
Resepsi pernikahan Roi dan Silvi sudah selesai, seluruh keluarga sangat lega, upacara pernikahan serta serentetan adat batak sudah terlaksana dengan baik.
Leo dan Karissa tinggal beberapa hari di rumah anaknya Morin, sebenarnya mereka ingin langsung pulang ke Samosir, dikarenakan sudah beberapa hari mereka tinggal di Jakarta yang notabene kota yang bersuhu panas membuat kedua orangtua itu tidak betah berlama-lama disana, tetapi Morin dan Uli meminta agar Leo dan Karissa tinggal beberapa hari di Medan.
Meskipun Rumah Michel besar dan megah, serta dilengkapi dengan pendingin ruangan yang canggih, Leo dan Krissa meminta segera pulang karena mereka lebih nyaman tinggal di daerah sejuk, segar, dan jauh dari keramaian.
Malam ini sama seperti malam sebelumnya, sesudah pulang kerja Togar langsung ke rumah Morin.
" Besok kami akan pulang ke Samosir." ucap Leo yang duduk sambil minum kopi dengan Togar.
" Baik tu...ayah."
Sejenak Leo menatap Togar, ia tersenyum melihat Togar yang masih saja kaku menyebutnya ayah.
" Togar. Aku senang kau memanggilku ayah. Kau bukan lagi orang lain bagiku. Kau sudah seperti anakku sendiri. Jangan sungkan seperti itu. Dari kecil aku merawatmu, kasih sayang kami tak pernah berubah." Terang Leo panjang lebar dan menatap Togar penuh kasih.
__ADS_1
" Aku berterima kasih ayah. Aku tak dapat membalas kebaikkan yang kalian berikan." ucap Togar sangat terharu, bahkan tanpa disadari setitik embun dari matanya turun begitu saja.
Leo menggelengkan kepalanya, ia berjalan mendekati Togar, ia menepuk-nepuk pundak Togar dengan pelan.
" Istirahatlah ! Besok kita berangkat pagi." Leo melangkah meninggalkan Togar yang masih duduk tertunduk di kursinya.
#####
Hari masih subuh Togar sudah siap-siap dengan tampilan santainya, kaos oblong, jeans, serta jaket kulitnya membuat Togar kelihatan segar dan sangat tampan.
Togar berjalan ke arah dapur, membuatkan sarapan untuk dirinya sendiri, hidupnya sudah terlatih untuk mandiri sejak masih kecil, jadi memasak bukan hal yang asing baginya.
" Hmm...maaf apa perlu bantuan." Togar berbalik menatap seseorang yang menyapanya.
" Tidak. Aku sudah terbiasa melakukannya." Jawab Togar kemudian ia berbalik kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
__ADS_1
" Bisa kita bicara sebentar ?" Togar tahu Indah masih berada di belakangnya. Ia menarik nafasnya perlahan. Tanpa menoleh ke belakang ia menjawab pertanyaan Indah.
" Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Mari kita akhiri semuanya." Togar mengigit bibirnya menahan rasa sakit di dadanya, sebenarnya ia tak ingin mengucapkan kalimat itu kepada Indah.
Tetapi setelah ia memikirkannya berulang-ulang, Togar sampai pada keputusan untuk mengakhiri hubungan antara dia dan Indah, dengan alasan agar tidak menyakiti perasaan Indah, Togar siap melepaskan orang yang dicintainya itu.
" Itu keputusanmu ? Baiklah ! Aku rasa memang sebaiknya kita tidak perlu melanjutkan hubungan kita. Mari kita berpisah." ucap Indah kemudian ia berlari meninggalkan Togar yang masih membelakanginya.
Togar mengepal kuat kedua tangannya, ia menarik nafas perlahan, berusaha bersikap setenang mungkin agar masalah ia dan Indah tidak diketahui orang lain.
Ia memindahkan roti yang baru saja diangkatnya dari oven, menaruhnya diatas piring, kemudian ia memakannya perlahan.
Sementara Indah berlari ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya begitu saja di ranjang empuknya, ia sudah tidak tahan lagi untuk tidak menangis, baru hitungan hari Togar mengutarakan cintanya dan dengan sangat mudah ia meminta Indah mengakhiri cinta diantara mereka.
bersambung
__ADS_1