
Waktu mengubah segalanya, kini Reyhan Sinaga telah menyelesaikan studinya di Jerman. Tumbuh sebagai pria kuat dan dewasa membuktikan ia siap menerima tanggung jawab sebagai pembawa nama keluarga Sinaga dan penerus perusahaan. Secara turun temurun menjaga nama baik keluarga harus dijunjung tinggi, oleh sebab itu Morin membekali putranya dengan ilmu yang tinggi serta membentuk putranya memikiki pribadi yang kuat dan dewasa, agar usaha-usaha yang dimiliki Morin kelak menjadi maju ditangannya.
Pagi ini Rey akan memulai segala aktivitasnya, beberapa tahun ia meninggalkan Jakarta banyak sekali yang berbeda. Sebenarnya Rey kurang menyukai kota Jakarta karena bersuhu panas, hampir tidak ada lahan yang dijadikan tempat hijau sehingga kota ini terkesan gersang. Kota yang dipuja-puja banyak orang, sayang sekali penduduknya kurang peduli terhadap lingkungan sekitar.
" Tuan, sudah sampai." Rey berpaling menatap asistennya. Ia merapikan stelan jasnya. Kemudian ia bergerak turun dari mobil.
Dengan langkah tegap Rey memasuki perusahaan, hari ini Rey pertama sekali memimpin rapat dewan direksi, beberapa direksi berdiri setelah ia tiba di sebuah ruangan. Hari ini adalah rapat pertama yang dipimpin oleh Rey.
Semua orang ysng ada di ruangan itu terpesona dengan putra satu-satunya Morin Sinaga, kharismanya sebagai pemimpin terlihat jelas. Muka yang penuh wibawa, sorot mata yang tajam, dan rahang yang tegas menandakan ia adalah seorang pemimpin yabg tangguh.
Setelah menperkenalkan diri secara singkat Rey langsung memimpin rapat, berbagai evsluasi dilakukan hingga empat jam lebih barulah pertemuan itu selesai.
" Apa jadwal selabjutnya?"
" Hari ini ada pertemuan dengan dewan direksi universitas PEH, tuan." Tomas menjawab pertanyaan Rey.
" Tentang pengalihan kepemilikan universitas itu bukan?" Bisnis perusahaan Morin memperlebar bidang usahanya di bagian pendidikan.
" Betul tuan. Kita sudah memiliki 80% saham di PEH."
" Baiklah. Siapkan semua yang diperlukan." Rey bangkit dari duduknya.
Sepanjang jalan netra Rey menatap pemadangan yang dilewati dari kaca mobilnya, ia terbayang ketika masih jadi mahasiswa di kota ini. Ia masih hafal dengan beberapa jalan yang sering dilewatinya dulu, tidak banyak ysbg berubah hsnya beberapa pohon yang kelihatan semakin tinggi dan rimbun.
Drtttt...drttttt...
Ponsel di saku Rey bergetar, ia meraih ponselnya dan memeriksa telepon dari siapa. Rupabya Jenifer yang menghubunginya.
" Hai. Apa kabarmu?" suara Jenifer bergema di telinga Rey.
" Hai Jen. Aku baik. Ada yang perlu?"
"Wah...wah...sekarang bicara denganmu sanat susah. Apa kau sedang sibuk?" kekeh Jen dari seberang.
__ADS_1
"Sebentar lagi aku ada rapat. Aku hubungi nanti lagi."
"Oke, pak boss. Aku tunggu ya." Jawab Jen masihdengan nada bercanda.
Setelsh menekan tanda merah Rey mengakhiri percakapannya dengan Jenifer.
Di tempat parkir khusus mobil Rey berhenti. Ia dan Tomas menasuki area kampus yang terlihat asri. Banyak mahasiswa yang lalu lalang melemparkan padangan kagum kepada mereka.
Rey dan Tomas disambut oleh beberapa civitas kampus dengan baik. Rey memasuki ruangan rapat yang sudah dihadiri beberapa orang. Rey mengambil tempat duduk yang sudah disediakan. Ia menatap satu persatu orang yang baru kali ini bertemu dengannya.
" Selamat siang, tuan." Tomas memberitahu bahwa yang menyapanya adalah dekan di kampus itu.
" Selamat siang." Rey menyapa salam dengan senyum terlukis di bibirnya.
"Hari ini kami mengundang tuan Rey untuk memperkenalkan diri dengan para pejabat di kampus ini. Setelah itu kami persilahkan tuan memeriksa semua file yang sudah kami siapkan. Semuanya berisi laporan kegiatan perkuliahaan di semester ini."
Seorang wanita masuk dan mendekat kepada Bima, dekan di ksmpus itu. Wanita itu membawa beberapa maf tebal ditangannya.
"Alina. Letakkan semua filenya di meja tuan Rey."
"Alina sekretaris saya, tuan." Bima memperkenalkan Alina kepada Rey.
Alina meletakkan berkas-berkas yang dibawanya dengan rapi di hadapan Rey. Setelah selesai ia berbalik dan meninggalkan ruangan rapat itu. Bima hsnya memintanya menyerahkan semua berkas yang diperlukan untuk diperiksa oleh pemilik sekolah ini.
"Tuan....Tuan." Tomas memanggil Rey yang masih diam dsn terus menatap kepergian Alina.
Semua yang hadir pada rapat itu tersenyum. Sekretaris Bima itu memang sangat cantik. Siapapun yang melihatnya pasti akan tertarik.
"Hmm." deheman Rey memberhentikan bisik-bisik di tengah-tengah rapat.
Rey memulai rapat. Dengan lugas ia membeberkan semua rencana-rencana pengembangan sekolah. Semua kagum akan penjelasan Rey yang singkat dan padat.
Selesai Rapat, Rey dibawa berkeliling ke semua area kampus, Bima menunjukkan dan menjelaskan segala fasilitas yang tersedia di kampus itu, tidak ketinggalan ia membeberkan fungsi-fungsi setiap peralatan yang ada, juga memberitahu tehniks pemeliharaan semua aset kampus yang dilakukan. Rey memuji kecerdasan Bima dalam mengolah semua bidang di kampus dengan baik dan teratur.
__ADS_1
Sebagai pemimpin pengganti orangtuanya Rey sangat tertarik dengan perkembangan kampus yang sahamnya dimiliki oleh Perusahaannya lebih dari setengah, diakuinya papanya adalah orang yang sangat ahli dalam bisnis. Semua
"Kita minum dulu, tuan Rey." Bima mengajak Rey untuk menikmati snack yang sudah disiapkan.
"Saya akan mengunjungi kampus dengan rutin. Tolong ruangan saya dirapikan setiap waktu." jelas Rey sambil menyesap kopi di tangannya.
"Apakah anda sudah berkeluarga?" pertanyaan Rey sekedar basa-basi untuk menghangatkan suasana.
"Belum, tuan. Kebetulan sekali tuan Rey menanyakannya. Saya akan bertunangan minggu depan dengan Alina. Hubungan kami sudah cukup lama, dan kedua keluarga sudah sepakat agar kami bertunangan."
"Apa?" Rey sangat terkejut ketika Bima mengatakan ia akan bertunangan dengan Alina. Ada perasaan tidak senang terbersit di hatinya.
" Aku tidak menyangka kalian punya hubungan khusus. Selamat ya !" kekeh Rey menutupi ketidaksukaannya.
Untunglah Rey bisa mengendalikan hatinya sehingga Bima tidak curiga dengan keterkejutannya tadi.
" Terima kasih. Bila ada waktu, saya harap tuan bisa hadir." balas Bima dengan senyum bahagia.
Rey bisa melihat dengan jelas rona bahagia di wajah Bima. Rey tersenyum menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan Bima, disesapnya kembali kopi yang tersisa di gelasnya dan tidak lama kemudian ia berpamitan.
*
*
Arbima Putra Rarendra pria bersuku Jawa yang lahir dari pasangan suami istri yang mencintai dunia pendidikan. Rarendra papanya adalah dosen ysng sudah pensiun dari universitas PEH. Jabatan terakhir yang diampuhnya sebelum pensiun adalah Rektor.
Rendra mempunyai hubungan pribadi yang baik dengan Morin Sinaga, keduanya sama-sama menimba ilmu di satu perguruan tinggi negeri yang sama di Jakarta, mereka satu alumni ketika mahasiswa dulu. Hanya ketika menjadi mahasiswa mereka tidak saling kenal karena berbeda jurusan, pertemuan tanpa sengaja di suatu pameran bisnis adalah awal komunikasi antara Rendra dan Morin. Hingga suatu hari Rendra menceritakan keadaan keuangan tempat ia bekerja dalam keadaan tidak sehat. Universitas yang mempunyai nama baik dan diakui banyak orang mendadak bangkrut dan akan segera di tutup karena ada kecurangan di kalangan pejabatnya.
Awalnya Morin hanya ingin membantu mengucurkan dana untuk menyehatkan kembali keuangan kampus tersebut, atas desakkan Rendra agar Morin membeli saja saham kepemilikkan kampus tersebut dan merombak pengurus dan karyawannya, karena sebagai orang yang sudah lama berkecimpung sebagai pengurus Rendra tahu kampus itu punya potensi untuk maju.
Setelah mempelajari semua berkas dari universitas PEH, Morin tertarik dan memutuskan membeli sahamnya sebanyak 80%. Seperti usulan Rendra, Morin merombak semua kepengurusan di dalam kampus.
Seiring berjalannya waktu universitas PEH semakin maju dan menjadi salah satu perguruan tinggi yang diidolakan di Jakarta.
__ADS_1
bersambung