Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Bima dan Mars


__ADS_3

Rey sangat panik ketika ia mencoba menghubungi Alina namun ponselnya sama sekali tidak aktif. Rey memerintahkan Tomas mengecek keberadaan pujaan hatinya itu.


Hampir dua jam Tomas meninggalkan perusahaan dan mendatangi tempat tinggal Alina, tidak ada orang disana akhirnya Tomas kembali ke perusahaan dan memberitahu Rey hasil pekerjaannya yang tidak menemukan Alina di sana.


"Saya tidak bisa melacak keberadaan nona Alina, tuan. Ponselnya sudah sejak tadi siang tidak aktif."


Rey duduk dengan wajah kecewa seluruh tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaga. Alina telah meninggalkannya.


Rey mengayunkan tangannya di udara sebagai isyarat Tomas bisa pergi dari ruangannya saat ini ia butuh waktu sendiri, akhirnya ia memahami kalau Alina memang tidak menginginkannya.


**


Sementara Bima masih terus berusaha mencari calon tunangannya itu, ia kembali mendatangi kantor polisi untuk menanyakan kabar yang ditemukan, polisi belum mendapatkan berota tentang keluarga Radit dan Alina, dan sekarang membuat status mereka berdua dalam daftar orang yang hilang.


Dengan langkah lunglai Bima meninggalkan kantor polisi, pikirannya sedang kalut dan perasaannya tidak menentu.

__ADS_1


Bima membawa mobilnya melaju di jalan raya, ia akan mengunjungi temannya Mars, ia sedang membutuhkan teman untuk menghilangkan sejenak bebannya.


"Kau bisa datang ke clubku, Bima." Mars memberitahu Bima setelah mendengar temannya itu ingin menemuinya.


Bima mematikan ponselnya Mars sudah mengirim alamat club miliknya itu.


Mewarisi usaha orangtuanya yang bergerak di bidang jasa Mars berhasil mengembangkan club malam dan beberapa restoran siap sajinya. Dalam usianya yang masih muda Mars diakui dan dipuji oleh rekan-rekannya sesama pebisnis dalam memperlebar kekuasaan dalam usahanya, Mars begitu bersemangat bekerja untuk memajukan bisnisnya.


Malampun tiba Bima sudah berada di clubnya Mars menyambut hangat temannya itu.


Mereka berbincang sejenak, Mars menawarkan minuman kepada Bima, baru saja pelayang datang dan meletakkan dua botol minuman tepat di meja yang berada di depan mereka.


"Ngomong-ngomong, kau sedang ada masalah?" Mars melihat penampilan Bima sedikit lusuh dan berantakan.


"Ah...tidak ada. Aku hanya sedikit gugup dan..."

__ADS_1


"Hampir semua orang gugup menghadapi pernikahan mereka." Mars memotong ucapan Bima sambil terkekeh seolah-olah mengejek Bima.


Tidak sembarangan Bima mengumbar masalahnya kepada orang lain, ia sangat berhati-hati bila menyangkut urusan pribadinya.


"Kau belum merasakannya. Cepat cari pacar maka kau akan tahu rasanya bila akan menikah nanti." Bima berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya agar Mars tidak mencurigainya.


"Mungkin aku tidak akan menikah, Bim. Baru kali ini aku serius mencintai seseorang tapi ia tidak mencintaiku dan waktu dekat ia akan menikah. Miris kan !"


Seharusnya bukan kau yang menikahi Alina Bima, tapi akulah yang seharusnya menjadi pengantin prianya.


Mars menatap Bima, secara fisik ia tidak kalah dari Bima. Perawakan mereka menjadi impian banyak wanita. Pekerjaan mereka juga sudah mapan.


"Itu namanya belum jodoh, Mars. Jangan bersedih Tuhan sediakan yang lebih cocok denganmu." Bima menepuk pundak Mars, ia menyemangati temannya itu.


Bima menarik nafas berat sesungguhnya kata-kata yang diberikannya kepada Mars adalah suara hatinya yang sedang kecewa dan putus asa. Pernikahan sudah di depan mata, Alina malah pergi entah kemana.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2