
Siang hari Mars mendatangi tempat Bima bekerja, ia ingin membicarakan permasalahan tentang Marissa, meskipun Mars dan Marissa tidak mempunyai hubungan apa-apa, Mars hanya merasa tidak tega melihat Marissa yang begitu tertekan, semua yang terjadi pada Marissa karena perbuatan Mars.
***
"Kau sedang mengandung. Berhenti minum alkhol dan merokok." Mars mencabut rokok yang bertengger di bibir Marissa kemudian menjauhkan botol dan gelas minuman dari hadapannya.
"Apa urusanmu, aku tidak peduli dengan kehamilan ini." malam itu Marissa marah kepada Mars karena sudah terlalu jauh mencampuri urusannya.
Begitulah sifat Marissa keras kepala dan ingin melakukan kemauannya sendiri, sejak pertunangannya gagal dengan Rey, waktunya dihabiskan dengan dugem.
"Ku antar kau pulang." Mars menarik tangan Marissa untuk keluar dari club. Ia memberi tahu kepada pelayannya bahwa ia akan pergi malam ini.
***
" Untuk apa lagi kau datang menemuiku. Aku sudah menjelaskan semuanya kepada wanita itu." Bima merasa terganggu Mars kembali mendatanginya.
"Aku memintamu untuk mengakuinya, Bima. Aku mengetahui semua yang terjadi antara kau dan Marissa malsm itu. Aku punya bukti. Anak yang di kandungnya adalah darah dagingmu."
"Keluar ! " Bima memukul meja dihadapannya ia marah karena Mars terkesan mengancamnya.
" Baiklah ! Maksud kedatanganku untuk memberitahumu. Aku akan melindungi Marissa dan siap menjadi ayah untuk anaknya." Mars berdiri dari tempat duduknya, ia meninggalkan ruangan Bima.
Bima menjatuhkan tubuhnya di kursi, pikirannya kalut dengan masalah yang dihadapinya akhir-akhir ini, Alina memutuskan hubungan pertunangan mereka datang lagi Marissa yang mengaku sedang mengandung anaknya.
"Maaf pak. Meeting akan dimulai setengah jam lagi." sekretaris Bima memberitahu kalau pertemuannya dengan staf dan dosen PEH akan segera dimulai.
"Baik. Siapkan semua berkas nya !" Bima merapikan jasnya yang sedikit berantakan.
__ADS_1
" Apa bapak baik-baik saja?" Sekretaris Bima sempat mendengar pertengkaran Bima dengan Mars tadi.
"Hmm." Bima melengos dan keluar dari ruangannya, tujuannya adalah ruangan meeting.
***
Setelah beberapa hari absen di perusahaannya, hari ini Marissa datang dengan semangat, sedikit demi sedikit ia mulai melupakan kejadian bodoh yang dialaminya bersama Bima.
"Selamat pagi, nona." Asisten Marissa menyapanya.
"Apa jadwalku hari ini, Bob ?" Bobi sang asisten langsung membuka tab yang sedari tadi di pegangnya, kemudian ia membacakan jadwal bossnya hari ini.
"Ada pameran perumahan di mall xx. Tuan besar menginginkan nona mengunjunginya." Marissa mengerutkan dahinya.
"Untuk apa papa menyuruhku ke sana ? Jangan katakan ia mau memulai usaha yang baru lagi. Aku akan kena dampaknya. Kalau bekerja terus aku akan menjadi perawan tua nanti." Marissa kesal dengan kedua orangtuanya terlalu over bekerja.
"Hmm. Proyek pembangunan perumahaan kita akan segera launching nona." Bobi mengingatkan Marissa kalau label perusahaannya sedang ikut pameran, memamerkan produk perumahaannya.
Untuk apa aku ke sana, lebih baik menghabiskan waktu di club saja, nanti aku akan mengatakan kepada Bobi bahwa aku sudah mengunjungi pameran itu.
Marissa tersenyum sendiri mengingat rencana liciknya nanti malam.
Malampun tiba Marissa bersiap-sia meninggalkan apartemennya, ia akan ke club malam ini, kebetulan ada temu kangen dengan teman-teman kuliahnya dulu.
Dia mengeluarkan mobilnya dari area parkiran baru saja ia akan berbelok sebuah mobil menghambat jalannya.
"Nona, saya akan ikut dengan anda." Bobi yang baru keluar dari mobilnya datang menghampiri Marissa, ia mengetuk kaca mobil yang kemudian di bukakan Marissa.
__ADS_1
Marissa sangat kesal, Bobi sudah mengagalkan rencananya ke Club.
" Biar saya yang nyetir. Silahkan nona berpindah tempat." Marissa tidak bisa mengelak lagi.
Bobi adalah tangan kanan orangtua Marissa, kedua orangtuanya lebih percaya kepada Bobi dari pada kepada putri mereka sendiri, sebab kedua orangtuanya mengenal betul sifat Marissa. Ia belum dewasa untuk mengerjakan pekerjaannya di perusahaan.
Sesampai di lokasi pameran, Bobi setia berdiri mendampingi Marissa, mereka berjalan mengitari dan melihat semua produk-produk perumahaan dari berbagai perusahaan. Hingga mereka tiba di hall dimana para pengusaha berkumpul untuk sekedar berbincang.
Bobi menyapa orang-orang yang sedang berkumpul di hall, semuanya mengenal Bobi tetapi tidak mengenal Marissa.
" Kenapa bukan kau saja yang diangkat papa untuk memimpin perusahaan." Marissa berbisik di telinga Bobi.
Bobi hanya menatap Marissa sekilas.
" Tuan Bobi. Senang bertemu denganmu." Tomas yang mewakili perusahaan Morin ikut hadir malam ini.
" Tuan Tomas. Kita bertemu lagi." Kedua pria itu saling merangkul.
"Siapa dia ?" Tomas melihat Marissa dan bertanya ia siapanya Bobi.
"Dia bossku. Aku asistennya. Hanya selama ini aku yang banyak turun ke lapangan." Bobi menjelaskan.
"Senang bertemu dengan anda." Tomas menundukkan kepalanya sebagai penghormatan untuk Marissa.
Bima juga ikut hadir di sana, ia diminta Tomas untuk mendapinginya. Bima melihat Marissa bersama-sama dengan laki-laki lain.
Dasar perempuan murahan, siapa lagi pria yang bersamanya itu ?
__ADS_1
Bima merasa kesal melihat kehadiran Marissa dan pria asing itu di tempat ini. Ia memilih menjauh agar tidak bertemu dengannya.
bersambung