Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Makan malam


__ADS_3

Masa pengenalan kampus sudah selesai. Sekarang perkuliahan berjalan dengan normal, seperti biasa Alina mengikuti kegiatan di kampusnya, kali ini ia datang dengan motor barunya. Ia sangat senang kemarin papanya membelikannya sebuah motor, berbekal uang tabungannya yang tidak begitu banyak ia bisa membayar uang muka, sìsanya dicicil selama tiga tahun.


Alina seorang mahasiswa yang cerdas, ia bisa menempuh pendidikan di salah satu kampus terbaik dan ternama karena otaknya yang encer.


" Alina, tolong bawakan buku-buku ini ke ruangan saya." Ucap Pak Rado dosen statistik.


" Baik, pak." Alina menata buku-buku mahasiswa yang baru saja dikumpulkan di meja, membawanya ke ruangan Rado.


" Tolong letakkan disana saja !" Alina meletakkan di meja lain, disana juga terdapat banyak tumpukkan buku mungkin tugas dari mahasiswa kelas lain.


" Terima kasih, pak." Alina bermaksud untuk segera pergi.


" Tunggu !" Suara Rado menghentikan langkahnya.


Rado datang dengan sebuah paper bag ditangannya.


" Ini untuk kamu. Kemarin aku membelinya." Alina heran, ia memandang paper bag itu kemudian beralih menatap Rado.


" Maaf. Saya tidak membutuhkannya pak. Terima kasih bapak sudah perhatian kepada saya." Alina meninggalkan ruangan Rado tergesa-gesa.


Argh...ada-ada saja, kenapa pula ia memberi aku hadiah guman Alina


Karena pikirannya masih tertuju kepada Rado yang menurutnya aneh, ia tidak sengaja menabrak seseorang.


Brak...


" Maaf. Aku tidak sengaja."


" Kalau jalan pake mata dong." Alina mendongakkan kepalanya, ia melihat seorang cewek sedang marah kepadanya.


" Sudahlah ! Ayo !" pria disamping cewek itu mengajaknya pergi dari hadapan Alina.


Alina menelan salivanya cewek yang baru saja memarahinya adalah kakak tingkatnya. Apa semua kakak tingkat seperti itu ya, tidak bersahabat sama sekali.


Jam kuliah Alina sudah selesai ia bermaksud membeli beberapa buku di toko buku, setelah itu ia bergegas pulang, hari ini keluarga Michel kedatangan tamu dari sumatera, Alina diminta untuk ikut membantu nyonya rumah memasak dan menyiapkan makan malam.


Setiba di rumah, Alina langsung bertukar pakaian, ia melihat papanya sedang mengurus tanaman di halaman belakang.


" Papa. Aku sudah pulang !" Alina menyapa Radit yang sedang menyusun pot tanaman dikebun.


" Sudah makan ?"

__ADS_1


" Belum ! Nanti sekalian bantu bibi memasak "


Alina meninggalkan Radit, ia akan menemui bibi Marta.


" Selamat siang bibi." Alina menyapa Marta yang sedang sibuk mengupas bawang.


" Makan dulu ya, baru bantuin bibi."Jawab Marta dengan senyum di bibirnya.


" Hari ini kita masak apa bi ?"


" Ikan mas arsik, teri sambal dan sayur capcay. Hari ini keluarga nyonya Nita makan malam disini." jelas Marta.


" Ooo."


Alina menyelesaikan makannya kemudian membantu bibi Marta menyiapkan makan malam keluarga Michel.


*


*


Pukul enam sore...


Keluarga Michel sudah berada di mansion, Nita sangat senang papa dan mamanya datang ke Jakarta. Leo dan Karissa baru saja tiba di Jakarta.


Alina ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan Tuan Michel dan nyonya Nita, kekompakkan mereka membuat suasana rumah semakin hangat.


"Dimana gelasnya ? Aku mau minum." Suara seseorang mengejutkan Alina.


" Disini, tuan." Alina memberikan gelas kepada tuannya.


Alina merasa pernah ketemu dengan pria yang dihadapannya, otaknya berpikir keras mengingat kembali, akhirnya ia ingat, waktu ia tak sengaja menabrak seorang wanita setelah keluar dari ruangan dosennya, Rado. Cowok itu ada bersamanya.


Reyhan meninggalkan gelasnya di meja, ia juga sangat terkejut Alina bekerja sebagai pelayan di rumah namborunya.


" Alina. Tolong cucikan dodot Al ya." Silvi memberikan botol susu Al kepada Alina.


" Baik, tante."


Melihat interaksi Alina dengan kakaknya Silvi, sepertinya ia sudah lama bekerja di rumah namboru guman Rey dalam hati.


Kini semua keluarga berkumpul di meja makan. Bibi Marta dan Alina menyiapkan makan malam. Alina dengan cekatan meletakkan piring di hadapan setiap orang, ia mengisi gelas dengan air putih di dalamnya.

__ADS_1


" Terima kasih Alina." Nita tersenyum kepada Alina.


" Silahkan, tuan dan nyonya." Bibi Marta mempersilahkan untuk makan.


Tatapan mata Reyhan tidak lepas dari sosok Alina, diakuinya wanita itu memang cantik meskipun hanya memakai daster rumahan. Berbeda dengan Rey, Alina pergi meninggalkan ruang makan, ia ke dapur, disana ada pintu yang terhubung dengan rumah yang ditempatinya dengan Radit.


Sementara keluarga Michel makan malam, Alina memeriksa ponselnya, biasanya ada tugas yang dikirimkan oleh dosen, tapi syukurlah hari ini tidak ada tugas dari dosen-dosennya.


Ia rebahan sebentar, sebentar lagi ia akan membantu bibi Marta merapikan meja makan dan membersihkan peralatannya. Tubuhnya sangat lelah, menarik nafas perlahan, pandangannya kosong menatap langit-langit rumah, ia membayangkan seandainya ibunya masih hidup, ia pasti tidak kesepian seperti saat ini, bisa bertukar pikiran, bukan Radit tidak memperhatikan Alina tapi porsi seorang ibu akan berbeda bila digantikan ayahnya, seorang ibu punya peran tersendiri.


" Alina."


" Papa, mengejutkan saja. Papa sudah makan ?"


Radit menganggukan kepalanya " Kau melamun, memikirkan apa, nak ?"


" Tidak ada. Aku hanya sedikit lelah. Sebentar lagi aku akan membantu bibi Marta membereskan meja makan." Alina bangkit dari tempat tidurnya.


" Aku ke sana dulu, pa." Alina meninggalkan papanya.


Keluarga Michel belum selesai makan malam, Alina memutuskan menyiapkan makanan menutup. Bibi Marta dan ia sudah menyiapkan jus melon. Ia mulai menuangkan ke dalam gelas, kemudian menyiapkannya di meja.


" Alina. Tolong kau pegang Al dulu ya !." Baby Al sekarang sudah mulai merangkak, ia tidak bisa diam. Roi dan Silvi yang sedang makan kewalahan dibuatnya.


" Hai, Al." sapa Alina setelah menggendongnya.


" Kita bermain bola saja, yuuk !" Alina membawa Al ke ruang keluarga, di atas karpet bulu yang empuk Alina meletakkan Al, sebentar saja Al sudah merangkak lagi.


" Al, sini. Lihat bola ditangan tante !" Alina menunjukkan bola berwarna kuning kepada Al, dengan lincah Al datang ingin menggapainya, Alina bergerak mundur hingga hal merangkak mengikutinya.


Brak..


Alina menyenggol sesuatu, karena terlalu asyik bermain, ia tidak melihat Rey sedang duduk di sofa.


" Maaf." Alina menggeser tubuhnya yang menyenggol kaki Rey.


Rey tidak menjawab, ia hanya menatap Alina sekilas saja.


" Ayo." Alina mengangkat Al yang sudah dihadapannya.


Rey menatap kepergian Alina, ia tidak berhenti melihat sampai bayangan Alina hilang di balik tembok.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2