
" Bawakan aku minuman lagi." Dengan langkah sempoyongan Meta berjalan menuju meja batender.
Edi yang sedang memberi penjelasan kepada pegawai yang baru bekerja malam itu merasa terganggu dengan suara wanita disampingnya yang berteriak meminta minuman lagi.
Edi mengalihkan pandangannya ke samping, dilihatnya seorang wanita yang tampilannya berantakan, berdiri dengan sempoyongan dan gelas kosong ditangannya.
Pemandangan seperti itu kerap kali dilihatnya bila sedang di club, setiap malam ada saja wanita yang berulah, membuat masalah dengan karyawan di tempat ia bekerja.
Edi memberi kode kepada batender agar tidak meladeni wanita yang sedang mabuk itu.
" Ujung-ujungnya kita yang repot." ucapnya pelan, kemudian meninggalkan wanita itu masih berteriak meminta minuman kepada batender.
" Kenapa kau belum mengisi gelasku. Kau tahu siapa aku ? Aku adalah Meta putri pemilik club ini. Kalau kau tidak memberikanku minum, kupastikan besok kau tidak bekerja di sini lagi." rancau Meta.
" Dasar ! Orang sedang mabuk omongannya suka kacau." guman Edi yang masih mendengar rancauan wanita yang sedang mabuk tadi.
" Berikan !" Meta mulai tidak sabar karena batender itu mengabaikannya, dengan marah di lemparnya semua botol-botol minuman dan gelas yang ada di atas meja. Seketika itu suasana menjadi kacau. Semua pengunjung berlarian menjauh dari asal keributan. Edi yang baru saja meninggalkan club bermaksud pulang ke apartemennya terpaksa kembali lagi.
" Ada apa disini ?" Edi memandang semua pecahan kaca yang berserakkan, seorang wanita berdiri yang merasa tidak bersalah berbalik untuk melihatnya.
__ADS_1
" Siapa kau ?" jawabnya dengan marah dan menantang.
Demi Tuhan Edi sangat terkejut karena wanita yang di depannya adalah orang yang dicarinya selama ini. Wanita yang telah mengambil keperjakaannya. Wanita yang ia bayar malam itu.
"Meta ! " bariton seseorang mendominasi tempat yang sudah kacau akibat ulah Meta.
" Tuan." Edi langsung menundukkan kepalanya, pria yang menyebut nama seseorang itu adalah pemilik club.
Arianto hanya menatap nanar putrinya yang telah mabuk, ia mengangkat bahu Meta kemudian menariknya dan membawanya pulang ke rumah.
" Bereskan semua kekacauan ini." ucap Arianto kepada Edi sambil berlalu dari tempat itu
*
*
" Aku memberimu kesempatan untuk menyerahkan diri ! Dalam hitungan ke tiga, keluar dari sana !" Antonio berteriak memberi peringatan kepada Arnold yang bersembunyi di dalam rumah.
" Satu...Dua...Tiga. Rupanya ia ingin menguji kesabaranku " Antonio semakin menggeram hatinya mulai panas karena Arnold masih terus menembaki mereka.
__ADS_1
Dengan lincah ia menaiki tembok yang menghubungkan rumah yang didiami Arnold dengan rumah sebelahnya. Ia memanjat agar bisa masuk dari atap rumah.
Dari cela-cela jendela yang berada di belakang rumah ia bisa melihat situasi di dalam rumah dengan jelas.
" Ada wanita disana." guman Antonio yang melihat seorang wanita duduk, menutupi telinganya dengan kedua tangannya di dalam sebuah kamar, wanita itu seperti ketakutan.
Ada teralis di setiap jendela yang membuat Antonio kesusahan untuk masuk, akhirnya Antonio mendobrak pintu belakang rumah tersebut. Tentu saja Arnold mendengarnya. Suara dobrakan pintu itu sangat keras membuat konsentrasinya pecah antara lawan yang di depan rumah atau di belakang rumah.
Sementara Mona semakin ketakutan, tanpa disadari tubuhnya menggigil mendengar tembakan yang dilepaskan Arnold. Suara tembakan itu bersahut-sahutan, dan tidak lama berselang suara pintu yang di dobrak sangat keras membuatnya semakin takut, jantungnya berpacu semakin cepat.
" Oh.God., Apa yang harus kulakukan ?" ucap Mona dalam takutnya. Ia ingin segera pergi jauh. Dia benci dengan kakaknya yang selalu menempatkannya disituasi sulit dan berbahaya.
Brak..
Mata Mona melotot melihat seorang pria dengan postur tinggi dan besar menendang paksa pintu kamarnya, dengan pistol di tangan yang diarahkan kepadanya.
" Kau salah satu dari mereka bukan ? Jangan bergerak ! Aku akan menembakmu bila kau tidak diam."
Ketakutan yang dirasakan Mona semakin bertambah, ia menutup mulutnya agar suara isakannya menahan rasa takut tidak terdengar oleh pria di depannya.
__ADS_1
" A...a..aku.." brak tubuh Mona ambruk karena pingsan. Antonio memeriksanya kemudian meninggalkan begitu saja, ia akan membereskan Arnold yang berada di lantai bawa sana.
Bersambung