
Hari ini Togar menggantikan Roi di perusahaan. Banyaknya pekerjaan yang terbengkalai penyebabnya adalah Roi mengalami cidera di kepalanya, ia tidak dapat bekerja terlalu lama, sebab rasa sakit di kepalanya sering muncul dengan tiba-tiba.
Adnan dan Ester selalu mendampingi Togar di kantor Roi, sebab ada beberapa file yang harus dijelaskan terlebih dahulu, sebelum Togar menandatanganinya.
" Tuan. Sudah waktunya makan siang. Apakah tuan ingin saya pesankan makanan ?" Tanya Ester yang melihat Togar masih tenggelam dalam pekerjaannya.
" Tidak perlu. Saya sudah ada janji dengan seseorang." ucap Togar.
" Baiklah ! Saya permisi dulu." Ester meninggalkan Togar di ruang kerjanya.
Baru saja Ester memegang hendel pintu, seseorang telah membukanya dari luar.
" Hmm. Maaf." ucap seseorang dari balik pintu.
Ester menganggukan kepalanya dan meninggalkan Indah.
Togar mendengar suara Indah yang sedang berbicara dengan Estet, ia berdiri dan menyambut wanitanya itu dengan senyum lebar di wajahnya.
" Selamat siang." ucap Indah menyapa Togar yang tersenyum padanya.
Togar mendekat dan langsung merangkul pinggang kekasihnya.
Cup...satu kecupan mesra diberikan Togar pada bibir Indah.
" Apa kita akan ke rumah sakit sekarang ?" tanya Indah, ia melihat Togar masih bergelut dengan dokumen perusahaan waktu ia datang tadi.
" Hmm. Setelah makan siang. Tunggu sebentar !" Togar melepaskan rangkulannya dari pinggang Indah, kemudian membereskan file-file dan dimasukkannya ke dalam rak buku.
" Ayo ! " Togar menggandeng tangan Indah.Mereka akan makan siang, setelah itu mereka akan menjenguk Roi di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah memberitahukan Adnan, Togar dan Indah meninggalkan perusahaan.
*
*
Antonio dan Michel masih membahas tentang rencana selanjutnya, bukti-bukti yang mereka dapatkan membuktikan bahwa Radit hanyalah sebagai korban. Ada orang lain yang telah merencanakan untuk mencelakai Roi. Entah siapa, sampai saat ini belum bisa ditemukan pelakunya.
Michel memerintahkan pengawalnya untuk memeriksa kembali rumah yang ditunjukkan Radit kemarin, tidak disangka para pengawal Michel yang memata-matai lokasi itu mendapat informasi yang sangat penting dari penduduk setempat.
" Jadi si brengsek itu masih disana. Bawakan dia malam ini kehadapanku !" Michel menggeram mendengar bahwa orang yang mencelakai anaknya lolos dari tangkapanya kemarin.
" Kali ini jangan sampai lolos ! " perintah Michel kepada Antonio.
" Siap, tuan." Antonio langsung mengatur anak buahnya untuk mengawasi pergerakkan target mereka.
**
Jemari itu mengusap lembut wajah Silvi yang tertidur di sebelahnya, ditatapnya wajah cantik yang sedang terlelap.
Silvi dapat merasakan ada yang menyentuh rambutnya, dengan pelan ia membuka sedikit demi sedikit matanya, seperti bermimpi, Silvi mengangkat wajahnya, ia melihat Roi sedang menatapnya, di ambilnya tangan Roi yang berada di kepalanya, kemudian dikecupnya pelan.
" Kau sudah sadar ?" Roi hanya diam menatap manik hitam milik istrinya, yang menyiratkan rasa ngantuk dan lelah, Roi terharu melihat istrinya.
" Roi ! Aku akan memanggilkan dokter." Silvi ingin beranjak untuk memanggil dokter jaga, tetapi Roi sudah lebih dulu menarik tangannya, Silvi jatuh di pelukan suaminya.
Roi mendekap erat istrinya, dengan penuh cinta, diciumnya pucuk kepala Silvi.
Silvi berusaha menjauhkan dirinya untuk memberi jarak kepada Roi, ia khawatir akan keadaan Roi yang masih terbaring lemah. Roi tidak membiarkan Silvi menjauh darinya, kedua tangannya menangkup pipi Silvi, ditatapnya wajah Silvi dengan seksama, Cup. satu kecupan mendarat di kening Silvi.
__ADS_1
" Maafkan Aku."
Setetes air jatuh begitu saja dari pelupuk mata Silvi, ia tidak dapat menahan lagi, hati dan pikirannya yang sudah lama menderita karena keadaan Roi.
" Roi." Silvi memeluk erat tubuh Roi, tangisnya pecah sudah, tangis yang menunjukkan perasaan sedih karena kejadian yang dialami Roi, juga rasa bahagia karena Roi sudah sadar.
" Apa dia sehat disini." Roi mengelus pelan perut Silvi yang sudah mulai menggendut. Sambil menghapus air mata Silvi, Roi berusaha menenangkan istrinya.
" Sepertinya, sudah lama aku tidak menyapanya." Silvi heran dengan apa yang dikatakan Roi barusan.
Apa sekarang ia sudah ingat semuanya. Apakah Roi sudah sembuh hati Silvi bertanya-tanya.
" Roi. Kau sudah mengingat siapa aku ?"
" What ! Tentu saja aku ingat. Kau Silvi, istriku. Kenapa kau bertanya seperti itu ?" pertanyaan Silvi membuat Roi bingung.
" Kau...kau...ingat aku sedang mengandung ?"
" Oh. God ! Pertanyaan seperti apa itu. Aku yang membuatnya disana. Tentu saja aku tahu." kekeh Roi merasa lucu dengan ucapan Silvi
" Dan...."
" Stop ! Jangan bertanya lagi, sayang ! Pertanyaanmu membuatku bingung." belum selesai berbicara Roi sudah memotong ucapan Silvi.
Roi menarik kembali tubuh istrinya, merengkuhnya dengan erat, seakan-akan takut kehilangan. Silvi membalas pelukkan Roi, kini hatinya berbunga-bunga, meskipun dokter belum memberitahukan hasil pemeriksaan Roi, nalurinya berkata Roi sudah sembuh.
😃😃
bersambung
__ADS_1