Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Bima dan Alina


__ADS_3

Bima begitu percaya diri bersanding dengan Alina, diapit oleh orangtua kedua belah pihak sungguh satu kebahagian yang tidak dapat digambarkan Bima dan Alina dengan kata-kata.


Hubungan Bima dan Alina bukan karena atas dasar saling cinta, Rendra punya andil besar atas hubungan mereka sehingga tunangan bisa dilaksanakan hari ini. Kebaikkan Rendralah yang membuat hati Alina luluh hingga memenuhi permintaan orangtua tersebut, meminta Alina menikah dengan putranya.


Latar belakang Bima yang sejak bayi ditinggal oleh ibunya, membuat Bima mencarikan sosok wanita yang ke ibuan, lembut dan penuh perhatian dan semua itu ditemukan Rendra pada Alina.


"Selamat, Bima dan Alina." bergantian sanak saudara , rekan kerja, dan para sahabat yang hadir mengucapkan kata selamat kepada keduanya.


Rey dan Jenifer juga turut hadir, menjadi satu kehormatan bagi Bima dan Alina, Rey sebagai orang sibuk menyempatkan waktunya untuk hadir dalam acara pertunangan mereka.


" Selamat Pak Bima dan Ibu Alina." Jenifer yang datang bersama Rey mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat. Rey juga melakukan hal yang sama. Alina melihat wanita yang mendampingi Rey sangat cantik mereka berdua terlihat serasi sebagai pasangan.


Alina merasa canggung kepada Rey, ia sudah mengenal Rey meskipun itu beberapa tahun yang lalu, Alina pernah bekerja di keluarga Rey yaitu keluarga tuan Michel, keuntungan tersendiri bagi Alina mengenal keluarga besar Rey, karena pertolongan merekalah Alina bisa berhasil seperti saat ini.


" Terima kasih, tuan." ucap Alina dengan senyum di bibirnya.


Sepanjang acara tatapan Rey tidak pernah lepas dari sosok Alina yang terlihat bahagia menyapa tamu-tamu yang hadir. Rey merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, seperti rasa cemburu. Ia berusaha menepis rasa itu, tetapi semakin ia melihat Alina tertawa dengan tamu lain, semakin sakit rasa di hati Rey.


"Rey. Kau kurang sehat." Jeni melihat Rey kurang bersemangat dan lebih banyak diam.


"Tidak. Aku hanya sedikit lelah." jawab Rey ringan.


" Kalau begitu, Ayo ! Kita pulang saja." Jeni mengajak Rey pulang. Rey mengangguk, ia ingin pergi dari tempat itu secepatnya agar ia tidak harus menyaksikan kebahagiaan kedua pasangan disana sedangkan hatinya seperti dicabik-cabik. Akhirnya Rey memutuskan meninggalkan acara Bima dan Alina lebih awal.


*


*


Pagi ini Rey kembali mengunjungi kampus PEH, ia akan menghabiskan waktu tiga sampai empat jam berada di sana. Tomas yang selalu siap mendampingi tuannya itu berdiri di samping Rey. Ia melihat Rey memeriksa dokumen-dokumen di Mejanya


Tok...tok...


"Selamat pagi, tuan. Maaf saya mengganggu sebentar. Ini ada undangan untuk acara wisuda bulan depan." Alina menghampiri meja Rey dan meletakkan undangan yang dipegangnya di sana.


" Terima kasih." Rey mengambil undangan yang diletakkan Alina di mejanya, ia melihat sekilas kemudian memberikan kepada Tomas.

__ADS_1


"Saya permisi, tuan." Alina undur dari hadapan Rey. Ingin rasanya Rey menahannya tapi kemudian ia sadar itu hal yang konyol untuk dilakukan.


Siang ini Alina sedang mencari kado ulang tahun yang cocok untuk Al dan El, Silvi memberitahu Alina melalui telepon kemarin bahwa ia akan membuat party untuk merayakan ulang tahun si kembar. Meskipun Alina sibuk ia tidak ingin melewatkan momen bertemu dengan kedua anak yang lucu-lucu itu. Bima tidak bisa ikut karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


Alina sudah menemukan kado yang lucu untuk kedua anak Roi dan Silvi, ia bergegas menuju mobilnya, sesekali ia melihat jam bulat yang melingkar di tangannya, pesta ulang tahunnya akan segera di mulai. Alina membawa mobilnya keluar dari pusat perbelanjaan, ia ingin segera sampai di kediaman Michel, sebab disanalah diadakan perayaan ulang tahun Al dan El yang ke lima tahun.


"Alina." Silvi memeluk erat Alina yang telah berdiri di hadapannya."Akhirnya kau datang juga, Al dan El menunggumu." ucap Silvi membawa Alina mendekat kepada Al dan El.


Perayaan ulang tahun Al dan El cukup meriah, banyak anak-anak seusia mereka yang hadir sore itu. Alina melihat Rey juga hadir disana, ia datang dengan Jenifer.


Alina ikut membantu Silvi menyiapkan makanan kecil untuk anak-anak kemudian ia menghidangkannya satu persatu di meja.


" Alina. Kau datang juga, Bima tidak ikut denganmu?" Sapaan bunda Nita membuat Alina sedikit terkejut.


" Bunda." Alina mengambil tangan Nita kemudian ia menciumnya. " Bima masih bekerja, nanti ia menyusul, Bun." ucap Alina sumringah.


Layaknya seorang anak begitulah sikap Nita kepada Alina, meskipun Radit dan Alina memutuskan untuk tidak lagi tinggal dan bekerja di mansion Michel karena Alina sudah mempunyai pekerjaan dan ingin hidup mandiri hubungan Alina dengan keluarga itu tetap baik.


"Bagaimana kabar Radit?" Alina senang Nita masih peduli dengan papanya.


"Oma, hup...hup...." Al berteriak di samping Nita dan Alina yang asik berbicara, ia membawa kue ulang tahun yang siap untuk disuapkan kepada omanya.


" Al." Nita membuka mulutnya menerima suapan kue dari Al." Terima kasih, sayang." mencium pipi kanan dan kiri Al dengan gemas.


" Dan ini untuk tante Alina." El dibalik tubuh Al berjalan menghampiri Alina. " Hmm. Hup..." Alina menerima suapan El." Terima kasih, cantik." Alina melakukan hal yang sama dengan Nita, mencium bocah-bocah yang membuatnya gemas.


Alina mengambil paper bag yang dibawanya tadi, kemudian memberikannya satu kepada Al dan satu lagi kepada El." Terima kasih, tante." Alina tersenyum dan mengacak poni El yang kelihatan lucu.


"Al, El...tante Jeni juga punya hadiah untuk kalian." kedua bocah itu berlari menghampiri Rey yang memanggil keduanya. Dua buah kado besar siap diberikan kepada si kembar.


Alina menatap kepergian kedua bocah itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tingkah Al dan El membuat Alina tersenyum.


Sudah hampir malam, Alina akan pulang. Bima belum memberinya kabar, Alina berinisiatif menanyakan keberadaan Bima. Sudah tiga kali melakukan panggilan, Bima tidak mengangkatnya. Alina berpikir Bima pasti masih sibuk bekerja, ia memutuskan untuk pulang sendiri.


" Bima tidak menjemputmu?" Rey memperhatikan Alina sejak tadi. Pertanyaannya membuat Alina mengalihkan pandangan dari ponselnya.

__ADS_1


Alina menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Ia masih sibuk, tuan." ucap Alina. " Maaf, saya pamit dulu ke dalam." lanjut Alina seperti terburu-buru. Ia hanya ingin menghindari Rey.


Rey masih berdiri di hadapan Alina, menghalangi Alina berjalan.


" Tuan..."


"Jangan panggil aku tuan, panggil saja Rey."


"Ta...tapi..."


Rey menatap Alina dengan tajam ketika ia mau membuka mulutnya untuk menyanggah perkataan Rey.


"Baiklah. Aku mau pamit kepada Bunda, tolong beri aku jalan." Alina memohon agar Rey memberinya ruang untuk menemui Silvi dan Roi karena ia ingin berpamitan sebelum pulang.


"Jangan gunakan blouse itu lagi, terlalu ketat. Tidak baik dikenakan oleh seorang dosen juga calon istri dekan." Alina menundukkan kepalanya memeriksa pakaian yang dipakainya, ia merasa tidak ada yang salah dan tidak juga berlebihan. Ia mengenakan blouse berbahan rajut yang warnanya hijau pastel dipadukan dengan rok batik yang warna senada, menurut Alina pakaiannya malah terlalu sopan.


Alina berjalan dan mendorong Rey dengan pelan agar bergeser sedikit kesamping, Alina ingin cepat pergi dari hadapan Rey, ia tidak ingin berlama-lama jarena feelingnya berkata ada yang aneh dengan sikap Rey. Entah kenapa dari dulu sikap Rey selalu aneh menurutnya.


Rey tidak membiarkan Alina lewat begitu saja. Ia menarik tangan Alina yang tentu saja membuat Alina berontak. Tetapi tenaga Rey jauh lebih kuat, dibawanya Alina ke ruangan kosong.


"Apa maksud semua ini? Lepaskan !" Alina marah karena Rey mengunci pintu dengan cepat.


"Pelankan suaramu. Aku hanya ingin menanyamu satu hal." Rey menjelaskan maksudnya kepada Alina.


" Tanyakan sekarang! Aku akan menjawabmu. Setelah itu biarkan aku keluar." Ucap Alina yang melangkah mundur karena Rey terus berjalan mendekatinya.


"Apa kau mencintai Bima?" pertanyaan apa itu Alina menggelengkan kepalanya tidak mengerti maksud pertanyaan Rey.


"Jangan konyol kamu, Rey ! Tentu saja aku mencintainya. Bukankah kau tahu kami sudah bertunangan?" kini Rey berdiri begitu dekat di hadapan Alina. Tubuh Alina mepet ke tembok, ia sudah tidak bisa bergerak lagi Rey mengunci pergerakkannya.


"Kalau aku bilang. Aku mencintaimu. Apa kau mau meninggalkan Bima?"


"Sudah gila kamu, Rey." Alina mendorong Rey sekuat tenaga hingga tubuh Rey terpental menjauhinya. Alina cepat berlari, membuka pintu, dan meninggalkan Rey sendiri.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2