
Raut wajah yang tadinya senang mendengar berita kelulusaƱya, kini Alina begitu marah, rasa bahagia itu sirna seketika, Rado tidak lkhlas membantunya dari gelagatnya Alina tahu kalau ia berharap kesedian Alina menjadi kekasihnya.
" Dasar laki-laki mesum !" geram Alina mengingat kejadian yang barusan dialaminya.
Sepasang mata sedari tadi mengawasinya dari jauh. Rey melihat Alina memasuki ruangan Rado salah satu dosen di kampusnya, tidak lama kemudian Alina keluar dengan tergesa-gesa dan raut wajah yang kelihatan kesal. Rey mencoba untuk mengabaikan perasaan ingin tahunya, tetapi hatinya berkata lain, tubuhnya justru menghianatinya. Rey berjalan cepat menyusul Alina.
" Ada apa lagi ? Tolong jangan membuat masalah lagi ! Saya tidak pernah mengganggu kalian, bukan ?" Rey menarik lengan Alina, ia membawanya ke taman belakang kampus yang tidak begitu ramai karena kebanyakan mahasiswa sedang berada di kelas.
" Untuk apa kau di ruangan pak Rado ?" Rey masih memegang erat lengan Alina, ia dengan jelas melihat ada rasa marah di kedua manik hitam milik Alina.
" Tolong jangan mencampuri urusanku !" Alina menghempaskan tangan Rey, genggaman Rey yang begitu kuat membuat usaha Alina sia-sia.
" Apa dia menyakitimu ?" Alina yang tidak siap dengan tarikan Rey ditangannya, membuat tubuh Alina oleng dan jatuh dipelukkan Rey.
Sepersekian detik Rey merasa hatinya menghangat, tidak bisa berbohong kalau ternyata Rey punya rasa dengan Alina, ada sesuatu yang berbeda di dadanya.
" Sekali lagi ! Itu bukan urusanmu, tuan !" Alina mendorong tubuh Rey dengan kuat, kali ini Rey lebih siap, ia tidak mau melepaskan tubuh Alina, malah semakin didekapnya dengan kuat.
Tangan kokoh itu beralih mengangkat dagu Alina yang sudah tidak memberontak lagi. Dipandangnya wajah Alina yang terlihat polos tanpa sentuhan make up, justru itu yang menarik bagi Rey, sepasang mata bulat dengan alis yang lentik, hidung bangir, dan bibir merah alami yang ditata begitu sempurna oleh yang maha kuasa.
Rey menatap wajah Alina, sepasang mata mereka saling menatap, dengan tatapan yang tajam Alina menunggu apa yang akan dilakukan Rey. Lain juga yang dirasakan Rey, semakin sepasang mata itu melotot karena marah semakin gemas Rey melihatnya.
Dengan perlahan Rey menurunkan wajahnya menggapai bibir merah Alina. Cup...Rey mengecupnya dengan penuh perasaan. Rasa bibir Alina begitu manis di mulutnya.
" Aku ingin kau menjadi milikku." ucap Rey di depan wajah Alina.
Bukan senang Alina malah meradang ini kedua kali ia merasa dilecehkan Rey. Sudah jelas-jelas punya kekasih, ia masih menginginkan Alina.
" Lepaskan aku !" Dengan sekuat tenaga Alina mendorong tubuh Rey.
" Aku memang orang miskin. Hanya seorang pelayan. Mungkin dihadapanmu aku tidak ada artinya. Tapi aku masih punya hati dan harga diri." ucap Alina, setitik embun terlihat di sepasang matanya. Ia berlari meninggalkan Rey dengan sumpah serapahnya.
Rey menatap kepergian Alina yang meninggalkannya sendiri. Rey juga tidak tahu entah mengapa ia begitu tertarik dengan Alina, padahal ia sudah memiliki Marissa yang begitu sempurna.
Rey menggelengkan kepalanya, dia berpikir pikirannya sudah mulai tidak waras, menyukai Alina sama saja menjatuhkan harga dirinya dan keluarga besarnya.
__ADS_1
*
*
Pertemuan kedua keluarga besar di Medan berlangsung dengan baik, kesepakatan telah diambil oleh orangtua mereka agar secepatnya hubungan putra putri mereka akan diresmikan dalam ikatan pertunangan.
Sementara Marissa yang mendapat kabar dari orangtuanya akan diadakan acara adat batak untuk meresmikan pertunangan mereka, bersorak bahagia.
" Keuntungan memang berpihak padaku." teriak Marissa dengan keras. Ia yakin orangtua Rey sangat setuju ia menjadi calon manantu keluarga Sinaga.
Marissa berdiri di depan cermin memandang setiap lekuk tubuhnya yang terlihat menarik dan seksi, wajahnya yang cantik sudah tentu Rey akan memilihnya untuk dijadikan sebagai istri.
Terbayang wajah Alina yang tidak ada apa-apanya membuat Marissa tertawa terbahak-bahak, hatinya mengejek keberadaan Alina di tengah-tengah hubungannya dengan Rey.
" Dia pikir dia siapa? Aku lebih dari segala yang ia punya." guman Alina yang terus menatap dirinya di cermin.
Puas dengan dialog tunggalnya, Marissa malam ini ingin bergabung dengan teman-temannya di club, tanpa Rey. Untuk saat ini Marissa tidak akan menganggu Rey dulu karena masalah mereka tadi siang. Marissa berharap Rey sadar dan menarik kembali ucapannya yang ingin meninggalkan Marissa.
" Icha !" seperti biasa teman-teman Marissa sudah ngumpul di club.
Marissa mengangkat kedua bahunya seolah-olah mengatakan tidak tahu keberadaan Rey.
Kini Marissa duduk bersama dengan teman-temannya, memesan minuman dan menikmati malam dengan dentuman musik yang keras.
" Apa aku kelihatan cantik ?" rancau Marissa yang sudah mabuk berat. Sudah beberapa gelas minuman diteguknya.
" Tentu saja. Kau wanita yang sempurna." Ayu yang menemani Icha tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Terdengar begitu konyol di telinganya.
" No...No..." Icha menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Aku bukan wanita yang sempurna. Kau bohong." lanjutnya dengan menunjuk-nunjuk wajah Ayu.
Steven yang melihat kondisi Marissa yang sudah mabuk berat langsung menelepon Rey, jika sedang mabuk Marissa memang susah dikendalikan.
" Icha mabuk berat. Cepat jemput dia."
__ADS_1
Rey yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya merasa terganggu dengan telepon dari Steven. Dengan perasaan kesal bercampur marah dia pergi untuk menjemput Marissa.
Rey sedang melajukan mobilnya di jalan raya, sebuah nada panggil kembali terdengar dari ponselnya. " Kenapa lagi dia ?" guman Rey. Ia meraih ponselnya, bukan Steven yang menghubunginya melainkan Silvi, kakaknya.
" Ya. Ada apa, kak ?" jawab Rey sambil menyetir mobilnya, perangkat ponselnya terhubung di audio mobil, jadi ia bisa fokus menyetir sambil berbicara di mobil.
" Rey. Papa dan mama barusan telepon ngasih tahu kalau adikku ini sudah tunangan rupanya. Selamat ya !" Rey menarik nafas berat, sebenarnya ia sedang tidak mau membahas tentang itu malam ini.
" Iya kak. Terima kasih, ya !" ucap Rey terpaksa menjawab pertanyaan Silvi dengan perasaan tidak enak.
" Apa Marissa sedang bersamamu sekarang ?"
" Tidak. Ia sedang ada tugas mungkin ? Jadi malam ini kami tidak bertemu."
" Baiklah. Nanti saja kalau kami ketemu. Aku ingin memberinya hadiah." ucap Silvi.
Rey menutup panggilannya. Dia tidak tahu bagaimana pendapat kakaknya bila melihat Icha berada di club malam-malam begini dasar menyusahkan saja.
Semakin larut semakin panas suasana di club, kini Marissa sedang asyik bergoyang ria dengan teman-temannya. Gerakan tubuhnya yang sudah tidak menentu karena pengaruh alkohol dan membuatnya lupa segalanya.
Beberapa pria tergoda melihat penampilannya yang seksi, beberapa pria ada yang mencoba-coba usil menjamah tubuhnya, untunglah Steven dan Ayu selalu ada di dekatnya sehingga para pria hidung belang tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat mesum.
Tidak butuh waktu yang lama Rey tiba di club, netranya mencari sosok Marissa di sana, dan ia menemukannya di lantai dansa. Rey menemui kekasihnya itu.
" Ayo pulang." Rey menarik Marissa yang berada diantara orang yang sedang berdansa.
" Aku tidak mau." Marissa menolak dibawa pulang oleh Rey " Kau mengganggu saja." karena kondisinya mabuk berat Marissa tidak tahu kalau yang berada disebelahnya adalah Rey.
Dengan kesal bercampur marah, Rey akhirnya mengangkat tubuh Marissa ala brydal style.
Klik....
Seseorang mengambil foto Rey yang sedang mengangkat tubuh kekasihnya.
Bersambung
__ADS_1