
Roi masih sibuk dengan beberapa berkas di ruang kerjanya, ia meninggalkan beberapa file yang penting untuk meeting dengan perwakilan cabang perusahaan Michel group.
" Aku melupakan beberapa file di mejaku, antarkan segera." suara Roi diujung ponselnya.
" Baik tuan, aku segera mengantarnya." Roi meletakkan ponselnya kembali setelah mendapat jawaban dari Adnan.
Roi masih terus fokus dengan layar laptopnya, ia memeriksa setiap laporan dari perusahaan anak cabang, sesekali ia menggelengkan kepalanya karena terdapat laporan yang kurang rapi.
Silvi memandang Roi dari balik pintu, sudah lima belas menit ia berdiri disitu, tapi Roi belum menyadari kedatangannya
" Roi !" Silvi berjalan mendekat kepada Roi, ia membawa satu gelas kopi ditangannya.
" Sayang." Roi berdiri terkejut melihat Silvi membawa gelas ditangannya.
" Apa yang kau lakukan, istirahatlah !" Roi mengambil gelas kopi yang berada ditangan Silvi kemudian ia meletakkan di meja kerjanya.
Ia berbalik mendekat kepada Silvi, di peluknya dengan erat.
" Ayo..kutemani istirahat." Roi mengenggam tangan Silvi kemudian ia ingin mengangkat Silvi dan membawanya ke kamar kembali.
" Roi. Aku sudah baikkan." Roi menghentikkan gerakannya melihat Silvi menolak untuk di angkat Roi
Roi membawa Silvi untuk duduk di sofa, ia mendudukan Silvi di pangkuannya. Ia mengusap usap punggung Silvi.
__ADS_1
" Roi, turunkan." ucap Silvi malu-malu, wajahnya sudah merona melihat perlakuan Roi padanya.
Roi malah menarik tubuh Silvi hingga jatuh di pelukkannya, mengelus pipi mulus yang sedang merona di hadapannya.
" Kau malu ?" Roi menggoda Silvi
Silvi mencubit pinggang Roi karena berani menggodanya.
" Awwww." teriak Roi pura-pura menahan sakit.
" Kau berlebihan." guman Silvi pelan sambil membenamkan wajahnya di dada Roi.
Roi meraih dagu Silvi kemudian ia mengusap dengan lembut bibir manisnya.
Cup
Semakin Silvi malu-malu semakin gemas Roi melihatnya.
Ia menangkup kedua belah pipi Silvi.
" You are so pretty, honey." bisik Roi ditelinga Silvi.
Silvi tersenyum mendengar bisikkan Roi ditelinganya. Ia menatap Roi dan mengusap lembut pipinya.
__ADS_1
Roi mendekatkan wajahnya dan mulai mencium kening Silvi, hidungnya kemudian ke bibirnya, mereka berdua hanyut dalan situasi yang sangat indah, hingga kemudian...
tok..tok...
Adnan sudah berdiri di balik pintu, ia menundukkan kepalanya, sebenarnya ia tak ingin mengganggu tuannya Roi dan Silvi yang sedang bermesraan.
" Adnan, masukklah." Silvi dengan cepat turun dari pangkuan Roi ia malu kepada Adnan yang sudah melihat mereka berdua sedang berciuman.
" Aku keluar dulu." Roi tèrsenyum kepada Silvi yang tertunduk wajahnya semakin merah dan dengan cepat-cepat ia berjalan meninggalkan Roi dan Adnan.
Roi menyesap kopi yang diantar Silvi tadi, Adnan masih setia berdiri di samping Roi, menunggu tuannya itu menyelesaikan minumnya.
" Ada beberapa hal yang ingin segera kita bahas, beberapa perusahaan anak cabang tidak menyerahkan laporan tidak tepat waktu dan tidak rapi. Aku perlu kau untuk memeriksa beberapa perusahaan cabang di luar daerah." jelas Roi
" Dengan senang hati tuan." jawab Adnan
" Aku tidak bisa bersamamu, kau boleh pergi bersama Ester untuk mengurus semuanya, aku tahu dia bisa diandalkan, dan kalian berdua sangat cocok dalam hal kerja sama." Roi menatap Adnan yang sudah mengerti arah pembicaraan tuannya.
" Siap tuan." jawab Roi menundukkan kepalanya.
Roi mengambil berkas yang dibawa Adnan, ia mulai membuka satu persatu berkas itu, setelah selesai diperiksanya, ia bangkit berdiri.
" Sudah hampir sore, Silvi membuatkan untukmu segelas kopi, ayo kita minum di sana saja." Adnan berjalan mengikuti Roi di belakangnya.
__ADS_1
Roi berjalan keluar dari ruang kerjanya, tadi Silvi mengirimnya chat bahwa ia membuatkan Adnan segelas kopi yang diletakkannya di meja ruang depan televisi, Silvi masih malu kepada Adnan karena kejadian yang tadi.
Bersambung