
Pagi ini, terlihat rona merah di pipi Berta, saat wanita itu baru saja keluar dari kamar Pongki, disaksikan oleh Bella dan Topan yang sama-sama keluar dari kamar masing-masing untuk pergi sarapan ke restoran hotel. Bella menatap Berta dengan tatapan curiga, sedangkan Pongki terlihat santai, saat Bella dan Topan menatap dirinya dan Berta.
"Mami..."
"Hmmmmm, ya..." Sahut Berta dengan senyum yang dikulum.
"Hmmmm..." Bella tersenyum menggoda.
"Apaan sih kamu.." Berta tertawa dan menundukkan wajahnya.
"Cieeee yang sudah akur," Ucap Bella dengan ekspresi wajah yang meledek orangtuanya.
"Hust!" Berta menggandeng tangan Pongki dan berjalan mendahului Bella dan Topan.
Saat itu juga, pandangan Topan dan Bella bertemu. Mereka sama-sama terdiam dan hanya memberikan senyuman kecil dan berjalan berdampingan.
Mereka berempat masuk kedalam lift. Seperti biasa, Bella dan Topan di belakang Pongki dan Berta yang terus bermesraan. Hingga membuat Bella dan Topan menjadi salah tingkah sendiri, melihat kemesraan Pongki dan Berta.
Bella melirik Topan yang tampak sangat santai pada pagi ini. Lelaki yang memiliki tinggi 180 sentimeter itu, terlihat semakin tampan dengan kemeja putih yang ia pakai. Sedangkan untuk bawahan nya sendiri, Topan memakai celana pendek berbahan katun, serta sandal. Kulit Topan yang putih, terlihat semakin bersih dengan setelah itu. Tidak terlihat sedikitpun bahwa dirinya adalah seorang supir.
Sebenarnya, Topan sengaja berpenampilan menarik pada pagi ini. Ia hanya tidak ingin Bella malu bila berjalan dengan dirinya. Karena hari ini, mereka sudah berjanji akan jalan bersama lagi dan membiarkan Berta dan Pongki menghabiskan waktu bersama, tanpa ada gangguan dari mereka.
Di meja restoran yang memiliki 4 buah bangku, di isi oleh Topan dan keluarga Pongki. Karena Berta ingin duduk di dekat Pongki. Maka, terpaksalah Bella duduk disamping Topan. Tidak seperti biasanya, perhatian Berta hanya tertuju kepada Pongki. Hingga pemandangan di depan Topan dan Bella, membuat mereka berdua menjadi kikuk dan cepat-cepat menghabiskan sarapan mereka. Setelah itu, mereka pun berniat untuk keluar bersama mencari tempat untuk merental sepeda motor, seperti permintaan Bella.
"Mami, dad, aku pergi dulu ya sama Paijo," Ucap Bella.
Topan mengangkat wajahnya dan menatap Bella. Tidak biasanya Bella berpamitan dengan mengikut sertakan namanya juga.
"Oh, mau kemana kalian hari ini?" Berta menatap Bella dan Topan.
Topan hanya tersenyum, sedangkan Bella menatap Topan sekilas dan kembali menatap kedua orangtuanya.
"Mau ke Kintamani," Sahut Bella.
"Loh, itu jauh loh. Pakai saja mobil rentalan daddy. Itu sudah sama supirnya. Sebentar lagi, supirnya datang."
Bella kembali menatap Topan, dia tampak berpikir sejenak.
"Hmmm, tidak usah. Biar kami merental sepeda motor saja, biar asik,"
__ADS_1
Berta, Pongki dan Topan tercengang dan menatap Bella dengan seksama.
"Kamu tidak biasa-biasa nya seperti ini Bella. Apa tidak capai berada di atas sepeda motor? Kintamani itu jauh loh..." Berta terlihat bingung dengan sikap Bella.
"Tidak apa-apa, aku ingin mencoba naik sepeda motor." Tegas Bella.
Berta menatap Pongki, sedangkan Pongki menatap Topan. Topan pun menundukkan pandangan nya.
"Kamu yang bawa Jo?" Tanya Pongki.
"Ngeh pak boss," Sahut Topan dengan ragu-ragu.
"Kamu lancar mengendarai sepeda motor?" Tanya Pongki lagi.
"Ngeh pak boss," Sahut Topan.
"Punya surat izin mengemudi sepeda motor?" Pongki terus bertanya, hanya untuk memastikan anak nya aman saat berkendara dengan Topan.
"Ngeh, ada pak boss,"
"Ahhhh... ya sudah kalau begitu. Have fun..." Pongki tersenyum kepada Topan dan Bella.
"Terima kasih pak boss," Sahut Topan.
"Ya, tidak apa-apa. Daddy percaya bila kamu pergi dengan Paijo."
Topan mengulum senyumnya saat mendengar ucapan Pongki.
"Bye mam, dad," Bella mengecup pipi kedua orangtuanya. Disusul dengan Topan yang turut berpamitan dengan Pongki dan Berta.
Mereka melangkah dengan berdampingan saat meninggalkan restoran hotel tersebut. Sedangkan Berta dan Pongki menatap punggung mereka dari kursi mereka.
"Sayang sekali ya," Celetuk Berta.
"Apa?" Pongki menatap istrinya dengan tatapan yang serius.
"Andaikan Paijo itu bukan supir, aku mau dia menjadi menantu kita. Dia anak baik dan sopan. Sayangnya, dia itu supir."
Pongki terdiam, ia kembali menatap punggung Bella dan Topan dari kejauhan.
__ADS_1
Apa yang ada di dalam pikiran Berta, sebenarnya ada dipikiran nya. Ia sempat berpikir, bila Topan itu anak yang baik, taat beribadah dan bijak. Selain itu, wajah dan tubuh Topan lebih mirip seorang model dari pada hanya sekedar supir. Andaikan Topan bukanlah supir, mungkin saja dirinya akan menjodohkan Bella dengan Topan.
Bukan memandang rendah suatu profesi. Bagaimana pun, mereka adalah orangtua yang ingin anak mereka mendapatkan lelaki yang sepadan. Walaupun, sebenarnya pendidikan juga bukan jaminan, seorang lelaki akan mampu menjadi imam yang baik untuk seorang wanita.
"Sayang, andaikan Bella jatuh cinta dengan Paijo, bagaimana?"
Pertanyaan Berta membuat Pongki merasa dilema untuk menjawab nya. Pongki menghela nafas panjang dan menatap kedua mata istrinya.
"Kalau kamu?"
"Lah, aku bertanya dan kamu balik bertanya?" Berta mengerutkan keningnya.
Pongki kembali menghela nafas panjang, ia benar-benar terlihat gelisah.
"Sebenarnya, aku tidak pernah merasa rela bila Bella jalan dengan lelaki mana pun. Tetapi dengan Paijo, aku merasa tidak perlu khawatir menitipkan Bella pada anak itu." Ucap Pongki.
Berta terdiam, ia menundukkan wajahnya.
"Jadi kamu setuju?" Tanya Berta, sambil mengangkat wajahnya dan menatap Pongki dengan seksama.
"Dibilang setuju sih enggak juga. Tapi.. apa iya kita akan melarang mereka, bila mereka sama-sama jatuh cinta? Aku takut, kalau aku banyak syarat sebagai orangtua, Paijo akan melakukan hal yang sama seperti aku. Seorang lelaki, atas nama cinta, ia akan melakukan apa pun, demi mencapai apa yang ia inginkan dan di inginkan oleh calon mertuanya. Aku tidak mau Paijo seperti aku."
Berta terdiam mendengarkan penjelasan Pongki.
"Andaikan mereka bersama, aku akan menyerahkan salah satu usaha ku, untuk dijalankan oleh Paijo. Biar dia belajar dan berusaha, tanpa kita menekan nya. Kita berikan dia pondasi yang kuat, untuk bertanggung jawab dengan Bella. Agar dia tidak mengambil jalan pintas untuk memantaskan dirinya dengan kita."
Lagi-lagi Berta merasa terpukul dengan ucapan Pongki. Berta teringat, betapa keras nya orangtuanya melarang dirinya untuk menikah dengan Pongki. Hingga Pongki mengambil jalan pintas untuk dapat memantaskan diri dengan keluarga Berta.
"Maafkan orangtuaku ya.."
Pongki tersentak, ia menatap Berta dan langsung menggenggam tangan Berta.
"Maaf, bukan maksudku untuk menyinggung perasaan kamu. Kita sebagai orangtua saat ini juga begitu, ingin yang terbaik buat anak kita. Tetapi, andaikata mereka saling cinta, kita bisa apa?. Setidaknya, aku tidak mau anak itu rusak, karena hanya ingin mencapai target persyaratan dari kita. Cukuplah, kita tidak perlu meniru kesalahan dari yang dulu-dulu." Pungkas Pongki.
Berta menatap Pongki, ia sangat paham dengan penjelasan Suaminya itu.
"Aku paham. Yah, semoga memang tidak ada cinta diantara mereka. Aku sudah menganggap Paijo itu anak sendiri, bukan seorang supir. Kalau bisa, dia jadi anak laki-laki kita saja. Bukan menjadi menantu," Ucap Berta.
Pongki tersenyum, ia setuju dengan ucapan Berta.
__ADS_1
"Yah... semoga dia bisa menjadi pelindung untuk Bella. Mau itu sebagai pekerja, atau apa saja. Yang penting aku percaya, Paijo adalah orang yang baik. Yang tidak ada maksud jahat dengan kita."
Berta tersenyum, ia sependapat dengan Pongki.