Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Rey dan Bima


__ADS_3

Atas permintaan Rey, Tomas mengatur pertemuan Bima dengan bossnya itu. Tomas tahu apa yang akan dibicarakan Rey kepada Bima hingga ia mengatur pertemuan mereka di suatu tempat yang tenang dan nyaman untuk berbicara.


"Bima." Alina terkejut ketika melihat sosok lelaki yang datang bersama dengan Tomas siang itu di satu resto yang sengaja di pilih Rey untuk tempat mereka bersantap siang.


"Duduk Bima." Rey mempersilahkan Bima duduk di kursi kosong yang sengaja disediakan untuk Bima.


"Saya permisi, tuan." Tomas undur diri dari hadapan ketiga orang yang sedang duduk di sana.


"Terima kasih, Tomas."ucap Rey kepada Tomas yang sudah berbalik hendak meninggalkan tempat itu.


Tomas menganggukan kepalanya dan meninggalkan tempat itu segera mungkin.


Bima menatap Alina yang duduk disamping Rey, hatinya begitu sakit melihat orang yang dicintainya itu bersanding dengan laki-laki lain, meskipun Alina sudah menjelaskan tentang hubungan mereka waktu Bima ke Medan atas pemberitahuan tuan Morin.


"Hmm. Bima." Rey memecah keheningan diantara mereka bertiga.


Alina mengalihkan pandangannya pada Rey, ia menatap Rey seolah-olah minta penjelasan mengapa ada Bima diantara mereka.


Rey mengambil jemari tangan Alina, ia menggenggam dengan erat, ia tersenyum agar Alina bisa santai.

__ADS_1


"Aku akan menikah dengan Alina." Rey memulai pembicaraannya, ia menatap Alina yang sedikit terkejut mendengar pernyataannya.


"Bima. Maafkan aku. Mungkin kau merasa aku telah merampas Alina darimu. Perlu kau ketahui sebelumnya kami sudah saling mengenal dan saling mencintai jauh sebelum kalian bertunangan. Oleh karena suatu hal Alina memilih meninggalkan aku. Tuhan mempertemukan kami kembali. Banyak hal yang terjadi pada Alina sebelum kalian berhubungan. Aku akan menjelaskannya kemudian. Sekarang aku hanya ingin memberitahumu kami saling mencintai dan akan menikah."


Bima tidak bisa berucap apa-apa, ia hanya mendengar pernyataan Rey yang jelas-jelas menyakitkan hatinya.


"Bima." Alina memanggil Bima yang masih tertunduk dengan suara hatinya yang berkecamuk.


"Bila aku mengatakan aku mencintaimu. Aku tidak dapat hidup tanpamu. Bagaimana, Al."


Rey memandang Bima dengan raut wajah tidak senang. Matanya menatap tajam ke arah Bima.


"Cukup." Rey membentak Bima. Ia tidak suka dengan kata cinta yang baru saja di lontarkan Bima pada kekasihnya.


"Rey. Tenanglah !" Alina mengusap lengan Rey agar tidak emosi.


"Maafkan aku. Aku hanya mencoba jujur kepada tuan dan diriku sendiri." Bima menundukkan kepalanya dihadapan Rey dan Alina.


"Bima. Hubungan kita sudah dibicarakan dengan baik-baik, bukan? Kau dan aku sudah selesai. Aku menghormatimu, aku tahu kau orang baik. Maafkan aku tidak bisa membalas cintamu."

__ADS_1


"Alina."


"Aku menyayangimu, anggaplah aku adikmu." Rey menatap Alina yang berbicara dengan percaya diri.


Bima tidak bisa berbicara lebih banyak lagi kepada Alina sebab ia sudah terus terang membicarakan perasaannya.


Bima berdiri dari tempat duduknya dan berbalik untuk segera meninggalkan Alina dan Rey. Tidak ada lagi yang dapat dibicarakan, tidak ada lagi kesempatan, Alina telah memutuskan jalan hidupnya dengan Rey.


Melihat kepergian Bima, Alina kecewa, menyesal karena telah menyakiti hati orang yang sangat mencintainya. Setetes demi setetes air matanya mulai membasahi pipinya.


"Sayang." Rey merangkul Alina ia tahu dalam hubungan yang diperjuangkannya Bima merasa tersakiti.


"Apakah aku keterlaluan, Rey ?"


"Bima akan mengerti keadaan ini. Lambat laun ia akan menyadari bahwa kau tidak mencintainya."


Rey memeluk Alina semakin erat berharap kekasihnya itu mulai tenang.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2