
" Jadi, dimana tempatnya ?" Antonio yang memegang setir bertanya kepada Radit yang duduk disampingnya.
" Ya. Itu tuan. Rumah bercat putih yang sebelah kanan." tunjuk Radit .
Antonio memperhatikan rumah yang dimaksud Radit. Ia memberhentikan mobilnya beberapa meter dari rumah tersebut, ia memandang rumah yang tampak sepi, tidak ada pergerakkan, sepertinya tidak ada yang tinggal di tempat itu.
" Kalau kau membohongiku. Habislah kau! " ucap Antonio memperingatkan Radit.
" Turun."
Dengan tangan yang terikat Radit turun dari mobil. Ditatapnya rumah itu. Sepi. Lingkungan perumahan itu juga tampak sepi. Jarang sekali orang lalu lalang.
Antonio menarik tangan Radit, ia membawa Radit mendekat ke rumah yang tempatnya paling ujung diantara rumah-rumah besar yang berderet.
Michel dan beberapa pengawalnya mengawasi dari tempat yang tidak begitu jauh. Seluruh pengawalnya bersiaga penuh mengantisipasi perlawanan dari pihak lawan.
Dengan langkah pelan dan berhati-hati Antonio menyelusuri bagian-bagian rumah, layaknya bagai detektif ia mengintip dari sela-sela jendela yang tertutup gorden.
" Tidak ada orang " gumannya dalam hati.
Satu...dua...tiga..baraaaakkkk
Ditendangnya pintu bagian depan dengan sekuat tenaga. Pintu itu roboh dan terbuka begitu saja. Ia mulai memeriksa bagian dalam rumah, ditariknya sebuah benda dari sisi celana, Pistol !
Dengan penuh waspada diperiksanya seluruh bagian rumah tersebut. Kosong ! Penghuninya tidak ada ! Ia melangkah keluar untuk mendapatkan Radit. Dengan kesal ditatapnya pria bodoh itu.
Ditariknya kerah kemeja Radit dengan kasar.
" Rumah ini kasong, bodoh ! Kau mempermainkan kami ?" geram Antonio yang membuat Radit gemetar karena takut.
" Tidak ! Memang betul tempatnya disini. Aku masih ingat. Betul disini." dengan percaya diri Radit meyakinkan Antonio.
__ADS_1
Setelah melepaskan kemeja Radit, Antonio memberi tanda kepada pengawal yang berjaga disekitar Michel. Dengan sigap Para pengawal itu mendampingi Michel melangkah mendekat kepada Antonio dan Radit.
" Rumah ini kosong, tuan." lapor Antonio.
Michel menatap Radit penuh curiga. Matanya menatap dengan tajam. Aura kekejaman seorang Michel terpancar disana. Ia mengalihkan pandangannya kepada Antonio yang masih dalam posisi siaga dengan pistol ditangannya.
" Sepertinya rumah ini sudah lama dikosongkan, tuan. Bisik Antonio kepada Michel.
" Semuanya sudah kau periksa dengan rapi ?" Michel memastikan pekerjaan Antonio dilakukan dengan teliti.
Antonio menganggukkan kepalanya.
" Bawa dia kembali ke gudang ! Sampai kita menemukan siapa pelakunya, jaga dia dengan baik !" Mata Michel memandang sejenak lingkungan disekitar rumah. Tampak sepi.
Ia melangkah meninggalkan runah tersebut dan langsung diikutin oleh para pengawalnya.
***
Sehari setelah Radit lari dari rumah itu, Arnold memutuskan untuk berpindah rumah. Sama seperti perkiraannya Radit akan datang mencarinya kesana.
" Awas kau ! Dasar bodoh ! " kembali ia tertawa mengingat kebodohan Radit dan orang-orang yang datang bersama dengannya.
***
Hari ini Togar mengikuti meeting dengan beberapa petinggi di perusahaan Chan. Roi juga hadir dalam pertemuan itu.
" Dokumen yang tuan minta sudah saya siapkan." Adnan memberikan maf berwarna putih bening kepada Roi, maf itu berisikan dokumen perkembangan perusahaan Michel Chan yang dibawa kepemimpinan Roi.
Roi mulai memeriksa satu persatu laporan dari semua perusahaan cabang. Ada kejanggalan dari laporan keuangan milik perusahaan PT Dosroha.
Roi meletakkan maf yang berisikan dokumen perusahaan itu di atas meja. Setelah memberikan beberapa masukan dan motivasi kepada semua yang hadir, Roi mengakhiri meeting.
__ADS_1
" Togar. Ikut aku ke ruanganku !" ucap Roi kepada Togar.
Togar mengangguk dan mengikuti Roi ke ruangannya.
" Apa kau tidak melihat ada kejanggalan di laporan tahunan perusahaan PT. Dosroha."
" Sudah. Aku sedang mengawasi nona Mona dan tuan Arnold. Sedikit lagi aku akan mendapatkan bukti. Tidak akan kubiarkan mereka membawa satu sen pun uang perusahaan kita. Dan kupastikan mereka keluar dengan tangan kosong." jelas Togar kepada Roi.
" Argh..." Tiba-tiba Roi merasakan sakit yang begitu dahsyat di kepalanya. Sambil meringis ia memegang kepalanya yang seperti mau pecah.
" Tuan Roi." Dengan cepat Togar memegang tubuh Roi yang hampir ambruk di lantai. Di pencetnya tombol merah yang dipasang di meja kerja Roi.
" Ada apa ?"
" Cepat siapkan mobil !"
Togar memapah tubuh Roi ke mobil. Adnan sudah siap dibelakang Setir.
" Ayo. Cepat ke rumah sakit !" ucap Togar.
Sepuluh menit kemudian Roi sudah berada di ruangan dokter Tari. Dokter bagian syaraf yang menangani terapi Roi. Syukurlah ! Tidak ada yang serius dengan Roi
Tidak lama kemudian Michel, Nita, Silvi dan Indah menyusul Roi ke rumah sakit. Mereka diberitahu oleh Ester.
" Bagaimana keadaan putra kami ?" Michel menatap Roi yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
" Tidak ada yang serius, tuan. Itu pertada kesehatan tuan Roi semakin membaik. Dalam waktu dekat, ia akan segera sembuh, normal kembali. Ingatannya akan pulih." Jelas dokter Tari yang baru memeriksa keadaan Roi.
" Sayang. Kau harus sembuh! " ucap Silvi menggenggam tangan Roi.
Indah yang berdiri dibelakang Silvi turut sedih melihat keadaan Roi. Togar menghampirinya, menggenggam tangannya memberi kekuatan.
__ADS_1
Bersambung