Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Maafkan aku, Bima


__ADS_3

"Maafkan aku. Aku telah ingkar terhadap cintamu. Sekarang mari kita hidup masing-masing. Aku tak pantas untukmu, Bima." Alina menyerah sudah. Ia benar-benar tidak tega menyakiti perasaan Bima, Bima dan orang tuanya sangat baik kepadanya.


oh...inikah balasan yang ku berikan kepada orang yang sudah berbuat baik padaku.


Bima menarik nafas berat jauh dari bayangannya Alina menyudahi hubungan mereka. Bima belum sepenuhnya mengetahui masalah yang dihadapi kekasihnya itu, justru saat bertemu Alina, ia meminta Bima melupakan kisah cinta mereka.


"Alina, mari kita mulai lagi. Sudah lama kita terpisah, aku sadar kalau hatiku menginginkanmu." Bima menunduk di luar kendalinya dua benda bening mengalir begitu saja membasahi pipinya.


"Bima. Itu sudah tidak mungkin. Aku tetap menyayangimu. Anggaplah aku sahabat atau adikmu. Aku menghormati mu." Alina merangkul Bima hatinya tidak tahan melihat Bima bersedih.


Rey dan Morin memperhatikan dari mobil setiap gerak gerik Alina dan Bima disana, jarak yang tidak terlalu jauh memungkinkah Rey dapat melihat dengan jelas Alina merangkul Bima.


"Kau menyukai perempuan itu?" Morin melihat garis-garis marah di wajah Rey.


"Hmm. Entahlah, Pa. Sepertinya aku salah menilai dia. Ia seperti wanita murahan saja."


"Rey. Alina milik Bima."


Rey mengalihkan pandangannya dari kedua orang yang saling merangkul di sana. Morin mengetahui putranya itu sedang marah. Rey enggan melihat kembali Alina dan Bima, ia meminta papanya untuk segera berangkat. Morin mengangguk mengiyakan ucapan Rey.


***

__ADS_1


Alina bingung harus mengerjakan apa sekarang, tidak ada siapa-siapa di rumah, bik Mirah sedang mengaso di kamarnya. Diam dan tidak melakukan apa-apa membuat Alina kesal.


Masalahnya dengan Bima sudah ada titik terang, mereka sepakat untuk tidak saling membenci dan menyakiti meskipun cinta di antara mereka sudah tidak mungkin dipertahankan.


Alina mendengar suara deru mobil masuk ke halaman rumah. Masih jam segini Rey sudah pulang. Diam-diam Alina memperhatikan Rey dari jendela kamarnya.


Tidak lama kemudian derap suara langkah kaki Rey kedengaran diseberang kamar Alina. Rey masuk ke kamarnya. Alina keluar dari kamarnya ia ingin bertanya kenapa Rey pulang cepat mungkin ada sesuatu yang diperlukannya.


tok...tok...


"Rey. Ini aku. Bisa aku masuk?" Alina mengetok pintu kamar Rey.


"Ada apa ?" tidak berapa lama pintu itu terbuka dan Rey berdiri di depannya.


"Tidak ! Jangan ganggu aku !"


prakkk....pintu itu kembali ditutup pemiliknya.


Alina menarik nafas, menatap pintu yang sudah tertutup lagi. Ia berjalan meninggalkan kamar Rey dan kembali masuk ke kamarnya.


Alina mengambil beberapa buku ia memutuskan membaca buku saja di balkon kamarnya.

__ADS_1


Dari balkon kamarnya Alina kembali mendengar deru mesin mobil yang memasuki halaman rumah.


" Jean." guman Alina hampir tidak kedengaran.


Alina membiarkan saja Jean masuk sudah pasti tujuannya bertemu Rey. Alina memilih tidak ikut campur urusan mereka. Alina akan segera pergi dari kediaman Morin, Jean orang yang tepat mengurus kesehatan Rey.


Alina semakin hanyut dalam bacaannya. Hobby yang tidak bisa ditinggalkannya. Kali ini ia membaca sebuah novel yang menceritakan tentang Cinta segitiga dari tiga orang yang bersahabat. "Akh...menyedihkan, kenapa kisah di novel ini hampir sama dengan kisah yang kualami." Alina termenung dan bertanya dalam hatinya.


Alina berjalan ke dapur untuk menemukan air minum, tenggorokkannya kering, ia membutuhkan minuman untuk membasahi tenggorokkannya.


Ketika sampai di dapur Alina terkejut melihat pemandangan di depannya. Rey dan Jean ada di sana mereka sedang berpelukkan dan saling menautkan bibirnya satu dengan yang lain. Mereka berciuman.


"Dasar tidak tahu malu." Alina mengumpat dalam hatinya ia memutuskan berbalik dan kembali ke kamarnya.


Rey dapat melihat Alina dari ekor matanya. Bibirnya terangkat sedikit ke atas. Ia sengaja melakukannya untuk membuat panas hati Alina.


"Rey ! Apa artinya kau menerimaku sebagai kekasihmu sekarang ?" Jean bertanya kepada Rey yang masih memikirkan Alina.


"Hmm. Aku tidak tahu. Mari kita coba untuk lebih dekat." Rey memberi harapan kepada Jean.


"Terima kasih, Rey. Ya...mari kita coba untuk lebih dekat." jawab Jean tersenyum lebar.

__ADS_1


Di kamarnya Alina mulai lelah. Matanya sedikit berair karena terlalu lama membaca akhirnya ia tertidur di kursinya.


Bersambung


__ADS_2