Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Coba lagi


__ADS_3

Akhirnya Marissa menyerah, tangan kokoh Bima tidak sebanding dengan kekuatannya. Dan lagi pula bukankah itu yang diinginkannya, ingin selalu bersama Bima, entah bawaan hamil atau memang ia sudah tidak mau berpisah dengan Bima.


Detik, menit, dan jam berlalu begitu saja, tidak disadari akhirnya semalaman Bima dan Marissa tidur dengan posisi saling memeluk.


Bima tersenyum memandang sosok cantik yang masih terlelap tepat di sampingnya. Dengan leluasa ia memandangi wajah cantik perempuan yang dianggapnya sedikit narsis, dan bodoh, itu dulu.


Dan sekarang justru perasaannya berbalik seratus delapan puluh derajat, entah kapan rasa cinta tumbuh perlahan di hatinya.


Dipandangnya perut Marissa yang sudah sedikit gendut, ya..kandungannya sudah masuk bulan keempat. Tangannya terulur mengelus perut itu, perasaan haru campur bahagia menyatu dalam dadanya.


Tidur lelap Marissa terganggu ketika ia merasakan perutnya dielus seseorang.


"Morning." Bima langsung mengecup pipi Marissa setelah ia membuka matanya.


Mata Marissa melebar melihat Bima menatapnya dengan posisi yang begitu dekat.


"Hm. Morning. Semalam kau mabuk. A.aku.."


Bima menarik tubuh Marissa ke pelukkannya.


"Nanti saja bicaranya." Bima langsung meletakkan bibirnya di bibir ranum milik Marissa.

__ADS_1


Lima menit berlalu ciuman itu akhirnya berakhir, Marissa hanya diam dan menikmati ciuman yang dilakukan Bima.


"Sekarang ceritakan mengapa kau disini."


"Aku kabur." Bima terkejut mendengar pengakuan Marissa yang begitu gamblang.


"Kabur?" Bima mengulangi perkataan Marissa dan dilihatnya anggukan kepalanya.


"Kau memang selalu membuat suprise. Kau terlalu nekat." Bima menarik hidung mancung milik Marissa.


"Bim.."


"Kita harus segera pergi dari sini. Sebelum papa menyadari kepergianku dari rumah."


"Dan kita harus menikah dulu nona. Kau mau aku dijebloskan ke penjara karena melarikan anak perempuan orang lain?" ucap Bima.


"Terserah kamu saja. Aku sudah siap kok menikah denganmu." dengan malu-malu Marissa menjawab pernyataan Bima.


Bima mengangkat kepala Marissa kemudian ia meletakkan tangannya dicuruk lehernya, ia menatap wanita yang telah mengisi relung hatinya itu.


"Love You." ucap Bima sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening Marissa.

__ADS_1


"Kita coba bicara baik-baik kepada papamu ya. Kita akan datang kepadanya. Restu orangtua rezeki loh buat anak-anaknya."


"Jangan Bim...Maksudku...Jangan sekarang. Papa pasti akan mengusirmu lagi. Pengawalnya akan mengurung aku nantinya."


"Bagaimana kalau kita coba sekali lagi. Siapa tahu hatinya luluh." ucap Bima meyakinkan Marissa.


"Hm. Baiklah. Kita coba datang kepada papa." Marissa merasa usul Bima ada baiknya juga.


Sementara dikediaman lain, Hadi sama sekali tidak mengetahui kalau putrinya sudah minggat malam tadi. Ia berpikir Marissa dalam kondisi yang tidak mau diganggu karena sedang sedih atau mungkin kecewa juga.


Adapun maksud Hadi menolak pengakuan Bima untuk menguji sampai dimana keseriusan laki-laki itu untuk menjadikan putri satu-satunya sebagai istri.


"Mengapa ia belum keluar dari kamarnya. Apakah ia sudah makan, ia sedang hamil seksrang." Hadi berbicara kepada istrinya.


Sejak kemarin istri Hadi sebenarnya tidak setuju dengan keputusan suaminya itu, menolak Bima sama saja menyakiti perasaan Marissa. Tetapi karena diabaikan akhirnya ia diam saja, sebagai bentuk protes ketidaksetujuannya atas keputusan Hadi.


"Aku tidak tahu."istri Hadi menjawab ketus.


Hadi menarik nafas berat, jauh dalam lubuk hatinya berharap putrinya itu bahagia dalam pernikahannya, itulah makanya ia perlu melihat bibit, bobot dan bebet calon pendamping hidupnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2