
"Bapak kau kok tidak datang pan?" Tanya Antok saat Topan kembali ke kumpulan rekan-rekan nya.
Topan tersenyum getir dan menundukkan pandangannya.
Suprapto yang mengerti semua tentang Topan pun, lantas menepuk bahu Antok. Memberikan syarat bila Antok jangan bertanya tentang Amoroso kepada Topan. Suprapto adalah tempat Topan mencurahkan isi hatinya tentang bagaimana sikap Amoroso kepada dirinya. Maka, Suprapto tahu betul bila Topan tidak akan bisa menjawab pertanyaan dari Antok.
"Kenapa bang?" Tanya Antok.
"Ish.. kau ini." Suprapto mendelik kan matanya.
"Eh, bang.. Tok.. aku mau ke toilet sebentar ya. Mau buang air kecil," Topan tersenyum kepada para sahabatnya dan beranjak masuk ke gedung kantor tersebut. Topan berjalan ke arah toilet kantor. Setelah ia menemukan toilet tersebut, ia pun beranjak masuk kedalam salah satu bilik yang ada di dalam toilet itu.
Topan duduk diatas closet dan mencoba menenangkan dirinya. Entah mengapa, bila ada yang membahas Amoroso, dirinya merasa emosi. Karena sejatinya Topan pun heran dengan bapak nya itu, mengapa terlihat sangat benci dan tidak peduli pada dirinya. Jangankan kenaikan pangkat di usia dirinya yang sudah 32 tahun ini. Sejak ia sekolah pun, bapak nya itu tidak pernah peduli pada dirinya. Terlebih, saat Pinky hadir dalam keluarga mereka. Amoroso tidak segan-segan mengagung-agungkan Pinky di gendongan nya, sedangkan Topan hanya duduk diam tanpa disapa oleh nya.
"Apa salah ku pak?" Gumam Topan.
Selang berapa saat, terdengar beberapa langkah kaki memasuki toilet tersebut. Masing-masing dari mereka pun terdengar berbincang sambil membuang air seni di pot urinal pria. Tepat di depan bilik dimana Topan sedang berada.
"Salah satu dari yang di angkat tadi kan anak pak Amoroso ya?" Ucap pria pertama.
Topan mulai memasang telinganya, saat ia menyadari bila dirinya sedang diperbincangkan.
"Iya, anak jendral." Sahut pria kedua.
"Kenapa pak Amoroso tidak hadir? Bukan kah itu anak nya. Aku merasa lucu, selama ini bahkan mereka terlihat tidak saling mengenal." Ucap pria yang pertama lagi.
"Kau belum tahu gosipnya?" Tanya pria pertama.
"Gosip apa?" Pria kedua pun terdengar mengecilkan suaranya dan penasaran.
Topan yang sedang berada di dalam bilik pun, juga terkejut. Ia mengangkat sepatunya perlahan agar tidak terlihat dari bawah, dan memasang telinganya baik-baik.
"Gosip yang beredar katanya Topan itu bukan anak Amoroso! Baru-baru ini aku mendengar dari istriku."
Jegeerrrrrr...!
Bagaikan tersambar petir, Topan terkejut dengan apa yang di ucapkan pria tersebut.
"Serius?"
"Iya, gosip itu sudah tersebar di kalangan kita. Masa kau tidak tahu?"
"Tidak tahu aku bang. Aku kan belum ada istri."
"Hahahahaa.... makanya kau aku beritahu."
"Eh, ini anak tiri atau anak...."
"Sttttt... ada orang gak? Coba kau cek?"
__ADS_1
Pria kedua mencoba mendorong satu persatu bilik yang ada di belakang mereka. Tiba giliran di bilik Topan, pintu bilik itu tidak terbuka. Mereka berdua pun terdiam.
"Ada orang," Bisik pria kedua.
Saat itu juga Topan beranjak keluar dan menatap dua orang di hadapannya dengan tatapan yang dingin.
"To- to- topan!" Dua pria itu tampak sangat terkejut. Lalu, mereka terlihat salah tingkah.
"Gosip murahan seperti apa yang kalian bicarakan?" Tanya Topan dengan nada suara yang datar.
"Pan, maaf.. kami...."
Topan menghampiri mereka berdua dengan tubuh tegapnya dan sorot mata yang memerah.
"Siapa yang mengatakan kalau aku bukan anak kandung?" Tanya Topan.
Pria kedua menunjuk pria pertama dengan gugup.
Topan mengisyaratkan kepada pria kedua untuk keluar dari toilet itu, hanya dengan menggerakkan kepalanya ke arah pintu toilet.
Pria kedua pun keluar dengan wajah yang pucat dan dengan terburu-buru.
Topan meraih kerah seragam pria pertama dan menatapnya dengan penuh amarah.
"Apa yang kau bicarakan!" Tanya Topan.
Pria pertama tampak gugup dan gemetar.
"Apa yang kau bicarakan!" Teriak Topan.
Suara teriakan Topan terdengar hingga keluar toilet tersebut. Beberapa orang yang berada di lorong toilet itu pun menyadari bila sesuatu terjadi di dalam toilet tersebut. Terlebih saat pria kedua mencoba mencari bantuan kepada mereka.
Beberapa anggota pun menerobos masuk kedalam toilet tersebut dan mendapatkan Topan sedang menarik kerah baju salah satu personil.
"Topan! Ada apa!" Tanya salah satu pria dengan pangkat yang lebih tinggu dari Topan.
Topan bergeming, matanya terus menatap pria yang menggosipkan dirinya.
"Topan, ini perintah! Lepaskan dia!"
Topan menghela nafas panjang dan menatap atasan nya dengan tatapan yang masih terlihat emosi.
"Topan!"
Topan melepaskan kerah baju pria itu dan merapikan nya dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Ada apa Topan?" Tanya atasan Topan yang kini berjalan mendekati Topan.
"To-to-topan saya minta maaf," Ucap pria pertama.
__ADS_1
Topan menghela nafas panjang dan menatap atasannya. Lalu, ia memberikan hormat.
"Siap! Saya meminta maaf atas sikap saya!" Ucap Topan. Lalu, ia melangkah keluar dari toilet tersebut dan berjalan menuju ke lapangan kembali. Terlihat satu persatu orang yang berada di lapangan tersebut sudah membubarkan diri. Mata Topan tertuju ke arah Erna yang masih berbincang di sisi pinggir lapangan bersama dengan Guntur dan Lestari.
"Pan," Suprapto menyapa Topan yang melewati dirinya dengan wajah yang terlihat sangat emosi.
"Pan!" Panggil Suprapto lagi. Tetapi Topan bergeming, ia terus melangkahkan kakinya ke arah Erna yang tersenyum kepada dirinya.
"Kau!" Suprapto tampak menyalahkan Antok yang mengungkit tentang Amoroso kepada Topan.
"Aku pula yang salah..." Antok mengeluhkan Suprapto yang menyalahkan dirinya.
"Topan," Sapa Erna saat Topan menghentikan langkahnya di depan Erna.
Gosip itu mengacaukan pikiran sehat Topan. Karena memang sikap Amoroso tidak seperti ayah kandung baginya. Sedikit banyaknya, gosip itu sangat masuk diakal bagi Topan. Dan kini, ia ingin mendengar langsung dari bibir Erna, yaitu ibu kandungnya.
"Bu, bisa berbicara sebentar."
Erna mengerutkan keningnya dan menatap Topan dengan seksama.
"Kenapa le?"
"Sebentar saja," Pinta Topan.
Erna beranjak dari duduknya dan mengikuti Topan yang berjalan terlebih dahulu darinya.
Hingga mereka berdua tiba di sisi gedung yang sepi.
"Sebenarnya aku anak kandung bapak atau bukan?"
Deggggg...!
Bagaikan bongkahan batu yang menimpa dada Erna, pertanyaan Topan begitu menyakitkan di telinganya.
"Jawab bu, siapa ayah kandungku?" Desak Topan.
"Ka-kamu.. Kamu mendengar go-gosip itu?"
"Jawab bu!" Topan mulai di kuasai oleh emosinya.
"To-Topan.. tentu saja kamu anak nya bapak mu."
"Iya, bapak siapa namanya? Amoroso? Aku tidak merasa Amoroso menganggap aku anak nya. Dari kecil aku dianggap tidak ada! Aku di acuhkan! Dimarahi! Dipukul! Tidak ada kata sayang! Tidak ada perlakuan layaknya seorang ayah kepada anaknya bu!"
Air mata Erna mengalir deras di pipi tuanya. Lalu, ia beranjak dari hadapan Topan begitu saja.
"Bu!" Topan menghalangi langkah Erna dan menatap ibunya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Topan, kita bicara di rumah. Ibu pulang dulu." Tegas Erna.
__ADS_1
Topan menghela nafas panjang dan terdiam membisu. Ia hanya mampu menatap Erna, Guntur dan Lestari pergi meninggalkan area tersebut.
"Astaghfirullah," Topan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Pikirannya sangat kacau dan ia pun menyandarkan punggungnya di dinding gedung tersebut.