Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Temani Aku


__ADS_3

Wajah Silvi semakin kesal bukannya menyuruhnya kerja, Roi malah mendiamkan Silvi yang sedari tadi duduk di sofa yang berhadapan dengan meja kerjanya.


" Kak Roi. Kenapa kau belum memberitahuku dimana aku harus bekerja."


Roi masih sibuk dengan beberapa file yang menumpuk di mejanya. Ia tidak menjawab perkataan Silvi.


Argh..Silvi semakin kesal.


" Aku pulang saja kalau begitu." Silvi berdiri dari duduknya. Berjalan ke pintu untuk keluar dari ruangan Roi.


" Duduklah ! Aku masih sibuk. Setelah makan siang nanti kau baru ke tempatmu bekerja." Roi berusaha lembut berbicara kepada Silvi.


Silvi menghentikan kakinya. Menarik nafas kemudian membuangnya dengan kasar. Ia berbalik menatap Roi dengan wajah yang tambah kesal.


Roi tersenyum ketika Silvi melototkan matanya tanda ia sedang marah.


" Apa kau tidak ingin menemani tunanganmu ini sebentar saja." Roi berjalan mendekat kepada Silvi.


" Dari tadi kau tak memedulikanku." jawab Silvi asal.


" O, ya. Aku sangat memperhatikanmu. Lihat ! Adnan menyuruhmu kemari itu karena aku care kepadamu. "


" Apa? Bukankah aku memang harus kerja ? Seharusnya tidak perlu seperti itu, tinggal kau katakan saja aku dibagian mana, setelah itu kau tak perlu menyuruh Adnan mencariku lagi, atau aku sangat muak melihat tingkahmu dengan perempuan norak itu di ruangan ini." Jelas Silvi dengan sedikit emosi


" Perempuan norak ? Ester maksudmu. Dia sekretarisku Silvi."

__ADS_1


" Ahh..aku tak peduli dengan dia. Cepat katakan aku kerja dimana, kalau tidak aku akan pulang saja." Silvi berdiri kembali dari duduknya, diambilnya tasnya yang terletak di meja dan bersiap untuk pergi.


" Oke. Baiklah ! Baiklah. Kau suka di bagian mana ?" Roi memberikan penawaran.


Arghh..Silvi jadi ingat pertemuannya dengan Rianti sayangnya ia tidak tahu Rianti di bagisn mana, paling tidak ia mempunyai teman yang bisa untuk bertanya.


" Hei !" Roi melambai - lambaikan tangannya tepat di hadapan Silvi. " Melamun."


" E..e..hmm. Terserah kau saja mau di bagian mana." jawab Silvi sedikit gagu.


" Kalau begitu kau jadi asistenku saja. Kau bekerja di ruangan ini, nanti Adnan akan membereskannya."


" Bukannya Adnan sudah ada asistenmu.."


" Untuk perusahaan sebesar ini aku memerlukan asisten lebih dari satu, dan kau jangan komentar terus apalagi menolak." Roi memotong pembicaraan Silvi.


" Temani aku." jawab Roi


Wajah Silvi seketika memerah. Hatinya sangat senang. Roi memang kelihatan kaku dalam hal perempuan, tapi bagiku tidak, hanya sikap ketus dan dinginnya yang kadang-kadang membuatku sebel.


tok..tok..


" Masuk. "


" Tuan Roi, makan siang tuan sudah di pesankan, nanti akan diantar sekitar pukul 12." suara Ester membuat Silvi kesal.

__ADS_1


" Baiklah. Terima kasih Ester. Sekarang kau boleh kembali bekerja."


Ester berbalik dari hadapan Roi, ia melihat Silvi yang duduk di sofa dengan pandangan tidak mengenakkan.


Silvi hanya memandang sekilas. Ia tahu pasti sekarang perempuan itu bertanya-tanya dalam hatinya, kira-kira siapa aku. Pikiran Silvi jadi terpaku kepada Ester, ia melihat sepertinya ada maksud tidak baik pada perempuan itu.


" Silvi." Roi memanggil Silvi. " kesini." Roi memberi isyarat dengan tangannya agar Silvi mendekat kepadanya.


" Hmm. Ada apa." ucap Silvi yang sudah berdiri di samping Roi.


Roi menarik tangannya agar Silvi berdiri lebih dekat lagi. Kini sambil duduk Roi merangkul pinggang Siivi kemudian meletakkan kepalanya di bagian perut Silvi.


" Hmm. Apa-apaan ini. ke..na..pa seperti ini ?"


" Diamlah. Aku tunanganmu. Kita tidak berbuat sesuatu yang salah. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini. "


" Tapi..ta...pi.."


" Sssttt." Roi meletakkan tangannya di bibir Silvi pertanda ia tak ingin mendengar sanggahan lagi.


Lima menit kemudian Roi melepaskan tangannya dari pinggang Silvi.


" Terima kasih. Meski hanya sebentar cukup membuat pikiranku tenang." ucap Roi.


Silvi masih berdiri dengan situasi hati yang tak menentu. Jantungnya ikut berlari dengan kencang ketika Roi memeluknya seperti tadi.

__ADS_1


Ah ! Ada apa denganku, mungkinkah aku sedang jatuh cinta padanya. Tapi sejak kapan, Aku masih mencintai Edi.


Bersambung


__ADS_2