
" Oh...sayang, kau harus makan sedikit saja." Roi mengambil makanan yang berada dihadapannya, kemudian menyuapkannya kepada Silvi, tapi belum juga sampai makanan dimulutnya Silvi sudah merasa sesuatu mengaduk-aduk perutnya.
" Jauhkan makanan itu Roi ! Aku tak suka baunya. Lihat aku mual lagi." Silvi menutup mulutnya dengan tangan, sambil berlari ke toliet, karena aroma makanan yang disuguhkan Roi merangsang sesuatu ingin keluar dari mulutnya.
" Oek...oek...." Silvi memuntahkan semua isi perutnya di wastafel, ia menarik nafasnya perlahan, kemudian membuangnya begitu saja. Lemas dan pusing itu yang dirasakannya sekarang.
Roi memapah istrinya kembali untuk duduk di kursi. Ia membersihkan mulut dan pipi istrinya dengan tisue basah, agar kulit sekitar mulutnya tidak lengket akibat muntah.
" Kita ke rumah sakit sekarang." Roi mengambil ponsel di saku celananya, kemudian ia menelepon mamihnya untuk memberitahu kondisi Silvi akhir-akhir ini.
" Aku mau tidur saja Roi. Tidak perlu ke rumah sakit, sebentar lagi sudah enakkan." ucap Silvi menenangkan suaminya.
" No. Kita harus memeriksa apa penyakitmu, sudah seminggu kau seperti ini, tidak makan, dan mual." bantah Roi mendengar permintaan istrinya.
Beberapa menit kemudian.
Ting...tong...
" Tunggu sebentar ! Aku bukakan pintu." ucap Roi kepada istrinya yang masih duduk lemas, dan berjalan untuk membukakan pintu.
__ADS_1
" Dimana Silvi ? Apa kau sudah membawanya ke dokter ? " Nita mendorong pintu dengan cepat.
" Mam...tenang dulu. Silvi ada di ruang makan, tadi kami mau sarapan, tapi kalau berhadapan dengan nasi dan lauk pauknya, ia muntah, sekarang ia lemas, dan ini bukan hanya sekali, sudah beberapa hari ini." terang Roi kepada Nita yang masih mencari keberadaan Silvi menantunya
" Oh...boy. Tuhan memberi kalian rezeki yang besar. ." ucap Nita sambil tersenyum-senyum.
" Mam...Mami sehat kan?" Roi meletakkan tangannya di kening mamihnya untuk mengecek apakah mamihnya sedang sehat atau tidak.
" Jauhkan tanganmu ! " ucap Nita sambil menepis tangan Roi dari keningnya.
" Mamih nggak salah ngomong kan ? Silvi sedang tidak sehat, mamih bilang dapat rezeki besar. Oh...mam jangan buat Roi tambah pusing." Roi menepuk keningnya pertanda tak habis pikir dengan perkataan mamihnya.
" Wait...Wait. Disini rumah sakit dekat. Untuk apa telepon papa dan mama yang jauh di Medan. Please mam." ucap Roi meninggalkan mamihnya di depan pintu.
" Ma..Mama datang." Silvi berjalan perlahan menemui mertuanya. Sedari tadi Roi membiarkannya duduk sendiri di ruang makan. Sayup-sayup ia mendengar perdebatan mama Nita dan Roi.
Sontak Roi cepat mendekat dan memegang tubuh Silvi.
" Sayang, kau masih lemah. Duduk saja dulu."
__ADS_1
" Sayang sini ! Apa kalian sudah bertemu dokter ?" Nita merangkul bahagia menantunya, dengan rasa haru di ciumnya pipi Silvi berulang kali.
" Belum, mam. Silvi selalu menolak untuk pergi ke dokter." ucap Roi menunjukkan wajah kesal.
Nita melerai rangkulannya, ia menatap Silvi yang kelihatan lemas dan sedikit pucat.
" Duduklah !" Nita menuntun Silvi untuk duduk di sofa.
" Sayang, kemungkinan besar kau sedang mengandung." ucap Nita dengan wajah yang berbinar-binar sambil mengelus-elus rambut indah Silvi.
Silvi sedikit terkejut mendegar ucapan mamih Nita, tapi jauh dilubuk hatinya dia sangat senang akan mempunyai keturunan dari suaminya, orang yang sangat dicintainya.
" Roi. Cepat kau angkat istrimu ke mobil. Kita berangkat sekarang." lanjut Nita memerintah Roi.
Nita melihat Silvi memang benar-benar lemas dan pucat, seperti penjelasan Roi Silvi tidak bernafsu makan beberapa hari belakangan ini. Hal ini perlu diperiksakan ke dokter secepatnya. Seperti permintaan Roi saat ditelepon, agar menemani Silvi dan dia menemui dokter
Dengan senang hati Roi melakukannya, hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan mamihnya tadi. Usia yang tak terbilang muda, Roi sangat bersyukur bila dipercaya untuk memiliki anak dari pernikahannya dengan istri tercinta dalam waktu yang terbilang singkat sejak pernikahannya.
" Sayang. Kita akan punya baby." ucap Roi sambil mengecup pelan bibir istrinya.
__ADS_1
bersambung