Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
sudah pulih?


__ADS_3

SIlvi berlari meninggalkan tempat Roi bekerja. Setitik embun menyelimuti matanya yang indah. Tak peduli dengan sapaan para karyawan yang memberikan hormat kepadanya. Ia berjalan dengan cepat, melewati karyawan perusahaan dengan tatapan heran dan penuh tanda tanya.


" Nyonya." Adnan berteriak memanggil Silvi. Ua berlari mengimbsngi langkan Silvi yang begitu cepat.


Silvi tak peduli dengan teriakan Adnan. Saat ini ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu.


" Nyonya Silvi." panggilan Adnan yang kedua kalinya membuat langkahnya terhenti.


Adnan memandang sejenak wajah Silvi, seraut kesedihan jelas terlihat disana. Dengan nafas yang tersengal-sengal ia berbicara " Maaf. Aku akan mengantar nyonya pulang."


Sejenak Silvi tertegun, ia berpikir Roi yang menyuruh Adnan untuk mengantarkannya pulang. Rupanya Roi masih memperhatikanku gumannya dalam hati.


" Roi menyuruhmu ?"


" Tidak. Aku kwatir nyonya kenapa-kenapa." Sambil menggelengkan kepalanya Adnan menjawab pertanyaan Silvi.


Bahagia yang sempat dirasakannya hilang begitu saja. Orang lain mengkwatirkan dirinya, suami sendiri mengabaikannya.


" Terima kasih. Aku bisa pulang sendiri." Senyum hambar mewakili perasaan Silvi dihadapan Adnan. Kemudian Silvi neninggalkannya begitu saja.


●●●


Pemeriksaan penyebab kecelakaan yang dialami Roi mulai mendapat titik terang. CCTV jalan raya dimana Roi kecelakaan menjelaskan bahwa sebuah truk dengan sengaja menabrak mobil Roi dari arah samping.


Michel mengepal tangannya, aura geram, marah, terpukul menyelimuti wajahnya.


" Berani-beraninya mengusik keluargaku." Michel menatap satu persatu pengawal yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


Dengan posisi siap menjalankan perintah para pengawal itu menunggu instruksi selanjutnya dari sang bos.


" Cepat temukan pelakunya ! Dalam waktu 1x 24 jam siapapun dia, bawa kehadapanku !"


" Baik tuan."


Michel mengayunkan tangannya kepada para pengawal sebagai isyarat mereka boleh memulai pekerjaannya.


Hati Michel sangat panas mengetahui ada orang yang merancangkan kecelakaan putranya. Kelima jarinya diketuk-ketukannya diatas meja, Michel sedang membayangkan orang seperti apa yang berani mengusik kenyamanan keluarganya.


Ia menarik benda pipih yang tersimpan di saku celananya, di kliknya nomor yang bernada memanggil, dan tak lama kemudian terdengar suara jawaban dari ponsel yang dipegangnya.


" Apa ? Anak itu sudah keterlaluan." Michel berdecik geram. "


"Awasi Silvi kemanapun ia pergi. Pastikan ia selamat sampai di rumah." lanjutnya kemudian.


Para pengawal yang ditempatkan Michel di sekitar perusahaan mengambil langkah cepat, mereka bergerak mengikuti mobil Silvi yang berada tidak jauh di depan mobil mereka.


Silvi memasuki satu toko ke toko yang lain, setelah membeli beberapa dress untuk ibu hamil, barulah ia menjelajahi area supermarket untuk membeli aneka makanan untuk ibu hamil.


Dengan hati senang dielusnya perutnya yang masih kelihatan rata ketika ia mengambil satu kotak susu hamil.


" Kau harus sehat sayang." ucapnyanya sambil mengusap -usap perutnya.


" Hmmm." suara deheman seseorang membuatnya refleks berbalik untuk melihat siapa yang berada di belakangnya.


" Roi."

__ADS_1


" Kau sedang mencari sesuatu ?" tanya Roi yang pandangannya mengarah ke kotak susu yang dipegang Silvi.


" Darimana kau tahu aku sedang disini ?" Silvi malah balik bertanya kepada Roi.


" Itu bukan sesuatu yang sulit bagiku. Cepat ambil yang kau butuhkan. Aku akan menemanimu." Roi mengambil alih troli yang dipegang Silvi dan ia berjalan mendahului istrinya itu.


Ada garis lengkung di wajah Silvi. Hatinya berteriak kegirangan. Apakah ini pertanda Roi akan segera pulih guman Silvi.


" Kau ingin membeli sesuatu Roi ?" Ucap Silvi yang sibuk memilih beberapa makanan dan kemudian di masukannya ke troli.


" Terserah kau saja " ucap Roi dengan nada datar.


Tak lama kemudian Silvi sudah selesai, semua yang dibutuhkannya sudah berada di troli, dan sekarang mereka menuju kasir.


" Baiklah. Aku sudah selesai. Sekarang kita ke kasir dulu."


Roi setia mengikuti Silvi kemanapun ia pergi. Sebenarnya ia belum mengingat apapun tentang Silvi.


Tadi di kantornya ,Papihnya menghubungi Roi, Michel mendapat kabar kalau menantunya itu pergi menemui Roi, tetapi keluar dari perusahaan itu para pengawal yang ditempatkan Roi di sekitar perusahaan melihat Silvi menangis meninggalkan perusahaan.


" Mengapa kau tidak mengerti juga ? Silvi istrimu. Dia sedang mengandung anakmu. Dia mengalami masa ngidam yang parah. Dimana perasaanmu Roi ? " Michel menjeda ucapannya, ia mengambil waktu untuk menarik nafas sejenak dan kemudian menelan salivanya untuk menetralkan tenggorokkannya yang terasa sakit karena berteriak di depan handponenya.


" Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Silvi. Kami tidak akan memaafkan kau, Roi. Aku pastikan kau akan menyesali dirimu seumur hidup." Michel mematikan ponselnya.


Roi melihat telepon genggamnya yang tiba-tiba mati. Diletakannya ponselnya di meja.


"Dia hamil. Itu anakku. Arghhh...." Dengan putus asa Roi berteriak sekeras-kerasnya. Untung ruangannya kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar teriakannya.

__ADS_1


Dengan bantuan Adnan, Roi menemukan lokasi tempat Silvi berada, ia segera menuju mall dimana Silvi berada, matanya menoleh kesana kesini untuk menemukan istrinya itu, dan ketika melewati satu lorong ia melihat Silvi sedang memegang kotak susu yang bertuliskan susu ibu hamil. Ia menghampiri istrinya itu.


bersambung


__ADS_2