
Sehabis makan siang, tidak ada pembicaraan yang berarti antara Togar dan Indah, kedua-duanya enggan berbicara satu dengan yang lain.
Togar yang merasa bersalah karena terlambat hanya diam memandang Indah yang siap-siap untuk beranjak dari tempat duduknya.
Togar cepat membayar bill tagihan untuk makan siang mereka, Ia menyusul Indah yang sudah jalan duluan di depannya.
" Indah, aku akan mengantarmu." kini Togar sudah berjalan sejajar dengan Indah.
" Hmm." jawab Indah singkat
" Kenapa ? kau masih marah ?"
" Nggak. aku hanya sedikit malas." ucap Indah asal
Indah memberi kunci mobil kepada Togar. Ia masuk ke mobil setelah Togar membukakan pintu untuknya. Sekarang Togar sudah duduk di belakang setir, ia masih memandang Indah dengan rasa bersalah.
" Indah." Togar memanggil dengan suara pelan
Indah menoleh kesamping, ia mendengar suara Togar memanggilnya, Togar menatap manik hitam di depannya, ia melihat ada kekecewaan disana.
Togar menangkup kedua belah pipinya Indah.
Cup..
__ADS_1
Indah terkejut, melihat Togar yang tiba-tiba menciumnya.
" Jangan seperti ini, aku merasa bersalah." ucap Togar setelah mengecup bibir manis Indah.
" A..aku tidak marah, aku.."
Togar mencium kembali bibir Indah, ingin rasanya ia menumpahkan rasa sayangnya kepada Indah, tapi ia masih sangat kaku dan kurang berpengalaman.
Ciuman diantara Togar dan Indah semakin dalam, oh..inikah rasanya mencium bibir orang yang kita cintai guman Togar dalam hatinya.
Indah semakìn larut dalam ciuman yang diberikan Togar, tanpa ia sadari tangannya melingkar di pinggang Togar.
Togar semakin melambung dengan cintanya karena Indah merespon ciumannya dengan baik.
Togar mengusap bibir wanitanya itu, kemudian menarik Indah kepelukannya.
" Aku menyayangimu." bisik Togar di telinga Indah.
" Aku yang seharusnya minta maaf, seharusnya aku tidak perlu menganggu pekerjaanmu." ucap Indah masih dalam dekapan Togar.
" Aku akan selalu ada bila kau butuhkan, maafkan aku harus membagi perhatianku dengan pekerjaanku."
Indah tersenyum ia membenamkan wajahnya di dada Togar, ntah kenapa rasa cintanya semakin bertambah tambah dari hari ke hari kepada Tògar.
__ADS_1
Togar melepas Pelukkannya, ia menarik hidung macung Indah, ia menggoda Indah.
" Ayo pakai sabuk pengamanmu ! Kita pulang sekarang." ucap Togar tersenyum
\=\=\=\=\=\=\=\=
Meta adalah anak tante Riana, sahabat mamih Nita. Terlahir dari keluarga yang berlatar belakang pengusaha membuat Meta tumbuh menjadi sosok yang angkuh.
Tapi kedua orang tua Meta adalah orang yang baik dan bersahabat, tidak ada sedikitpun rasa angkuh dalam diri kedua orang tua itu.
Riana dan Nita pernah ingin menjodohkan putra putrinya itu, kala itu Roi masih di Jerman, ntah mengapa Nita punya niat untuk menjodohkan Roi dengan putri sahanatnya itu, syukurlah waktu itu Roi menolak dengan alasan belum mengenal dengan dekat.
Serupa dengan Meta, Ia juga menolak dengan keras keinginan mamanya Riana, ia tidak mau orang tua ikut campur dalam urusan jodohnya.
Meski demikian silaturahmi Riana dan Nita masih terus berjalan dengan baik.
Lain halnya dengan Meta sejak Riana memberitahu niat hatinya untuk menjodohkan putrinya dengan Roi putra Nita sahabatnya, ia langsung menjaga jarak.
Roi yang hanya mengenal Meta lewat foto yang dikirimkan Nita, tidak pernah ambil pusing, bahkan ia tidak berharap niat mamihnya terjadi, bagaimanapun Roi tidak mau dijodohkan dengan wanita yang tidak dikenalnya apalagi tidak dicintainya.
Saat ini, setelah Meta mengetahui bahwa Roi adalah pengusaha muda yang sukses serta pewaris perusahaan besar Michell grup, kelihatannya ia mulai mengubah pikirannya, sudah hampir setahun ia berusaha mengenal dekat pribadi Roi, tapi sayang semakin hari sikap Roi semakin tertutup untuk yang namanya wanita.
Bersambung
__ADS_1