
Bobi dan Tomas masih betah saling bertukar cerita, perbincangan mereka sesama asisten yang menjalankan perusahaan besar menjadi pembahasan yang menarik.
Berbeda dengan Marissa sudah sekitar dua jam ia berada di tempat pameran tersebut, tidak ada hal yang menarik di matanya, dimana semua orang sedang berpikir untuk memperkenalkan produk-produk perusahaan mereka masing-masing, Marissa malah berpikiran bagaimana cara agar bisa meninggalkan tempat itu dengan cepat.
"Nona Marissa. Mari kita perkenalkan perumahaan kita yang akan lounching sebentar lagi." Bobi menarik tangan Marissa dan membawanya ke depan panggung yang sudah disiapkan di sana.
"Bicaralah. Perkenalkan bahwa perusahaan nona adalah salah satu pengembang perumahan yang sedang dipamerkan." Bobi berbisik di telinga Marissa.
Semua yang hadir tersenyum melihat kedekatan Marissa dan Bobi asistennya. Mereka mengira mereka mempunyai hubungan spesial, hal itu biasa terjadi di dunia usaha, pemimpin dan sekretarisnya menjadi kekasih.
"Kau saja. Aku tidak tahu harus ngomong apa." Marissa membalas ucapan Bobi, ia melemparkan senyumnya kepada semua orang untuk mengurangi kegugupannya.
"Wanita itu sungguh menarik dan cantik sekali. Apakah mereka sepasang kekasih ?" Bima mendengar pembicaraan para pria yang berdiri disampingnya sedang memuji Marissa.
Bima menggerutu dalam hatinya " Andai kalian tahu dia perempuan seperti apa aku yakin kalian akan menarik kata-kata yang baru saja kalian ucapkan. Ia perempuan nakal."
Akhirnya Bobi yang angkat bicara menjelaskan perumahaan yang sedang mereka pamerkan. Marissa hanya mengangguk-angguk mengiyakan semua penjelasan Bobi.
"Sudah selesai ?" Marissa bertanya kepada Bobi karena ia sudah diam.
Setelah menyelesaikan penjelasannya Bobi dan Marissa turun dari panggung. Banyak mata yang menatap cemburu keserasian Bobi dan Marissa, meskipun diantara mereka tidak ada hubungan khusus hanya atasan dan bawahan saja.
Marissa meninggalkan tempat itu, pikirannya sudah terlalu sumpek di sana. Ia akan ke club sekarang.
__ADS_1
Braakk
Karena Marissa berjalan sambil menelepon teman-temannya untuk menanyakan apakah mereka masih di club. Marissa tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf. Saya sedang buru-buru." Marissa merapikan bajunya kemudian berjalan meninggalkan orang tersebut.
"Hei...sialan, kau malah pergi begitu saja."
Marissa berbalik melihat pria yang meneriakinya, rupanya pria itu juga sedang menelepon seseorang karena ia menabraknya telepon genggam pria itu pecah dan kepingannya berserakkan di lantai
" Kau..?" refleks mereka berdua terkejut.
Marissa merogoh tasnya dan mengambil dompet di dalamnya, ditariknya satu kartu berwarna gold.
"Urusan kita selesai. Aku tidak mau bertemu kau lagi." Marissa melengos meninggalkan Bima.
Merasa dilecehkan Bima memungut kartu gold yang tergeletak di lantai karena dilempar Marissa tadi.
" Ambil ini. Aku tidak mau memakai uang haram." Bima menarik tangan Marissa dan meletakkan kartu di telapak tangannya.
"Apa ?" Marissa sudah tidak sabar dengan kata-kata Bima. Hatinya begitu sakit.
Praakk
__ADS_1
Marissa sudah tidak sabar lagi untuk memberikan pelajaran bagi Bima. Ia mengambil dan memasukkan kartunya kembali dalam tas.
"Terima kasih." Marissa berbalik kembali, dengan setengah berlari ia menghampiri mobilnya.
Bima meraba pipinya yang terasa panas akibat pukulan Marissa. Ia sempat melihat Marissa meneteskan air matanya sebelum meninggalkannya.
Bima berbalik dan memandang ponselnya yang hancur berantakkan di lantai. Sudah tidak mungkin lagi untuk di pergunakan, tetapi Bima terap memungutinya, ia akan memeriksa nomor-nomor penting dari kerabat dan rekan kerjanya untuk dipindahkan ke ponsel yang baru.
***
"Ini masih jam kerja, kenapa kau seenaknya membawaku pergi." Rey menarik tangan Alina agar mengikutinya. Rey sudah mengajak Alina dengan cara baik-baik, tapi ia menolak karena alasan masih jam kerja, akhirnya Rey menariknya sudah tentu karyawan lain memandang dengan beberapa pertanyaan di benak mereka melihat tingkah pimpinannya dengan karyawan yang baru bekerja.
"Kita ke mall sekarang."
"Rey ! Oh...astaga." Alina sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi Rey sudah menguncinya di dalam mobil.
Selang beberapa waktu Rey dan Alina sudah tiba di sebuah mall. Rey memilih beberapa gaun dan Rok.
" Rey ! Cukup !"
" Seharusnya kau berpakaian seperti Jean, ia memakai gaun dan rok, itu kelihatan lebih sopan dan elegan." Rey menenteng tas plastik di tangannya sambil mengambil beberapa baju lagi untuk Alina.
Alina hanya diam mengikuti Rey yang masih sibuk memilah baju dan gaun untuknya. Ia tidak mengambil pusing perkataan Rey tentang Jean. Jean memang pantas mendapatkan pujian dari Rey.
__ADS_1
Bersambung