Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
kemarahan Morin


__ADS_3

" Berita apa ini ?" Morin melemparkan koran yang baru dibacanya, wajahnya kesal dan marah. Putranya menjadi berita ter- Up date pagi ini.


" Kenapa, pa ?" Uli yang mendengar suaminya berteriak datang menghampiri. Segelas kopi ditangannya di letakkan di meja. Uli melihat kertas koran berserakkan di lantai. Ia memandang wajah suaminya yang sedang berpikir dengan kerutan di keningnya.


" Kenapa, ma ?" Indah dan Togar yang baru turun dari kamar heran, tidak biasa pagi-pagi seperti ini Morin marah-marah. Togar memunguti kertas koran yang berserakkan di lantai, dilihatnya ada berita tentang Rey di kolom utama, Togar membaca kalimat demi kalimat sampai habis. Indah yang berada di sampingnya ikut membaca.


" Rey, tidak seperti itu. Aku kenal baik adikku."


" Pa. Ma. Togar akan berangkat ke Jakarta memastikan keadaan Rey. Aku hubungi Roy dulu." Togar mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan men-deal nomor Roy.


Sementara Uli menenangkan suaminya, wajah kecewa dari raut wajah Morin jelas kelihatan. Berita yang menyebutkan bahwa Rey adalah pria yang menganut pergaulan bebas, club dan wanita, membuat Morin malu, marah, dan kecewa terhadap putra satu-satunya itu. Dia adalah pewaris tunggal dan penerus nama keluarga Sinaga.


" Pa. Ma. Sore ini aku berangkat. Kami akan mengurus media yang menulis berita ini. Rey dalam pengawasan kami." Jelas Togar setelah menghubungi Roy barusan.


" Aku ikut, bang" ucap Indah menimpali ucapan suaminya.


"Tidak ! Kau lagi hamil muda. Bukankah dokter bilang kandunganmu lemah ? Hanya sehari, di rumah saja ada mama yang menjaga." Togar keberatan Indah ikut ke Jakarta.


" Togar. Bawa Rey pulang segera. Aku akan memindahkannya dari sana." Suara Morin bergetar ada nada kecewa sekaligus marah di sana.


" Baik, pa."


" Minum kopinya dulu." Uli mengangkat gelas yang berisi kopi dari meja dan diberikannya kepada Morin


" Hmm. Terima kasih." Morin menyambut kopi yang diberikan istrinya.


Dengan langkah cepat Togar bersiap mengurus segala pekerjaannya, melalui ponsel ditangannya ia meminta Rima dan Doni mengurus perusahaan hari ini. Meeting yang seharusnya dilakukan di cancel sampai Lusa.


Kemudian Togar mengurusi media yang menulis berita tentang Rey, berita itu menurutnya terlalu berlebihan. Okelah berita itu menunjukkan Rey berada di club dengan menggendong seorang wanita. Menurut Togar perlu di klarifikasi kembali apakah itu sudah sesuai dengan keadaan sebenarnya.


" Sayang. Aku ikut ya ? Aku juga ingin bertemu Rey dan Kak Silvi." Indah kembali merengek-rengek kepada Togar.


" Tolong kau mengerti. Ini bukan dalam rangka jalan-jalan, Aku sedang mengurusi masalah Rey." keluar sudah sikap tegas Togar.

__ADS_1


Uli yang melihat tingkah putrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala.


*


*


Hari ini kota Jakarta bersuhu 23 derajat celcius, suhu panas. Sama dengan hati Rey yang memanas melihat berita tentang dirinya berseliweran di media sosial. Dia mengutuk orang yang sudah membuat berita itu.


" Apa ?" Rey semakin panas kala kakaknya Silvi memberitahu bahwa papanya, Morin sangat marah dengan sikapnya yang tidak menjaga nama baik perusahaan dan keluarga.


"Kejadiannya tidak seperti itu. Itu semuanya bohong !" Rey berteriak menjelaskan masalahnya kepada Silvi.


Ia berpikir akan menemui Marissa, mungkin ia yang merencanakan semuanya, kalau sampai ia yang merencanakan semua ini, Rey tidak akan memaafkannya untuk selamanya.


Braak...


Pintu apartemen Marissa di dobrak begitu saja oleh Rey, ia mencari keberadaan Marissa, tidak menemukannya di kamar, di dapur kosong. Samar-samar Rey mendengar suara gemericik air. Marissa sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.


" Rey !" Marissa terkejut ketika keluar dari kamar mandi, melihat Rey yang duduk di sofa menatapnya dengan tajam, satu kakinya menopang kaki yang lain dan tangannya terkepal menahan kegeraman.


Marissa yang tidak tahu apa-apa segera mengambil ponsel Rey, dibacanya berita tentang Rey disana.


" Aku tidak mengerti siapa yang melakukannya." ucap Marissa.


Dengan menahan marahnya Rey bangkit dari duduknya.


" Kalau sampai berita ini masih ada besok di media sosial. Aku sudahi saja hubungan kita." Rey menarik rahang Marissa kemudian mendorongnya dengan kasar, ia mengibaskan tangannya di udara, ia berbalik dan meninggalkan Marissa begitu saja.


" Rey ! Rey ! Kau itu sudah gila, ya ! Kenapa sih kamu selalu menuduhku, aku sudah bilang aku tidak tahu tentang itu semua. Tapi kau tidak pernah percaya kan?" Marissa berteriak agar Rey bisa mendengarnya.


" Persis katamu, aku sudah tidak percaya lagi padamu." Rey menunjuk Marissa dengan jari telunjukknya kemudian meninggalkan Marissa begitu saja.


" Dasar kau Rey !" tubuh Marissa merosot ke lantai, perlahan air matanya jatuh satu demi satu, rasanya Rey sudah salah mengerti dengannya, mungkin karena sikap Marissa yang selalu membuat Rey akhir-akhir ini marah hingga ia menuduh Marissa begitu saja.

__ADS_1


" Aku harus mencari cara agar Rey tidak meninggalkanku." di sela-sela isakkannya Marissa berpikir untuk mencari cara agar Rey tidak berpaling darinya.


***


Sementara Togar akan berangkat ke Medan, Indah yang tiduran, diam sambil melihat suaminya bersiap-siap untuk berangkat.


" Sayang. " Togar mendekat kepada istrinya yang sedari tadi mencuekinnya. Indah memutar tubuhnya membelakangi Togar.


Dengan lembut Togar mencium punggung istrinya, ia tahu Indah sedang mode marah karena ia tidak mengijinkannya ikut. Ditariknya tubuh Indah hingga wajah mereka saling berhadapan.


" Lama kita menantikannya. Aku harus menjaga kalian" Tangan Togar mengelus-elus perut Indah disana sudah ada benih Togar yang sedang bertumbuh.


Togar mengecup bibir Indah, kemudian menatapnya kembali." Aku menyanyangi kau dan baby kita." Indah sudah mengerti arah pembicaraan Togar, intinya ia tidak diijinkan ikut ke Jakarta.


Berbaring di samping Indah, menatapnya dengan senyum di bibirnya, dengan posisi miring dan kepala yang berpangku di atas tangannya, Togar berusaha memberikan pengertian kepada sang istri.


" Aku meminta jatahku dua hari kedepan." bisik Togar ditelinga Indah.


Sontak Indah melotot, bisa-bisanya Togar berpikir tentang itu saat Indah sedang kesal.


" No. Aku tidak mau." Indah berbalik lagi membelakangi Togar.


" Okey, sayang. Kalau tidak hari ini, aku minta rappel ya, kalau urusanku sudah beres." Togar malah menggoda Indah agar istrinya itu tersenyum.


" Dasar !" Indah berbalik dan memukul tubuh Togar yang mendekapnya.


Togar menangkap kedua tangan Indah, istrinya berhenti memukul, wajah Togar berada hanya berapa senti dari Indah, tidak mau membuang waktu Togar menyesap bibir istrinya itu, Indah terpancing dengan senang hati dikalungkannya kedua tangannya di leher Togar.


" Kau siap, sayang." Togar membelai rambut Indah, di rapikannya anak rambut yang berantakan lalu diciumnya kening istrinya.


Indah mengangguk pasti, semenjak dokter menyatakan ia hamil, entah kenapa ia selalu ingin berada di dekat Togar, dan anehnya kadang ia yang memulai pergulatan panas diantara mereka.


Togar sangat senang, istrinya begitu menggoda di matanya, sikap Indah berubah liar, ia tidak segan-segan meminta Togar menjamahnya dan memasukinya. Di sisi lain Togar tetap was-was kandungan sang istri yang lemah selalu menjadi perhatian khusus baginya.

__ADS_1


Dan siang itu mereka melakukan lagi, Indah sangat bersemangat bergelut dengan Togar. Untunglah Togar kuat melayani istrinya itu, kalau tidak dipastikan Indah akan cemberut lagi😂


bersambung


__ADS_2