
Silvi masih duduk dengan cuek ketika Roi pergi meninggalkannya, dan Ester sekretarisnya itu selalu saja lengket kemanapun Roi pergi.
*Mengapa aku jadi bodoh begini, bukannya Roi itu tunanganku, kenapa pula Ester yang selalu dekat dengannya
Arghhh..apa yang kupikirkan , apa aku sedang cemburu, Oh..no*...Silvi menggeleng- gelengkan kepalanya, lebih baik aku selesaikan pekerjaanku, lebih cepat lebih awal aku pergi dari ruangan ini, batin Silvi
Setelah lebih tiga jam sendiri, Silvi asyik dengan beberapa pekerjaannya. Ia tidak menyadari sedari tadi Adnan memperhatikannya.
" Adnan." ucap Silvi, ia baru saja melihat sosok Adnan yang berdiri di depan pintu dengan tatapannya yang dingin.
" Ntah dari mana kau, aku lelah melihat semua pekerjaan ini. " lanjut Silvi dengan muka masem
" Aku mendampingi tuan Roi meeting, kalau kau sudah lelah, istrahatlah dulu, atau mau aku traktir makan siang ? "
" Kau sedang menyogokku. Aku masih marah padamu, kenapa kau nga kasih kabar dari pagi."
" Eii..nona Silvi, atasan kita Roi, perintahnya lebih utama, tak usah kuberitahu seharusnya kamu ngerti dan kerjakan saja tugasmu."
" Setidaknya kau masih menganggapku rekan kerjamu." Silvi membereskan kertas-kertas yang baru saja selesai di printnya, ia masih mode marah.
" Oke...oke...aku salah. Tapi setidaknya aku ingin mengajakmu makan siang, sebagai permintaan maaf, bisakah kita menjadi teman ?" Adnan mengacungkan jari kelingkingnya tepat dihadapan muka Silvi.
Silvi tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya di jari Adnan.
__ADS_1
" Kita teman." lalu mereka berdua tertawa lebar
" Sedang apa kalian ? Aku menggaji orang untuk bekerja." Suara bariton itu membuat kedua orang dihadapannya terkejut.
" Tuan Roi." Adnan membungkukkan sedikit badannya memberi hormat, Silvi menatap Roi dengan sedikit malu.
" Keluar Adnan. Aku ingin bicara dengan Silvi." suara Roi membuat Adnan dan Silvi sedikit ketakutan
Silvi masih menatap Roi dengan pandangan yang menginterogasi, kira-kira apa yang akan dilakukannya batin Silvi.
" Kau menyukainya ? "
" Siapa ? "
" Apa ketawa dilarang di perusahaan ini ? Aku tidak melakukan sesuatu yang tabu. " Silvi malas bertatapan dengan Roi. Ia kembali duduk di kursi kerjanya.
Silvi mengumpulkan file yang di printnya tadi kemudian dimasukkan ke maaf, ia berjalan menuju meja kerja Roi.
" Ini laporan hari ini." Silvi meletakkan maf biru yang dipegangnya di meja Roi.
" Besok hari libur kerja, aku mau nginap di rumah opung Robert. Nanti tulang David menjemputku sepulang kerja" lanjut Silvi kemudian kembali ke meja kerjanya membereskan file-file yang akan menjadi dokumentasi.
" Malam ini aku ingin pulang ke rumah. Batalkan saja kerumah opung Robert. Lain kali kita pergi bersama." ucap Roi sambil membubuhkan tanda tangan di laporan yang diserahkan Silvi.
__ADS_1
" Aku sudah janjian dengan tulang David, Aku tidak bisa membatalkan."
" Silvi." tegur Roi dengan nada kesal.
" Aku ingin bicara denganmu, dan kita akan bicara di rumah." lanjutnya kemudian
" Katakan saja disini, nanti atau sekarang sama saja, tidak ada orang lain. O, ya aku akan pindah ke perusahaan papa, besok aku mau lihat-lihat dulu ke sana."
" Kenapa kau ingin kerja di sana ?"
" Tidak ada alasan khusus, bagiku asal tidak diam dan bengong saja."
" Bukankah disini kau juga sudah bekerja?"
" Argh. Kurasa disana lebih nyaman, lagi pula aku ngak mau terus-terusan mengganggu kalian."
" Siapa maksudmu, Ester ?"
" Nga usah bertanya kalau sudah tahu jawabannya." Silvi kembali duduk di kursinya, dan mulai menyelesaikan pekerjaannya.
Roi masih menatapnya dengan kesal. Ia mengetuk-ngetukkan pulpen yang dipegangnya ke meja, sambil berpikir mungkinkah Silvi cemburu, sehingga ia memilih pindah bekerja, bagaimana kalau tidak, hubunganku dengan dia akan semakin jauh, Roi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Bersambung
__ADS_1