
Tik! Tik! Tik! Tik! Tik!...
Detak jarum jam terdengar begitu lantang, seakan sedang menertawakan empat pasang suami istri yang sedang duduk di sofa ruang kerja milik Amoroso. Mereka semua tidak saling menatap, semua menundukkan pandangan nya. Masing-masing dari para istri terlihat begitu gelisah, sehingga mereka memainkan jari jemari mereka yang berada di pangkuan mereka. Sedangkan para suami, tercenung membayangkan apa yang akan mereka terima setelah mereka bertemu dengan Amoroso yang masih mereka tunggu kehadirannya.
Cklekkk!
Terdengar gagang pintu di tarik dan terlihat seorang lelaki yang sedang mempersilahkan Amoroso masuk kedalam ruangan nya.
Amoroso menatap keempat pasangan tersebut dan melangkah menuju ke meja kerjanya. Amoroso meletakkan tas yang berada di genggaman tangannya dan menoleh ke arah empat pasang suami istri tersebut. Perlahan ia melangkah menuju ke kursi yang sengaja di kosongkan untuk dirinya. Amoroso duduk diatas kursi itu, tatapan nya tak luput dari wajah satu persatu yang berada di ruangan itu.
"Ehemmmm!" Amoroso berdehem, sedangkan empat pasangan yang berada di hadapannya terlihat hampir melompat karena terkejut.
"Ada yang mau mengakui kesalahannya?" Tanya Amoroso.
Masing-masing dari mereka saling bertatapan dan kembali menundukkan wajahnya.
"Bapak Agus," Panggil Amoroso.
"Siap pak!" Sahut Agus.
"Kita nyaris saja menjadi besan karena kecocokan antara anak saya dan anak bapak."
"Ya pak!" Sahut Agus lagi.
"Tetapi, saya mendengar berita miring yang mengarah ke keluarga dan nama baik saya dan istri saya. Apakah bisa bapak jelaskan?" Tanya Amoroso.
Agus terlihat gemetar dan salah tingkah.
"Malam itu, istri saya menangis. Saat ia mendengar kabar miring yang entah siapa yang meniupkan nya ke arah keluarga kami. Istri saya mendengar berita itu dari ibu Bagus yang berbaik hati menyampaikan berita itu, sebelum berita itu semakin meluas."
"Lalu, saya sengaja mengundang bapak dan ibu Bagus kerumah saya. Dan ternyata, ia memberikan petunjuk, bila dirinya mengetahui berita itu dari ibu Sitohang. Bukankah begitu ibu Bagus?"
Farida mengangkat wajahnya dan menatap Amoroso dengan tatapan yang merasa bersalah. Sedangkan Hellena, menoleh kepada Farida. Ia merasa terkhianati karena dirinya disebut oleh Farida.
"Be-betul pak," Sahut Farida.
"Apa alasan ibu menyampaikan kepada istri saya?" Tanya Amoroso lagi.
"Sa-saya hanya ingin menghentikan gosip ini. Setidaknya, saya ingin ibu Erna tahu, bila orang disekelilingnya sedang membicarakan dirinya."
Lagi-lagi para istri menatap Farida dengan tatapan tidak suka. Tetapi Farida sudah tidak peduli lagi, mau tidak mau, dia harus membersihkan diri dan nama baik suaminya. Agar Bagus dapat terhindar dari pemecatan yang akan membuat Bagus dan Farida merasa malu.
"Dan, saya langsung mengundang bapak dan ibu Sitohang ke kantor saya ini. Dari keterangan ibu Sitohang, ia mendengar berita ini dari ibu Eko yang kebetulan sedang ia jenguk. Bukankah begitu bu Sitohang?"
"I-i-iya pak," Sahut Hellena. Lalu, ia kembali menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Mengapa ibu menyebarkan itu?" Tanya Amoroso.
Hellena terdiam membisu.
"Bisakah ibu menjawabnya?" Desak Amoroso.
Hellena menatap Amoroso dengan wajah memelas, lalu ia merapatkan kedua telapak tangannya, tanda ia memohon kepada Amoroso.
"Pak, saya tahu saya salah, karena menyebarkan gosip yang tidak valid. Tetapi, saya mohon, jangan pecat suami saya pak.." Hellena mulai menangis. Sedangkan suaminya tampak dongkol kepada dirinya.
"Saya bertanya, mengapa ibu sebarkan?" Tanya Amoroso lagi.
"Sa-saya, saya hanya iseng pak. Namanya ibu-ibu dan saya percaya dengan ibu Bagus," Hellena terlihat kesal kepada Farida. Karena ia paham betul, dengan Farida yang mengatakan kepada Erna, sudah pasti posisi Farida dan suaminya, Bagus, akan aman-aman saja.
"Iseng? Apakah keluarga saya buat menjadi iseng-iseng nya ibu Sitohang?"
Hellena terdiam membisu mendengar pertanyaan dari Amoroso.
"Sekarang saya ingin bertanya kepada ibu Eko. Menurut informasi dari ibu Sitohang, dirinya mendengar gosip itu dari ibu Eko. Apakah benar?"
Rani, istri dari Eko mengangkat wajahnya dan mengangguk dengan ragu. Wajahnya masih terlihat pucat, karena dirinya baru saja keluar dari rumah sakit, karena penyakit Magh yang di deritanya.
"Iya saya pak," Sahut Rani.
Amoroso tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
Tanpa berpikir panjang, Rani langsung mengangguk kan kepalanya. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Amoroso.
Kini mata Amoroso tertuju kepada Mela, istri dari Agus. Orang yang ia gadang-gadang kan akan menjadi calon mertua dari Topan, anaknya.
"Bu Agus, saya tidak tahu apa motivasi ibu menyebarkan berita seperti itu. Saya pikir, hubungan keluarga kita sudah dekat. Bahkan, kita berencana untuk menikahkan anak kita, Lestari dan Topan. Andaikan ibu mendengar berita seperti itu, baiknya ibu langsung bertanya kepada saya atau istri saya. Tidak perlu harus ibu katakan kepada ibu Eko atau yang lain nya. Tetapi mengapa ibu mengatakan itu hingga akhirnya berita ini sampai di telinga saya dan istri? Apakah ibu tidak menganggap kami keluarga?"
Mella terlihat begitu malu dengan pertanyaan dari Amoroso.
"Satu yang menjadi pertanyaan dari saya. Ibu Agus tahu dari mana tentang gosip ini?" Tanya Amoroso.
Tubuh Mela gemetar, dahi dan telapak tangan nya berkeringat. Ia merasa seperti sedang duduk di kursi pesakitan yang sedang di sidang dan di depannya terdapat seorang hakim yang siap untuk memutuskan hukuman gantung kepada dirinya dan suaminya.
"Pak, bukan begitu. Maksud saya..."
"Tolong dijawab bu. Saya tidak suka membuang-buang waktu saya sia-sia." Tegas Amoroso.
Mela kembali terdiam, ia tidak mungkin menyebutkan suaminya lah sumber dari gosip yang ia terima dan beredar karena ucapan nya yang tidak terkendali kesana kemari.
"Dari siapa ibu mendengar gosip tersebut?" Desak Amoroso.
__ADS_1
Mela menatap suaminya yang terus menundukkan wajahnya. Beberapa tahun lagi, suaminya akan pensiun. Apa yang terjadi bila saat ini suaminya di pecat? Bagaimana karir Agus yang sudah susah payah di capai oleh Agus selama ini?
"Tolong dijawab bu!" Bentak Amoroso.
Mela terkejut saat Amoroso membentak dirinya. Ia menatap Amoroso dengan tatapan yang menciut nyalinya.
"Saya mendengar dari seseorang."
"Siapa? Katakan saja."
Mela mencoba berpikir alasan yang tepat yang akan ia katakan kepada Amoroso.
"Siapa bu?" Desak Amoroso.
"Se-se-seseorang pak, saya pun tidak kenal."
Amoroso tertawa dan menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan alasan konyol dari Mela.
"Jangan mempermainkan saya! Ini nama baik keluarga saya! Paham! Kalian mau saya pecat semua!" Ancam Amoroso, sambil menggebrak meja yang berada di depan nya. Karena emosi Amoroso yang tak terkendali, ia langsung memegangi dadanya yang mulai terasa sakit.
"Pak!" Bagus nyaris saya beranjak dari duduknya untuk membantu Amoroso. Tetapi, ia mengurungkan niatnya untuk membantu, saat Amoroso mengangkat tangan nya untuk mencegah Bagus membantu dirinya.
Agus sudah terlihat gugup. Dirinya sadar betul, bila ia tidak akan bisa menghindari masalah tersebut. Ia sudah begitu percaya dengan istrinya. Ia yakin bila istrinya tidak akan tega untuk membocorkan rahasia tersebut. Karena ia menganggap, istrinya tidak akan mau menghancurkan karir yang sudah susah payah ia bangun. Tetapi, Agus lupa, apa yang berada dan rahasia apa pun yang menyangkut instansinya, tidak boleh dibocorkan atau dibicarakan kepada orang lain. Bahkan, kepada keluarga ataupun istri sendiri.
"Jawab!" Amoroso kembali menggebrak meja.
Walaupun Mela melindungi suaminya dengan mengakui dirinya yang bersalah, atau menunjuk suaminya yang menceritakan gosip itu kepada dirinya, hasilnya akan sama. Mereka akan sama-sama di depak dari instansi tersebut.
"Saya yang mengatakan nya kepada istri saya," Ucap Agus dengan suara yang bergetar.
Amoroso mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Agus. Rekan yang akan ia jadikan besan nya tersebut.
"Maksudnya?" Tanya Amoroso.
"Puluhan tahun yang lalu, saya sempat mendengar berita itu dari kalangan Ajudan yang juga desas desus di luar sana. Bila kedekatan antara ibu Amoroso dengan salah satu Ajudan ayahanda ibu Amoroso membuahkan seorang anak, yaitu Topan. Jujur, saya tidak mempercayai berita itu. Hingga saya simpan rapat-rapat hingga beberapa hari yang lalu." Terang Agus.
"Apa yang membuat Anda membicarakan hal itu lagi?" Tanya Amoroso.
"Karena tidak hadirnya Topan pada makan malam keluarga, dan sikap bapak kepada Topan selama ini. Saya tahu saya salah. Tetapi, sikap bapak kepada Topan membuat saya pun bertanya-tanya. Bahkan, saat Topan dilantik pun bapak tidak menghadirinya."
Amoroso merasa terpukul mendengar penjelasan Agus.
Agus pun merasa bebas berbicara, karena ia sudah merasa kepalang tanggung. Apa pun itu, ia sudah dipastikan akan di depak oleh Amoroso.
Perlahan, rasa sakit di dada Amoroso terasa semakin menyiksa. Ia semaki kuat meremas dadanya.
__ADS_1
"Kau..! Kau dipecat..!" Ucap Amoroso, seiring dengan ambruknya tubuhnya di atas lantai.
"Pak!" Semua yang berada disana pun panik. Kecuali Agus dan Mela.