
Roi membuka matanya, Ia baru sadar kalau dirinya berada di tempat yang asing, ia melemparkan selimut yang menutupi sebagian badannya. Matanya memandang kesana kesini memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Ia duduk di tepi ranjang tempat tidurnya, perlahan ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
Sial ! Ia ingat sekarang, Adnan mengajaknya meninjau proyek pembangunan hotel baru, setelah meninjau beberapa lokasi dan kondisi bangunan, Roi memutuskan untuk kembali ke kantornya, karena tak terasa pekerjaannya memakan waktu lumayan lama di proyek itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Sudah sore kita kembali ke kantor." ucap Roi sambil berjalan menuju tempat mobilnya di parkir.
" Ada beberapa file yang harus tuan cek dulu, surat penggajian karyawan lepas, butuh tanda tangan anda tuan, karena mereka menerima gaji mingguan." jelas Adnan
Roi membubuhkan tanda tangan di surat yang diserahkan Adnan. " copyannya segera berikan kepada Silvi." ucap Roi melanjutkan kembali langkahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Tuan ini kopimu " Ester yang sedari tadi menunggu di mobil, memberikan kopi yang baru dipesankannya lewat penjualan on line.
Roi mengeryitkan dahinya, kepalanya pusing, matanya mulai terasa berat.
Adnan dan Ester tersenyum, mereka sudah tahu apa yang akan mereka kerjakan.
Cepat-cepat Ester mengeluarkan ponselnya, jepret...jepret...Ester mengambil beberapa foto mesra dengan Roi.
__ADS_1
Dalam ketidaksadaran Roi, Ester dan Adnan tersenyum, perintah nyonya besar sudah dilaksanakan, kemudian tinggal mengirimkan foto foto itu ke Silvi dari nomor yang tak diketahui oleh Silvi.
Ting..terkirim sudah.
" Adnan pekerjaanku sudah beres, ntahlah apa yang terjadi kalau Roi mengetahui semuanya." ucap Ester sambil menjauh dari Roi.
" Nyonya besar di pihak kita, aku juga akan melindungimu." ucap Adnan.
" Maksudmu ?"
" Kita sama-sama bertanggung jawah atas hal ini, aku akan menjelaskan semuanya kepada tuan Roi."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seharian ia mengabaikan ponselnya sebab ia tahu Roi tak akan menghubunginya, Silvi harus berdamai dengan keadaan, nyatanya Ester lebih memiliki kesempatan untuk dekat dan bermesraan dengan pria yang sedang dirindukannya itu.
Jujur Silvi merindukan tatapan tajam dari Roi, tempramen yang turun naik, dan sikap nekad Roi.
Roi sering memberikan kejutan-kejutan kecil kepada Silvi, mulai dari menyatakan cintanya, memberikan kecupan, dan kadang memaksa Silvi untuk melakukan keinginannya. Meski demikian ada saja rasa ragu di hati Silvi, apakah Roi sungguh-sungguh mencintainya, bukan karena mereka masih ada hubungan keluarga.
Tak terasa hari sudah sore, Silvi bergegas merapikan file-file di mejanya, sebentar ia memeriksa ponsel yang tidak disentuhnya dari pagi tadi.
Alangkah terkejutnya ia melihat seorang yang tak dikenal mengirimkan foto mesra Roi dan Ester yang sedang tidur di mobil, kepala Ester ada di pundak Roi, kemudian kepala Roi berada di kening Ester, mereka begitu dekat dan terlihat sangat mesra.
__ADS_1
Silvi tak percaya, ia menutup mulutnya yang terbuka begitu saja karena begitu kaget. Ia tak menyangka Roi berbuat seperti itu, Tak terasa matanya mulai panas, air matanya jatuh begitu saja, dadanya sesak membayangkan Roi dan Ester disana.
tret...tret...ponsel Silvi bergetar, ia melihat nama yang tertera di ponselnya.
Nita, namboru.
" Ya namboru." Silvi menghapus air mata yang berjatuhan di pipinya.
" Kau masih kerja sayang, Namboru pulang malam nanti, makanlah, jangan menunggu kami ya."
" I..iya..namboru, aku secepatnya pulang."
" Kau baik-baik saja sayang, kenapa suaramu serak."
" Ngak..namboru, hanya sedikit ngantuk karena kelelahan"
" Oh....sayang, segeralah pulang, istrahat di rumah."
" Iya..namboru, aku siap-siap pulang sekarang."
Silvi menutup ponselnya.
Argh...ya..dia harus kuat menghadapi kenyataan ini, dari awal Silvi sudah menyadari kalau tidak ada cinta diantara mereka, Roi dan dia. Bila diteruskan hubungan ini ntah jadi bagaimana, tapi bila digagalkan Silvi tidak akan kuat melihat orang-orang yang disayanginya kecewa. Ya...bertahan itulah satu-satunya jalan.
__ADS_1
Bersambung