
"Maaf, saya terlambat," Topan memasuki ruangan lama nya, dimana semua teman-teman nya sudah berkumpul untuk melepas kepergian Suprapto ke Riau.
"Dari mana kau Topan?" Tanya Suprapto.
"Dari mengantarkan bapak ku bang," Sahut Topan.
"Kemana? Bukankah dia ada ajudan?"
Topan terdiam, lalu ia mencoba tersenyum kepada Suprapto.
"Ada bang, masalah keluarga."
Suprapto terdiam, ia tahu gosip yang beredar belakangan ini. Hanya saja, ia selalu berpura-pura tidak tahu dan tidak pernah membahas tentang gosip itu sekalipun dengan Topan.
"Makan Pan, ini aku sengaja membeli banyak makanan. Sebagai perpisahan kita hari ini. Pukul dua nanti aku harus sudah berada di Bandara." Ucap Suprapto.
Topan menatap Suprapto dan lalu melirik jam dinding yang terletak di belakang Suprapto. Jarum jam menunjukan pukul sebelas siang. Lalu, ia tersenyum dan mendekati makanan yang di bawa oleh Suprapto.
"Terima kasih bang. Aku makan ya, aku belum sempat sarapan pagi ini," Ucap Topan.
"Makanlah yang banyak. Itu dua bungkus ku sisihkan untuk mu."
"Yah bang! Kami sebungkus-sebungkus, kenapa Topan dua bungkus!" Antok protes kepada Suprapto.
"Halahh.. banyak cakap kau! Masih untuk kau ku kasih," Celetuk Suprapto.
"Parah! Pilih kasih kau bang!"
"Pilih kasih aku sama kau memang!"
Topan tersenyum geli melihat Antok dan Suprapto sedang berargumen.
Topan membuka bungkusan nasi untuk nya dan menatap lauk yang berada di di dalam nasi bungkus itu.
"Wow, rendang Padang!" Ucap Topan dengan bersemangat.
"Bang! Dia kok rendang! Aku kok cuma telur dadar!" Antok kembali protes.
"Masih untung kau ku kasih makan!"
"Parah abang ya... pilih kasih nya keterlaluan!" Keluh Antok.
"Itu gara-gara waktu aku BAB, kau gak ambilkan aku gayung. Akhirnya si Topan yang ambilkan aku cangkir buat cebok!"
"Ya Tuhannn... masih saja di ungkit-ungkit!"
"Iya lah.. walaupun Topan kasih aku cangkir, setidaknya aku bisa membasahi lubang ****** ku...!"
Topan nyaris saja tersedak gara-gara mendengar ucapan Suprapto.
"Bah!" Antok kembali menggerutu sambil meremas bungkus bekas nasinya.
"Mau nambah kau Tok?" Tanya Topan.
"Gak selera aku makan lagi,"
"Yakin kau Tok?"
"Iya," Antok merajuk dan duduk di kursi tak jauh dari Topan.
"Tapi ini lauknya gule tunjang Tok,"
"Eh..." Antok melirik Topan dengan wajah yang semringah.
"Mau?" Tanya Topan lagi.
"Boleh lah..! Kau sebungkus cukup?" Tanya Antok dengan sorot mata yang berbinar-binar.
"Cukup, aku tidak cacingan seperti kau Tok," Celetuk Topan.
__ADS_1
Antok mengerutkan dagunya dan menatap Topan dengan kesal.
"Mana ada aku cacingan!"
"Perut mu itu sudah gendut!" Celetuk Topan lagi.
"Dia itu busung lapar. Atau azab karena banyak nitip makanan tapi gak bayar!"
"Kalian memang sadis-sadis ya bahasa nya sama aku! Kesal aku jadinya... jadi lapar lagi kan!" Ucap Antok sambil membuka bungkus nasi yang diberikan Topan kepadanya.
Satu ruangan itu tertawa geli.
Begitulah Antok, walaupun bagaimanapun kata yang dilontarkan kepada dirinya, ia tidak pernah sekalipun mengambil hati ucapan sadis dari teman-temannya. Baginya, tidak ada satupun yang benar-benar dari hati mereka kala mengucapkan sesuatu kepada dirinya. Makanya, kehadiran Antok sangat di nantikan oleh semua rekan-rekan nya. Antok menjadi hiburan bagi semua rekan nya. Karena pribadinya yang tidak gampang tersinggung dan juga begitu ceria.
"Disana sudah ada bayangan bang?' Tanya Topan yang baru saja selesai makan.
"Sudah, di Riau sedang marak penyeludupan barang. Aku akan mengkoordinir anak buah ku untuk memberantas barang-barang ilegal itu," Ucap Suprapto.
"Mantap bang!" Ucap Topan yang baru saja mencuci tangan di wastafel tepat di depan kamar mandi.
"Iya, tidak bisa seperti itu. Negara ini rugi bila dibiarkan."
"Setuju!" Sahut Antok yang sedang memakan nasi yang diberikan oleh Topan tadi.
"Yang harus abang brantas, black market nya. Kalau saja tidak ada black market, barang-barang itu tidak akan diseludupkan." Ucap Topan.
"Sayangnya, orang-orang kita masih tertarik belanja di black market. Itu yang membuat black market menjamur disana dan susah padam." Ucap Suprapto.
"Iya bang," Topan mengangguk setuju.
Dreettt... Dreettt...!
"Sebentar.. Ada telepon." Suprapto beranjak dari ruangan itu untuk menerima telepon dari istrinya.
Topan beranjak menyusul Suprapto keluar dari ruangan itu. Lalu, ia membakar sebatang rokok di depan kantor tersebut sambil memperhatikan Suprapto yang sedang berbincang dengan istrinya melalui sambungan telepon seluler.
"Galang... Siapa nama panjang nya.. Seperti apa dia? Mengapa bapak begitu mencurigai dia sebagai bapak kandungku?" Batin Topan.
"Apa benar dia bapak kandungku? Mengapa ibu menghianati bapak? Apa salah bapak? Aku harus mencari tahu siapa Galang itu." Batin Topan lagi.
.
.
.
.
Berta tersenyum kala ia melihat Pongki duduk menunggu dirinya di ruang pengunjung. Lelaki itu sedikit lusuh, dengan pipi yang mulai semakin cekung. Di atas meja, tepatnya disebelah kiri Pongki terdapat bungkusan besar berisi buah tangan dari Anna.
"Berta.." Pongki memeluk Berta, kala Berta mendekati dirinya. Setelah itu, ia memeluk Bella yang ikut memeluk kedua orangtuanya.
"Apa kabar kamu? Maaf, saat kamu dipindahkan, aku tidak bisa datang. Kami baru saja pindah ke rumah peninggalan ayah."
"Tidak apa-apa." Pongki tersenyum dan memastikan kepada Berta bila dirinya baik-baik saja.
"Berta, Terima kasih."
"Untuk?" Tanya Berta berpura-pura tidak tahu maksud dari ucapan Pongki.
"Kamu sudah mengizinkan Anna...."
"Ah... Apakah dia mengatakannya?" Tanya Berta.
"Ya, dia bilang kamu sudah berbesar hati membiarkan dirinya terlebih dahulu menemui aku."
Berta terdiam, lalu ia mencoba tersenyum.
"Tidak masalah," Ucap Berta.
__ADS_1
Pongki meraih tangan Berta dan mengecupnya dengan lembut.
"Kamu luar biasa."
Berta kembali tersenyum, walaupun jauh di lubuk hatinya ia tidak rela bila Anna menemui Pongki. Tetapi, ia mencoba ikhlas dan memaklumi Anna yang jauh-jauh datang hanya untuk bertemu dengan Pongki.
"Ini aku membawa makanan untuk mu." Berta menyodorkan rantang yang berada di genggaman nya kepada Pongki.
Dengan mata yang berbinar, Pongki menerima dan langsung membuka susunan rantang yang diberikan oleh Berta.
"Bola-bola daging!" Serunya.
Berta tersenyum. Ia melirik bungkusan plastik yang berada di atas meja. Bungkusan itu tampak belum di buka oleh Pongki. Lalu, ia tersenyum penuh kemenangan. Karena rantang darinya langsung dibuka dan masakan nya langsung di makan oleh Pongki dengan lahap.
"Kapan kamu sidang?" Tanya Berta.
"Belum tahu. Bisa jadi dua minggu atau sebulan lagi." Ucap Pongki seraya melahap masakan Berta.
"Apa kamu sudah dapat pekerjaan Bella?" Tanya Pongki.
Bella melirik Berta dan lalu menatap Pongki dengan wajah yang canggung.
"Sudah dad, aku di terima di perusahaan asing, dan itu sangat seru sekali." Bella berbohong kepada Pongki.
Saat itu juga, Berta melirik Bella dan mulai paham dengan maksud Bella berbohong kepada Pongki.
"Wah bagus sekali. Apakah ada hambatan tertentu?" Tanya Pongki lagi.
"Ti-tidak ada dad, semua berjalan dengan baik." Bella mencoba tersenyum.
"Alhamdulillah..." Pongki tampak begitu bersemangat.
Bella menundukkan pandangan nya, wajahnya terlihat begitu sedih dan tertekan saat mengingat bullying diluar sana terhadap dirinya.
"Doa daddy, semoga kamu sukses dan bisa membuka kantormu sendiri."
"Aamiin dad.." Sahut Bella.
"Hmmm, masakan dari bidadari ku begitu enak. Lihat! Sekejap saja sudah habis..!" Seru Pongki.
Bella dan Berta tersenyum melihat Pongki yang mencoba tetap ceria di depan mereka.
"Ini teh hangat untuk mu," Berta menuangkan teh dari dalam termos ke dalam gelas yang sengaja ia bawa dari rumah, untuk Pongki.
"Terima kasih dear.." Pongki tersenyum menerima gelas berisi teh tersebut dari tangan Berta. Lalu, ia menyeruput teh tersebut dan terlihat begitu menikmatinya.
"Pongki..."
"Ya..."
"Apakah kamu tahu berapa lama hukuman yang akan kamu jalani?" Tanya Berta dengan sorot mata kesedihan nya.
Pongki terdiam, ia membalas tatapan Berta dengan tatapan yang merasa bersalah.
"Ya, aku tahu."
"Apa pun itu, aku akan tetap menunggu kamu," Ucap Berta.
Pongki menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya.
"Pongki... walaupun masa tua kita seperti ini. Aku tetap bahagia karena kamu telah bersama denganku selama ini."
Pongki mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Berta yang mulai basah. Pongki menggenggam kedua tangan Berta, dan mengecup nya dengan lembut.
"Aku minta maaf. Bila kebahagiaan yang aku janjikan, aku raih dengan cara yang seperti ini. Aku minta maaf, bila masa tua yang aku janjikan tidak pernah terwujud. Aku minta maaf..." Pongki mulai terisak, menyesali segala yang telah terjadi.
"Tidak perlu menyesalinya. Aku selalu ada dan menunggu untuk mu, mau itu setahun, lima tahun, atau bahkan kemungkinan buruk yang terjadi, aku akan selalu ada untuk kamu. Walaupun raga kita terpisah... Aku akan selalu ada di hati kamu," Ucap Berta.
Tangisan Pongki semakin menjadi. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua tangan Berta.
__ADS_1
"Terima kasih, cinta mu tidak akan tergantikan."
"Dan kamu, tidak akan pernah tergantikan," Ucap Berta.