
Inilah tempat Silvi bekerja. Ia tak menyangka perusahaan Michel group begitu besar dan bonafide. Usaha ini bergerak di bidang perhotelan dari membangun tahap awal sampai mengatur manajemennya semua ditangani oleh CEO secara mandiri, dan Silvi tahu Roi lah yang akan menjadi CEO nya sekarang karena hari ini Michel resmi menyerahkan pimpinan tertinggi kepada Roi.
" Selamat dan sukses putraku Roi." kata Michel mengakhiri meeting hari ini.
Semua staf juga mengutarakan hal yang hampir sama memberikan ucapan selamat dan doa- doa agar kepemimpinan Roi berhasil.
* Silvi....
Hari ini aku mulai bekerja, entah aku di bagian mana Roi belum memberitahuku.
Kulihat seorang perempuan cantik sedari tadi mondar mandir membawa beberapa file untuk diserahkan kepada Roi, menurutku penampilannya terlalu norak kemeja tanpa lengan dan rok ketat diatas lutut dan make up nya sama sekali tidak menarik dan menurutku itu menor.
Argh..aku tak ingin berlama-lama melihatnya aku pilih keluar dari ruang meeting toh acara serah terima jabatan sudah selesai. Aku ingin ke toilet dulu memeriksa penampilanku pagi ini. Rasanya tadi pagi aku sudah puas dengan make up ku tapi sekarang malah aku tak percaya diri apalagi aku tidak mengenal satu orangpun di tempat ini.
***
Brakkk
Tubuhku menabrak seseorang.
" Maaf kak. Aku tidak sengaja." ucapku terbata-bata.
" Hmm. Tidak apa-apa. Kau baru disini ?"
" Iya kak."
" Sudah kuduga. Namaku Rianti. Jangan panggil aku kakak kurasa kita seumuran."
__ADS_1
" Silvi."
" Kau dibagian apa ?"
Aku bingung harus jawab apa karena Roi belum memberitahu aku dibagian mana nanti bekerja.
" Keuangan."
" Baiklah. Nanti kita lanjutkan ngobrolnya ya. Aku harus mengantar file ini kepada Ester."
Aku hanya mengangguk. Rianti meninggalkannya.Aku cepat cepat pergi, berjalan ke arah toilet. Aku menarik nafas lega. Ah..entah kenapa aku jadi kelihatan bodoh seperti ini. Memalukan !
Aku keluar dari toilet dan sekarang aku tidak tahu harus kemana. Terbersit di hatiku ingin pulang saja dari pada terjebak dengan keadaan yang membingungkanku.
" Nona Silvi anda di tunggu tuan Roi diruangannya sekarang." suara seorang pria dibelakangku hampir membuat jantungku berhenti.
" Aku Adnan asisten khusus tuan Roi. Sebelum kau bekerja hari ini tuan Roi sudah memberitahuku tentangmu. Mari nona nanti tuan Roi kelamaan menunggumu."
Aku berjalan mengikuti Adnan. Ia mempersilahkan aku masuk setelah sampai di sebuah ruangan. Aku melihat tulisan CEO dan nama Roi terpampang di pintunya.
" Silahkan nona, tuan Roi pasti sudah menunggumu."
" I..iya."
Aku mendorong ujung pintu perlahan. Wangi ruangan yang khas menyeruak di hidungku. Aku berjalan masuk.
Kulihat Roi sedang sibuk menandatangani beberapa file dan perempuan yang kusebut norak dan menor tadi bergelayut di sampingnya, tingkahnya sedikit aneh, centil dan berlebihan.
__ADS_1
Lama aku berdiri belum satu katapun ku dengar dari manusia yang sok sibuk dihadapanku. Kuputuskan duduk saja di sofa berwarna gading, ku keluarkan ponselku untuk mengurangi rasa jenuh, kesal, dan kaku di tempat asing menurutku.
" Hmm."
Aku mendengar Roi berdehem tapi aku pura-pura tak tahu saja, aku terus memainkan ponselku scrol sana sini.
" Kau boleh pergi sekarang Ester. Dan jangan lupa pesankan makan siang 2 porsi untukku."
" Baik tuan."
Aku tidak melepas pandaganku dari ponsel ditanganku. Aku mendengar Roi menyuruhnya keluar dari ruangannya. Aku tidak sedikitpun memandang ke arah perempuan itu. Siapa tadi namanya, Ester bagiku dia bertingkah sangat aneh, genit itu kata yang cocok untuknya.
" Sampai kapan kau duduk disitu dengan bermain ponselmu?"
" Kau sudah tak sibuk ? " Aku menjawab perkataan Roi dengan malas. " Katakan aku harus bekerja dimana aku sudah bosan duduk disini dan .." Aku tidak melanjutkan ucapanku, ntah mengapa hatiku geram melihat perempuan tadi.
" Dan apa ? Kau marah ?"
" Tak perlu basa-basi, aku tidak mau kau membuang waktuku lagi. Cepat katakan apa yang harus aku kerjakan."
Roi memandang wajah Silvi yang sedang kesal. Tapi entah mengapa semakin wajah itu kesal Roi semakin gemes melihatnya.
" Kenapa kau malah memandangku seperti itu ?"
Aku semakin kesal karena Roi malah diam dan memandangku dengan seringai senyum di bibirnya. Aneh !
Bersambung
__ADS_1