
Togar baru saja kembali ke perusahaan, setelah beberapa jam ia meninggalkan ruangannya, akhirnya ia sudah tenang kembali setelah bertemu dengan Indah.
" Aku mencarimu, dari mana saja kau?"Rima meletakkan laporan meeting siang tadi di meja Togar.
" Maafkan aku, tadi aku ada urusan yang harus kuselesaikan." Togar membaca laporan yang baru saja diletakkan Rima.
" Hmm...lain kali beritahu aku jika kau keluar, aku bingung mencarimu." Rima tersenyum meninggalkan Togar.
Bibir Togar sedikit terangkat ke atas, ia mengetahui sebenarnya Rima masih akan bertanya mengenai kepergiannya, ntah kenapa perempuan yang satu itu bisa membaca hati seseorang.
Ponsel Togar bergetar, arghh...dia lagi.
" Hallo"
" Pekerjaanmu memang selalu cepat dan tepat, urusan keuangan sudah dibereskan." terdengar suara diseberang telepon
" Jangan hubungi aku lagi, kami sudah memilih kerjasama dengan bank lain." dengan suara malas Togar menjawab.
" Hmm...bisakah kita bertemu ada yang ingin aku bicarakan."
" Tidak ! Aku sedang sibuk !"
Togar mematikan telepon secara sepihak. Dia sudah tak mau berhubugan dengan perempuan itu.
Di tempat lain Meta marah dan melemparkan ponselnya dengan kasar ke meja, ia kesal dengan sikap Togar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Hari ini Roi dan Silvi sedang mengurus beberapa surat untuk keperluan pernikahan mereka.
Enam bulan ke depan mereka akan mengikuti bimbingan konseling pranikah, hal ini akan dilaksanakan di Jakarta, di tempat keluarga Michell dan Nita berjemaat.
" Semua sudah beres, arghh...aku sangat lelah." ucap Silvi.
" Istirahatlah ! " Roi mengelus lembut rambut Silvi.
" Sayang, Roi, kalian sudah pulang." Uli berjalan menghapiri putrinya dan Roi.
" Nantulang, kami baru saja selesai mengurus surat-surat dari gereja."
" Ada kendala Roi ?" Uli duduk disebelah Silvi
" Tidak ada ma, semuanya lancar kok." jawab Silvi tersenyum.
Roi terlihat begitu senang, nantulangnya masak ikan mas arsik, Roi sudah pernah mencicipi sebelumnya dan itu enak sekali, belum pernah ia memakan ikan seperti masakan nantulangnya itu, mami Nita lebih pintar mengolah makanan chinese food kesukaan papihnya.
" Hmm...apa setelah menikah kau akan memasakkan seperti ini untukku, aku sangat menyukainya." bisik Roi ditelinga Silvi.
Silvi menatap Roi, kemudian ia menjawab.
" Aku akan minta mama masakin untukmu setiap hari." jawab Roi
" Tapi aku ingin kau yang memasakkannya." balas Roi lagi.
Silvi tersenyum dan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
" Untuk calon suamiku, aku akan belajar memasak ikan seperti ini."
Roi tersenyum mendengar jawaban Silvi.
Uli yang sedari tadi memperhatikan tingkah Roi dan Silvi tersenyum melihat keisengan Roi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain Arnold dan Mona sedang menyusun rencana untuk menghancurkan perusahaan yang dipimpin Togar.
" Kau kerjakakan seperti yang kuperintahkan, kau mengerti ?" Arnold mempertegas katanya, agar Mona memahami apa yang harus dilakukannya.
" Tapi bagaimana bila mereka mengetahuinya ?" suara Mona terdengar ragu
" Itu tak akan terjadi, sebelum mereka mengetahuinya kita sudah pergi dari sini." ucap Arnold sambil menghisap rokok yang sedari tadi di pegangnya.
" Ta...ta..pi, a..aku tidak ingin jauh dari Roi." dengan terbata-bata Mona mengutarakan isi hatinya.
Hahaha....Arnold terbahak-bahak mendengar perkataan Mona.
" Mengapa kau begitu bodoh, hah ? Dia akan menikah dengan perempuan itu. Simpan saja mimpimu itu." Arnold meninggalkan Mona yang masih duduk tertunduk.
Ada rasa sedih di hatinya, semula Arnold berjanji kepadanya untuk mendekatkan ia dengan Roi, tapi semuanya sepertinya tidak akan terwujud.
Ohhhhh.. Mona 😢😢
Bersambung
__ADS_1