
Meta yang ditinggal Roi meninggalkan ruangan kerja Roi, ia masih kelihatan kesal, ia berjalan sambil menghentakan kakinya.
" Selamat siang nona ?" Mona berdiri dan menyapa Meta sebelum masuk ke dalam lift.
" Hmm. apa kau bekerja disini ?" Meta bertanya dengan nada sombong
" Kepala bagian keuangan, ya...itu jabatanku disini." ucap Mona ikutan sombong.
" Pantas saja."
" Apa maksudmu ? bukankah kamu tamu disini , bersikapla lebih sopan, sebelum securiti membawamu keluar."
Meta semakin meradang mendengar ucapan Mona. Ia mengangkat tangannya ingin menampar mulut tajam wanita di hadapannya.
" Meta..kau disini ? " suara Togar menghentikan tangan Meta yang ingin menampar Mona.
" Dan kau mengapa kau tidak berada diruanganmu untuk bekerja ? cepat kembali bekerja !" Togar sangat geram melihat tingkah Mona.
Mona berbalik dan meninggalkan Togar dan Meta yang masih berdiri di depan lift.
" Untuk apa kau kesini ? bukankah kemarin kita sudah membicarakan masalah itu ?" tanya Togar dengan nada sinis.
Ia berjalan meninggalkan Meta yang masih berdiri di sana argh....Togar kau sama saja seperti Roi, menyebalkan
" Togar.."
__ADS_1
Togar menghentikan langkahnya, beberapa karyawan yang ada disekitar mereka merasa terkejut mendengar teriakan Meta.
" Keputusan akan segera diambil, pulanglah..besok pasti masalah ini sudah selesai." Togar berjalan kembali memasuki ruangan kerjanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara Roi mempercepat laju mobilnya ingin segera bertemu Silvi, ya...Silvi sudah salah paham melihat kejadian di kantor tadi dengan perempuan yang sama sekali belum pernah di lihatnya.
Roi menutup pintu mobilnya dan berlari masuk ke rumah Morin.
ting...tong...
" Roi.." Uli terlihat kaget karena Roi datang dengan nafas yang tersegal -segal.
" Ada apa ?" Uli membuka pintu rumah dan membawa Roi masuk kemudian duduk di sofa.
" Bukankah dia pergi ingin menemuimu ?" Roi menarik nafas panjangnya, itu menandakan Silvi belum pulang, tapi kemana dia, Roi bertanya- tanya dalam hatinya.
" Roi, apa ada masalah ?" Uli melihat Roi gusar.
" Sebenarnya....cuma salah paham, Silvi melihatku sedang bicara dengan seorang wanita, sebenarnya aku sedang marah hingga kami saling menatap, Silvi masuk dan tidak tahu ceritanya, kemudian pergi, aku rasa ia pasti marah." Roi tertunduk lesu.
" Roi, jelaskan kepada Silvi dengan baik, kau tahu sifatnya bukan ?" Uli menenangkan Roi yang masih gelisah.
Dan...crekkk..
__ADS_1
" Silvi." Roi berdiri dan langsung berjalan menemuinya.
Silvi baru saja membuka pintu, ia melihat Roi sedang berbicara dengan mamanya, ia sudah tahu sedang ada dirumahnya karena mobilnya ada di luar.
" Dari mana? Aku bisa jelaskan yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau pikirkan." Roi mendekat dan memegang kedua tangan Silvi.
Silvi hanya diam dan terus berdiri dan sengaja membuang pandangannya dari Roi.
Uli menarik nafasnya ia berpikir Roi dan Silvi perlu bicara, ia meninggalkan tempat duduknya.
Roi menangkup jedua belah pipi Silvi.
" Lihat aku ! kau sedang marah karena cemburu ?"
Silvi menatap Roi, memang tidak ada dusta disana, Silvi juga tak mengerti mengapa ia menjadi begitu marah dan kesal kepada Roi.
" Kalau aku ingin sudah dari dulu kulakukan. Aku hanya mencintaimu, jangan marah lagi ya.." Roi membawa Silvi kepelukkannya.
Silvi memahami maksud ucapan Roi, dua tersenyum, sebenarnya dia malu karena tingkahnya yang kekanak - kanakan.
" Sudah tidak marah ? " Roi melerai pelukannya.
Merona sudah wajah Silvi.
" Nanti aku jelaskan." Roi mengecup kening Silvi.
__ADS_1
Silvi mengangguk dan tersenyum kepada Roi.
Bersambung