"Katakan sayang, tidak perlu takut." ucap Rey
"Hmm. Aku yakin menikah dengan Rey, tuan." akhirnya keluar juga kalimat yang ditunggu-tunggu oleh Rey.
Uli mengelus pundak suaminya, ia juga sangat gembira karena akhirnya Rey dan Alina sudah memutuskan untuk menikah.
"Aku setuju." Indah berteriak
__ADS_1
"Sayang, tenanglah. Papa dan mama pasti setuju." Togar menenangkan istrinya.
"Hmm. Papa belum bisa kasih keputusan karena banyak faktor yang harus papa selesaikan." jelas Morin.
" Pa.." semua yang duduk terkejut mendengar ucapan Morin.
Alina menelan salivanya, ia sadar siapalah dirinya, seorang anak yatim, orangtuanya Radit juga bukan siapa-siapa, mereka dari keluarga sedehana, aku memang tidak pantas bersanding dengan putra seorang pengusaha, Rey.
"Rey kita ngomong sebentar. Ikut papa !" Morin mengajak Rey ke ruang kerjanya untuk membicarakan sesuatu.
"Rey, Papa perlu menjelaskan padamu kalau Alina adalah tunangan Bima. Mereka akan menikah dalam waktu dekat tetapi semuanya jadi berantakan karena ada masalah Radit papanya dengan Arnold. Kamu tahu siapa Arnold ? Dialah yang merencanakan kecelakaan kakakmu Roy. Radit adalah orang yang membawa kendaraan malam saat Roy kecelakaan."
Rey mendengar semua penjelasan papanya.
"Papa belum jelas, kabar terakhir Arnold dipenjara tetapi sekarang sudah bebas. Sekarang Arnold sedang mencari keberadaan Alina dan papanya."
"Papa enggak usah khawatir, aku akan cari tahu kebenaran beritanya. Aku akan ke Jakarta menanya langsung kepada kak Roy."
"Rey, papa ingin yang terbaik untuk masa depanmu."
"Iya, pa. Rey janji tidak akan mengecewakan papa dan mama." Rey merangkul papanya.
***
__ADS_1
Alina gelisah di kamarnya, berbagai pertanyaan muncul di benaknya, meraba-raba kira-kira apa yang sedang dibicarakan Rey dengan papanya. Ia berjalan mondar-mandir sambil terus memikirkan kemungkinan hubungannya dengan Rey, apakah disetujui atau malah di tentang.
tok..tok..
Alina berlari membukakan pintu, ia melihat Rey berdiri di balik pintu dan menatapnya dengan sendu.
"Hubu..hubungan kita tidak disetujui kan ? Aku tidak apa-apa Rey. Sudah kukatakan kita bukan pasangan yang ideal." Alina mengungkapkan isi hatinya kepada Rey.
"Ayo. Kita bicara di dalam." Rey menarik tangan Alina dan mengunci pintu kamar.
"Jangan berpikir terlalu jauh." ucap Rey.
Alina dan Rey duduk bersisian di tepi ranjang Alina. Alina menunggu Rey menjelaskan apa yang sedang dibicarakannya dengan Morin.
"Kau ingin menjelaskan sesuatu padaku, Rey?" Alina bertanya pada Rey karena ia tidak kunjung menceritakan tentang yang mereka bicarakan tadi.
"Semuanya akan baik-baik saja. Minggu depan aku akan ke Jakarta."
"Aku ikut."
Rey melihat Alina begitu bersemangat, Rey menganggukan kepalanya, diciumnya kening Alina.
"Aku mencintaimu."ucap Rey.
__ADS_1
bersambung