Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Aku membunuhmu


__ADS_3

" Bodoh ! Bukan seperti ini yang kumaksud ! Kerjamu tidak becus !" Arnold terus menghajar laki-laki yang dibayarnya untuk melakukan rencana jahatnya.


bruk...bruk...bruk


suara pukulan tangan Arnold yang menghantam pipi, perut, dan bagian tubuh yang lain pada pria yang mengecewakannya.


Mona yang sedari berdiri di balik pintu merasa penasaran dengan siapa kakaknya sedang marah.


" Seharusnya kau saja yang mati hari ini. Lihat ! Akibat kecerobohanmu masalah ini akan besar. Michel dan keluarganya tidak akan tinggal diam." teriaknya dengan kuat di telinga pria yang sudah tergeletak lemas di lantai akibat pukulan demi pukulan yang diberikannya.


" Shitt...Dasar bodoh semua." Arnold mengakhiri pukulannya, tubuhnya basah dengan keringat, wajahnya merah memancarkan kemarahan yang besar.


Rencana untuk melenyapkan seorang Roi gagal dilakukan oleh suruhan yang dibayarnya dengan harga mahal. Arnold merasa kerugiannya ganda, selain uangnya lenyap untuk membayar orang yang dianggapnya bodoh, jiwanya juga terancam, karena pada saat ini kepolisian dan orang-orang kepercayaan keluarga Chan sedang melakukan penyelidikan atas kasus kecelakaan Roi.


Arnold meninggalkan begitu saja laki-laki yang sedang tergeletak tak berdaya akibat dipukulinya.


" Oh...God. Apa yang terjadi dengan dia?" guman Mona dari balik daun pintu yang sedkit terbuka.


Dengan pelan dan rasa was-was Mona mendekati laki-laki yang tergolek tak berdaya itu. Mona menatap wajahnya yang hampir tidak kelihatan karena ditutupi oleh darah. Ia bisa memastikan itu adalah orang sewaan kakaknya untuk melakukan kejahatan.


" Untuk apa kau berdiri di situ, ha?" suara lemah lelaki itu sontak membuat Mona terkejut. Mona dengan cepat menjauh dari tubuh laki-laki itu, Hampir saja ia jatuh karena tak sengaja kakinya menginjak tetesan darah yang berceceran di lantai.


" Tolong aku." ucap laki-laki itu dengan suara pelan dan lemah. Tangannya yang penuh dengan darah terangkat memohon pertolongan.


Oh...God apa yang harus aku lakukan, aku tak mungkin menolongnya, bila kak Arnold mengetahui aku berada disini tamatlah riwayatku, apalagi bila aku menolongnya

__ADS_1


Mona menggelengkan kepalanya, ia berbalik ingin meninggalkan kamar dimana pria itu terbaring karena dipukuli Arnold.


" Tolong...tolong."


Mona berbalik memandang pria yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya itu.


Dengan alasan rasa kemanusiaan akhirnya Mona mendekat dan menolong pria itu.


" Maaf. A...aku...tak bisa mengangkatmu." ucap Mona yang sedari tadi mencoba memindahkan pria itu dari tempatnya. Ia bermaksud membantu pria itu bangkit agar dapat duduk di kursi.


Pria itu menatap Mona dengan pandangan memohon.


" A...aku i...ingin minum." Dengan cepat Mona mengambilkan air di gelas dan membantu pria itu minum.


" Perempuan bodoh ! Kau memang tak berguna ! " Arnold menarik Mona dengan kasar, amarahnya kini memuncak kembali.


" Kalau kau coba-coba membantunya, aku akan membunuhmu." ucap Arnold memberi peringatan.


" Cepat pergi !" dengan tubuh gemetar karena takut, Mona berlari meninggalkan kakaknya dan Pria itu.


####


" Untuk apa kau menjemputku. Aku bisa pulang sendiri. Lihat ! Aku bawa mobil." Indah menunjuk ke sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya.


Togar masih berdiri dengan santai, tanganya dilipat di dada, menatap Indah yang sedang marah.

__ADS_1


" Sudah selesai marahnya ?" Togar berjalan mendekati Indah yang sengaja mengambil jarak darinya.


" Papa Morin dan mama Uli sudah berangkat ke Jakarta. Roi kecelakaan, mungkin beberapa hari mereka akan tinggal disana, dan kau serta Rey dalam pengawasanku." ucap Togar menunjuk Indah dengan gayanya yang masih santai.


" Apa ? Kak Roi kecelakaan ?" Rupanya Indah belum mendapat kabar kecelakaan kakak iparnya itu.


Togar menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Indah


" Aku ingin ke Jakarta. Bagaimana dengan kakak Silvi ? ." Indah berjalan mendekati Togar. Dengan kedua tangannya ditariknya kemeja Togar memohon agar mengijinkannya pergi ke Jakarta menemui kakaknya.


Perasaan tidak tega melihat Indah yang memelas memohon kepadanya. Ditariknya tubuh Indah hingga jatuh dalam pelukkannya.


" Besok kita berangkat ke Jakarta. Beritahu kepada Rey ! Hari ini aku akan membereskan pekerjaanku." ucap Togar menatap Indah yang berharap padanya.


" Kau yang terbaik. A..a...hmm lupakan." kakinya melangkah kebelakang menyadari jarak mereka berdua yang terlalu dekat.


" Apa ?"


" Tidak. Aku hanya salah...hmm. Ya...salah ng..."


Belum selesai kalimat yang ingin diucapkan Indah, Togar sudah menarik tengkuk Indah dan kemudian mencium bibir Indah dengan lembut dan penuh cinta.


💗💗


bersambung

__ADS_1


__ADS_2