
Alina masih meronta ia menatap tangan besar dan kuat yang membawanya ke sebuah ruangan. Alina tidak mengenal pria itu, sosok lelaki yang terlihat besar dan berwajah bengis, matanya menatap Alina seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Siapa kau? Aku tak punya urusan denganmu !" Alina bertanya dengan pria yang berdiri dihadapannya, mendengar suara Alina yang berteriak pria itu mendekatinya, ia menarik tubuh Alina dan menghempaskannya ke sofa yang berada dibelakang Alina.
"Pandang wajahku baik-baik!" Pria itu mendekatkan wajahnya kepada Alina.
Alina bergedik ngeri pria yang ada dihadapannya bermuka cacat, wajahnya sebelah kiri terlihat seperti luka bakar. Alina menelan salivanya ia takut sekali, mata pria itu melotot menatapnya seperti ada dendam yang tidak dituntaskan sebelumnya.
" Aku berurusan dengan Radit. Papamu yang bodoh itu." Pria itu mendorong kepala Alina dengan kasar. Alina menutup matanya ia pikir pria itu akan menamparnya.
Arnold mempunyai dendam masa lalu dengan Radit, orangtua Alina satu-satunya. Michel menjebloskannya ke penjara karena Radit membeberkan semua rencana Arnold mencelakan Roi. Beberapa tahun di penjara membuatnya ingin memberi Radit pelajaran. Radit bersenang-senang di luar penjara dan dia sendiri menderita. Setelah Togar juga memutuskan hubungan kerja dengan adiknya, Mona dan tidak mengembalikan satu sen pun uang miliknya atas kepemilikan modal di perusahaan Dosroha membuat Arnold semakin membenci Radit.
"Siapa kau?" Alina bertanya sambil berusaha mendorong tubuh pria itu dari atasnya.
"Tanyakan setelah kau bertemu dengan papamu. Kau akan mengantarkanku menemui dia. Aku sudah tidak sabar membuat perhitungan dengan si bodoh itu." Arnold mencekik leher Alina yang selalu berontak dan mendorongnya ke belakang.
Sesaat Alina tidak bisa bernafas tangan Arnold mencekik dengan kuat lehernya dengan bersusah payah Alina berusaha mengapai barang apa saja yang didekatnya, ia melihat ada vas bunga di atas meja yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya, Alina berusaha mengambil vas bunga itu dengan susah payah, dan...
Praanggg...
Alina memukul kepala Arnold dengan vas bunga di tangannya, Arnold terhuyung ke belakang, Alina melihat ada darah yang mengalir dari kepala Arnold, Alina langsung bangkit dari sofa ia menendang tubuh Arnold yang masih ingin menangkapnya, dengan cepat Alina berlari ke pintu untunglah pintu itu tidak terkunci.
Alina mengangkat gaunnya kemudian ia melepas sepatunya dan sekarang ia berlari sejauh mungkin dari tempat itu.
Alina berhenti setelah ia melihat ada halte bis tidak jauh dari tempatnya berdiri, Alina bergegas menuju halte dipikirannya sekarang ia ingin pulang dengan selamat dan segera memberitahu ayahnya tentang Arnold
Tubuhnya semakin tidak menentu, rasa aneh yang dirasakannya datang lagi. Ia merasa tubuhnya panas dan ia ingin sekali membuka baju yang menempel ditubuhnya.
Seseorang tolong aku teriak Alina dalam hati.
Gathering di hotel 99 sudah selesai, satu persatu tamu mulai meninggalkan tempatnya. Rey menyalakan mobilnya, ia bersiap-siap untuk meninggalkan hotel 99 Jenni duduk disebelahnya sebelum Rey pulang ke apartemennya Rey akan mengantarkan Jenni ke rumah sakit dulu karena jenni tugas malam hari ini.
"Maaf. Aku merepotkanmu Jean ! Kalau aku tahu kau piket malam lebih baik aku tidak mengajakmu." ucap Rey dengan nada menyesal.
"It's Okay. Aku sudah terbiasa. Dokter harus siap dua puluh empat jam, bukan?" balas Jean dengan terkekeh.
__ADS_1
Rey sedikit kecewa karena ia kehilangan Alina dari pandangannya di hotel tadi. Rey berpikir Alina sudah pulang bersama Bima.
"Rey. Lihat !" Jean menunjuk ke arah halte, tatapan Rey mengikuti arah tangan Jean yang menunjuk ke halte.
" Alina !" Rey terkejut melihat Alina duduk di sisi jalan penampilannya berantakan sekali.
Rey buru-buru menepikan mobilnya. Ia berlari menemui Alina, Jean mengikutinya.
" Alina." Rey memegang pundak Alina.
"Oh.. Alina langsung mengangkat tangannya. Ia menarik kepala Rey kemudian ia ******* bibir Rey dengan tergesa-gesa.
Mata Rey melotot melihat apa yang dilakukan Alina kepadanya. Alina masih mencium bibir Rey yang terlihat begitu bernafsu.
"Rey ! Dia sedang terpengaruh obat." Jean seorang dokter ia tahu ciri-ciri orang yang sedang dalam pengaruh obat perangsang.
" Shiittt! Siapa yang berani melakukannya !" Rey mengangkat tubuh Alina.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit, Rey. Aku akan memberinya obat penawar."
"Kita ke sana sekarang."
Apakah Rey menyukai Alina ? Bukankah Alina sudah bertunangan?
Berbagai pertanyaan ada di benak Jean. Ia sedikit kecewa melihat Rey memperhatikan Alina.
" Jean! Kita sudah sampai." Rey membuka pintu mobilnya, ia akan membawa Alina ke ruangan Jean. Oh...God ! Rey memicingkan matanya, jantungnya berdetak tidak karuan, Alina sudah membuka pakaiannya dan tinggal underwear yang melekat di tubuhnya.
Rey membuka jas yang dipakainya kemudian menutupi tubuh Alina yang hampir bugil.
" Ayo! Rey !"
"Ambilkan saja obatnya kesini tidak mungkin aku membawanya ke dalam dengan kondisi seperti itu." Rey menggeser tubuhnya agar Jean bisa melihat kondisi Alina.
Jean menarik nafas berat, ia menelan salivanya melihat tubuh Alina yang hanya memakai dalaman ditutupi dengan jas Rey.
__ADS_1
"Tolong...tolong aku." Alina merasa semakin menggila, seluruh tubuhnya menginginkan sesuatu yang tidak dapat ditahannya.
Rey mendengar Alina seperti mengatakan sesuatu, ia mendekat untuk memastikan Alina tidak membutuhkan sesuatu.
"Oh...Bima kaukah itu? Please, lakukan untukku." Alina merancau. Rey menggelengkan kepalanya melihat Alina melempar begitu saja jasnya, ia ingin membuka kain penutup yang menutupi miliknya.
" Oh..No." Rey melihat ke pintu masuk rumahsakit tetapi Jean belum juga muncul disana. Rey memutuskan membawa Alina, ia melihat Alina semakin liar. Rey melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.
Dengan kecepatan di atas rata-rata Rey hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di apartemennya.
Rey mengambil jas yang terjatuh dibawah jok mobilnya. ditutupinya tubuh Alina, dan kemudian membawanya masuk ke apartemennya.
Rey menghempaskan tubuh Alina di ranjangnya, ia hampir saja jatuh karena Alina tidak bisa diam di gendongannya.
Alina menarik tangan Rey, membawanya ke dekapannya, ia mengelus dada Rey dengan wajah memelas.
Rey mendorong Alina, ia cepat menyingkirkan tangan Alina dari dadanya. Sebagai pria normal sudah tentu ia sangat ingin melakukannya tetapi karena Alina orang yang dicintainya ia tidak ingin merusaknya. Meskipun nantinya Alina tidak menjadi miliknya.
Rey mengayunkan tangannya ke udara, ia tidak tega melihat Alina yang meneriaki nama Bima.
Ia membutuhkan sentuhanku
"Alina. A..." Alina sudah menarik tengkuk Rey menciumnya begitu intens kemudian Alina mengosok-gosokkan kakinya di milik Rey, ia ingin agar Rey menyentuhnya.
"Aku Rey. Alina, sadarlah!"
Alina mengabaikan ucapan Rey dia tidak peduli siapa lelaki yang bersamanya saat ini, ia hanya ingin dipuaskan hasratnya.
Alina membuka kemeja yang masih melekat di tubuh Rey, ditariknya begitu saja hingga kancingnya berhamburan kemana-mana. Alina mulai memberikan kecupan di dada Rey hingga menimbulkan bercak-bercak merah di sana.
Akhirnya Rey sudah tidak bisa menahan keinginannya, ditariknya Alina dari atas tubuhnya hingga mereka bertukar posisi. Alina berada dibawah kungkungan Rey.
Rey menatap mata Alina yang penuh hasrat, bibirnya terbuka menunggu Rey melu-matnya. Tidak bisa menahan gejolak di dadanya, tanpa ampun Rey menyesap dan mengigit bibir Alina, nafsunya terbakar sudah, Alina merespon ciuman Rey dengan menggebu-gebu. Samar tapi pasti Rey tersenyum melihat Alina begitu berhasrat.
"Aku akan melakukannya."Rey sudah mengkukung tubuh Alina dibawahnya, ia memberikan sentuhan dan remasan di kedua bukit kembar milik Alina. Di arahkannya miliknya untuk menembus pertahanan Alina. Sesekali Alina meringis karena sakit, tetapi hasratnya mengalahkan rasa sakit di bawah sana.
__ADS_1
" Ah...ah... Alina meremas sperei untuk menahan rasa perih sekaligus nikmat yang diberikan Rey. Dan akhirnya mereka melakukan penyatuan yang membuat keduanya terpuaskan.
Bersambung