Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
jangan muncul dihadapanku


__ADS_3

Marissa kaget dengan ucapan Bima barusan, Bima mengakui ia sebagai istrinya. Marissa menelan salivanya, rasa senang menyeruak begitu saja dalam hatinya.


"Apa anda mual nyonya ?" dokter bertanya sambil memeriksa bagian perut Marissa.


"Tidak. Perutku terasa nyeri." ucap Marissa sambil meringis.


Bima menggenggam tangan Marissa dengan erat, kekhawatirannya tampak begitu jelas.


"Dia sedang hamil. Apakah selama kehamilan nyonya sering mengalami seperti ini?" dokter mengarahkan Marissa untuk diperiksa dengan USG.


"Tidak pernah." jawab Marissa.


" Maaf. Saya akan memeriksa janin di rahim nyonya." Bima sedikit kesal melihat dokter pria yang memeriksa Marissa menaikkan baju Marissa dan mulai memeriksa kehamilannya.


Setelah dokter selesai memeriksa kandungan Marissa, ia mengajak keduanya duduk bersama untuk menjelaskan kondisi bayi yang sedang di kandung.


"Kandungan nyonya sangat lemah, syukurlah kalian cepat membawanya ke rumah sakit. Stress ibunya tidak boleh berlebihan dan satu lagi jangan terlalu banyak bekerja dulu." jelas dokter sambil menulis resep obat untuk Marissa.


"Apakah ada yang serius, dok ?"Marissa bertanya penasaran.


"Hanya perlu istirahat lebih banyak dan komsumsi makanan yang bergizi. Ini vitamin sudah saya resepkan. Boleh dibeli di apotek."

__ADS_1


"Bagaimana dengan istri saya, apa perlu di rawat di rumah sakit." Bima khawatir dengan kondisi Marissa.


"Tidak perlu, pak. Sekarang boleh pulang." jelas dokter.


Bima menarik nafas lega.


" Terima kasih, dok." ucap Bima.


Sementara Hadi memutuskan menyusul putrinya ke rumah sakit karena Bobi baru saja memberitahu kalau Marissa sedang berada di sana.


Tidak membutuhlan waktu yang lama, dengan dikawal dua orang bodyguardnya Hadi tiba di rumah sakit, tergesa-gesa ia ingin segera mengetahui kondisi putrinya itu.


Bobi yang menyambut kedatangan boss nya itu langsung membawa Hadi ke ruangan dimana Marissa di rawat.


Hadi menatap Bima dengan sinis, ia tidak habis pikir kenapa laki-laki itu ada di dekat putrinya.


"Untuk apa kau disini ?" belum juga mendapat jawaban dari putrinya Marissa, Hadi malah membentak Bima.


"Papa. Bisa aku bicara."


Hadi langsung mengalihkan pandangan kepada putrinya yang terbaring.

__ADS_1


"Katakan, papa mendengarkanmu." Hadi merasa inilah saatnya ia menunjukkan kasih sayang seorang ayah kepada putrinya, yakni Marissa.


"A..a..ku."


"Aku akan bertanggung jawab atas kehamilan Marissa. Aku ingin menikahinya." Bima menyela pembicaraan Marissa.


Sontak Hadi terkejut dengan pernyataan Bima, baru hitungan jam ia menolak untuk menerima putrinya, sekarang malah meminta putrinya menikah dengannya.


"Stop, omong kosongmu. Putriku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu." Hadi marah.


"Kau pikir membangun rumah tangga seperti sebuah lelucon, sebentar kau bilang tidak, sebentar kemudian kau bilang iya." lanjut Hadi berang.


"Tuan. Maafkan aku...Sekarang aku yakin aku dan Marissa terikat suatu hubungan, calon bayi kami ada di rahimnya." Bima berusaha membuat Hadi percaya padanya.


"Papa. Tolong restui kami. Aku...a..ku..tidak mau berpisah dengan Bima." Marissa ikut meminta papanya merestui hubungan mereka.


Hadi semakin kesal melihat Marissa yang ikut-ikutan membela Bima.


"Bobi. Siapkan keberangkatannya besok. Aku tidak mau menunda keberangkatannya lagi." Dengan tegas Hadi meminta Bobi tetap mengurus kepergian putrinya itu artinya ia ingin putrinya berpisah dari Bima.


"Dan kau laki-laki tak punya pendirian, mulai hari ini jangan muncul lagi dihadapanku." tunjuknya pada Bima.

__ADS_1


Bobi yang menyaksikan semuanya tidak tega melihat Marissa yang terpukul dan merasa sedih atas keputusan papanya.


bersambung


__ADS_2