
Setelah tiga hari berada di Medan, hari keempat tempatnya hari kamis Silvi dan Roi pulang ke Jakarta, Alina ikut dengan mereka
Rey sudah berangkat ke Jerman, setelah diberi pengertian oleh kedua orangtuanya akhirnya Rey harus ihklas menjalankan kewajibannya untuk menuntut ilmu di negeri orang, dengan tujuan untuk kemajuan Rey.
Dengan berat hati Morin harus menggagalkan rencana pertunangan Rey dan Marissa semuanya atas permintaan Rey. Morin berpikir biarlah Rey yang memutuskan sendiri tentang hubungan pertemanannya entah dengan siapa asal berada di koridor yang sama suku batak. Untuk latar belakang pendidikan dan keluarga menjadi prioritas pertama bagi keluarga Sinaga.
*
*
Waktu berjalan terus, sementara Alina sudah kembali tinggal dan bekerja di kediaman Michell.
Semakin hari ia tumbuh semakin dewasa, keadaan banyak mengajarkannya untuk bersikap hati-hati pada semua orang.
Seperti kejadian yang dialaminya di suatu hari.
Kampus dimana Alina menimba ilmu mengadakan seminar, Alina sekarang sudah semester enam, Rado tidak pernah mati langkah untuk mendapatkan segala perhatiaan Alina. Tetapi Alina masih tetap pada pendiriannya tidak mengubris maksud perhatian dosennya itu.
"Kamu akan bertugas menjaga stand dalam acara seminar." perintah Rado kepada Alina kala itu.
Tidak ada alasan untuk menolak karena semua mahasiswa mendapatkan tugas dalam acara seminar di kampus, tidak terkecuali Alina.
" Baik, pak! " dengan sikap sopan layaknya mahasiswa kepada dosen Alina tetap menghormati Rado yang memberi perintah.
Seminar dilakukan mulai pagi hari setelah pukul tiga petang akan dibuka beberapa stand untuk promosi kampus, stand akan berakhir pukul delapan malam. Setelah membereskan semua peralatan stand barulah mahasiswa yang bertugas boleh pulang.
" Ayo! Saya antar pulang." Rado yang sudah duduk dibelakang setir mobilnya mengajak Alina pulang bersamanya.
" Terima kasih, Pak. Saya pulang dengan Rara saja." Rado menghela nafasnya selalu saja Alina menolaknya.
" Baiklah !" dengan berat hati Rado mengiyakan permintaan Alina. Di sepanjang jalan Rado berpikir terus entah bagaimana caranya agar Alina mau menerima semua perhatiannya, itu adalah tantangan terbesar bagi Rado, ia yakin bisa mendapatkan Alina karena ia belum punya teman cowok yang dekat dengannya.
Dengan seribu cara Rado selalu punya ide agar bisa mendapatkan cewek yang dipujanya itu. Kali ini Rado akan mendekati orangtua Alina, ia ingin secara langsung meminta Alina kepada orangtuanya untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Siang itu setelah selesai jam mengajar, Rado diam-diam mengikuti Alina yang akan pulang ke rumahnya.
" Gila ! Bener nih rumah Alina? Melihat tampilannya yang tergolong sederhana pasti banyak yang tidak percaya kalau Alina tinggal di rumah semewah ini." Rado berdialog dengan hatinya. Ia baru mengetahui kalau Alina tinggal di. mansion Michell.
__ADS_1
" Maaf. Ada yang bisa kami bantu, pak?" seorang satpam menyapa Rado karena mobilnya sudah agak lama berhenti di depan rumah Michel
" Apakah betul Alina tinggal di sini pak?" Rado bertanya kepada satpam yang sudah berdiri dihadapannya.
" Betul. Bapak ada perlu dengan Alina?"
" Tidak. Lain kali saja saya bertemu dengannya." nyali Rado menciut ketika ia tahu kalau Alina ternyata putri seorang Milioner. Dengan cepat Rado membawa mobilnya pergi dari tempat itu.
*
*
Setelah kepergian Rey ke Jerman, Marissa masih tetap rutin mengunjungi club dengan teman-temannya, bersenang-senang menikmati dunia malam. Marissa kecewa Rey menggagalkan rencana pertunangan mereka dan tidak ada kata putus dari mulut Rey tetang hubungan mereka, jadi semuanya seperti menggantung begitu saja.
"Bisa kita kenalan?" seorang pria mengulurkan tangannya pada Marissa.
" Icha." katanya dengan cuek menghiraukan tangan pria itu.
" Aku Robi." tersenyum melihat wanita cantik yang dihadapannya mengabaikan dirinya.
"Dengan senang hati." senyum kembali terbit begitu saja dari bibir Robi
Tatapan Robi tidak lepas menatap wajah Marissa. Cantik ! satu kata itu tepat untuk menggambarkan seorang Marissa.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Marissa berbalik menatap Robi.
""Hmm. Karena kamu cantik." katanya menggoda Marissa
Di luar prediksi, Marissa mendekat kepada Robi dan memberikan kecupan di bibirnya.
" Hadiah untuk pujianmu." Icha menatap Robi dengan senyum liciknya.
Robi terkejut, ia pikir Marissa tipe cewek jual mahal melihat sikap cueknya ketika berkenalan tadi, rupanya penilaiannya salah, Marissa itu agresif.
Robi tidak membiarkan Marissa menjauhinya, di tariknya tubuh Icha sehingga wajah mereka berhadapan. Jelas sekali di mata Robi wajah Icha yang begitu sempurna, parasnya yang sangat elok membuat mata Robi hampir tidak berkedip.
"Kau mau apa?" hembusan nafas Icha begitu terasa di wajah Robi.
__ADS_1
"Kau telah mencuri ciumanku, nona."
"Aku milikmu malam ini." Icha mengalungkan kedua tangannya di leher Robi.
"Kau bermain-main denganku. Aku tidak akan melepaskanmu." Robi menatap setiap inci tubuh Marissa, gaun hitam ketat yang minim membuat sebagian tubuhnya terekspos begitu saja. Robi menelan salivanya. Sungguh ia tergoda dengan tampilan Icha malam ini.
"Hahaha. Tidak segampang itu, boy." Icha mendorong tubuh Robi yang memepet tubuhnya.
" Kau minta berapa?" Robi mengira Marissa meminta bayaran seperti pelayan-pelayan lain yang sudah digumulinya.
"Kau menawarku? Hahaha. Berapa yang kau punya ? Bahkan aku bisa membelimu." dengan sombong Marissa menjauhkan dirinya.
"Uang, rumah, atau mobil aku bisa berikan untukmu." Robi menarik tangan Marissa ketika ia akan beranjak meninggalkannya.
Marissa berbalik menatap lengannya yang di pegang kuat oleh Robi.
"Sayangnya aku tidak tertarik dengan itu." Marissa menghempaskan tangan Robi.
"Kau telah mencuri ciumanku. Kau sedang mempermainkan aku, nona." kembali menarik Marissa hinga terhempas di dada bidangnya.
Robi mencium bibir Marissa dengan rakus, nalurinya sedari tadi dipermainkan oleh Icha. Setelah puas me-***** bibir Marissa, Robi melepaskan begitu saja.
"Kita impas." Marissa mengusap bibirnya yang masih basah dengan tissu basah miliknya, kemudian dibuangnya begitu saja.
Setelah itu ia berlalu meninggalkan Robi yang masih terregun dengan sikapnya.
Begitulah kehidupan Marissa rasa kecewa atas penolakkan Rey dibalaskannya dengan mempermainkan hati pria yang jelas-jelas menampakkan rasa suka padanya. Ia tidak memikirkan resiko yang akan dialaminya, yang penting hatinya terpuaskan.
**
Sementara Rey yang melanjutkan studinya di Jerman sangat serius untuk menyelesaikan studinya, ia tahu segala gerak-geriknya di pantau oleh beberapa mata-mata papahnya, selama itu tidak mengganggu aktivitasnya, Rey mengabaikannya.
Lama tinggal di negeri orang membuat Rey melupakan sosok Alina, rasa suka yang pernah timbul di hatinya tenggelam sudah seiring dengan berjalannya waktu.
Rey sudah menemukan sosok teman yang cocok, untuk dijadikan teman bertukar pikiran dengannya disana, Jenifer mahasiswa kedokteran yang satu kampus dengannya, orang Indonesia dan terlahir dari suku yang sama, BATAK. Itulah yang membuat mereka dekat, merasa bersaudara dan sama-sama merantau di negeri orang untuk mencari ilmu.
bersambung
__ADS_1