
"Pan, kenapa kau diam saja?" Tanya Suprapto, saat dirinya baru saja selesai berbincang dengan istrinya melalui sambungan telepon seluler. Lalu, ia duduk disamping Topan yang sedang duduk di bangku di samping pintu masuk kantor tersebut.
"Eh bang, sudah telepon nya?" Topan tersenyum dan menyodorkan bungkus rokoknya kepada Suprapto.
"Sudah." Suprapto meraih bungkus rokok Topan dan mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.
"Lagi mikir apa kau Pan?" Tanya Suprapto lagi, setelah ia menghisap rokok itu dalam-dalam.
"Tidak ada bang.."
"Kau sama si Bella baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah bang, hubungan kami baik-baik saja." Sahut Topan.
"Lantas?"
Topan termenung ia memainkan batang rokoknya di jari jemarinya.
"Ayolah, bicara.. Aku abang mu, jangan kau lupa itu Pan. Besok aku sudah tidak ada disini. Setidaknya aku tahu kegelisahan mu saat ini."
Topan tersenyum dan menatap Suprapto dengan seksama.
"Benar bang, tidak ada."
"Jangan bohong kau Pan."
Topan tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Lalu, ia menghisap rokok nya secara perlahan.
"Ya sudah, kalau memang kau tidak mau bicara." Suprapto beranjak dari duduknya dan hendak bergegas masuk kembali ke dalam kantor. Sebenarnya bukan karena ia tidak ingin menemani Topan. Hanya saja, ia sedang menahan dirinya untuk tidak membahas apa yang ia ketahui tentang gosip yang beredar belakangan ini.
"Eh bang, tunggu." Panggil Topan.
"Apa?"
"Sini abang duduk dulu. Ada yang mau aku tanyakan."
"Tentang apa?" Tanya Suprapto.
"Abang kan senior aku, apa abang pernah mendengar ada anggota yang bernama Galang?"
Suprapto mengerutkan dahinya. Ia tidak pernah mendengar ada anggota yang bernama Galang selama ia bertugas menjadi putra Negara.
"Tidak, kenapa?" Tanya Suprapto, penasaran.
"Ah... tidak apa-apa bang." Sahut Topan.
"Ini pasti menyangkut gosip yang beredar. Siapa Galang? Apa dia orang yang menghembuskan gosip miring ini?" Batin Suprapto.
"Yakin tidak apa-apa? Kalau ada apa-apa bilang sama abang. Biar kita kasih dia pelajaran!" Ucap Suprapto dengan ekspresi yang berapi-api.
"Hahahaha, tidak bang. Serius, tidak ada apa-apa." Topan berusaha meyakini Suprapto.
"Ok lah, aku ambil dulu barang-barang ku. Istriku sudah jalan ke Bandara. Aku mau menyusul dan terbang ke Riau. Dan kau, baik-baik kau disini. Emban tugas dengan ikhlas. Teruslah menjadi Topan yang aku kenal. Jujur, pekerja keras dan baik."
Topan beranjak dari duduknya dan menatap Suprapto dengan tatapan yang begitu berat untuk melepaskan sahabatnya itu. Lalu, ia memberikan hormatnya dengan sikap yang tegak.
"Siap komandan!" Seru Topan.
__ADS_1
"Ah.. kau ini..." Suprapto tersenyum dan memeluk Topan dengan erat.
"Sampai jumpa lagi sahabat dan adik ku. Aku harap, persahabatan kita terus lanjut hingga akhir hayat. Jangan putus berkabar ya."
"Iya bang," Topan membalas pelukan Suprapto.
Lalu, mereka sama-sama tersenyum dan masuk kedalam kantor mereka.
.
.
.
.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari luar pintu ruangan kerja milik Amoroso. Amoroso yang sedang termenung di kursinya tersentak dan menatap kosong ke arah pintu ruangan nya itu.
"Ya, masuk!" Ucap nya.
Bagus membuka pintu ruangan Amoroso, lalu lelaki itu melangkah masuk dan di susul oleh sepasang suami istri, yang memakai seragam yang diperuntukkan untuk pasangan putra Negara.
"Selamat siang pak!" Bagus dan Sitohang memberikan hormat kepada Amoroso.
"Silahkan duduk," Amoroso menunjuk sofa yang terletak di ruangan nya. Lalu, ia beranjak dari kursinya dan ikut duduk di sofa tersebut bersama dengan yang lain nya.
Istri Sitohang, yang bernama Hellena, terus menunduk wajahnya. Dia dan suaminya tahu betul, mengapa mereka dipanggil ke ruangan Amoroso. Mereka paham betul, bila mereka sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Siap pak! Tahu!" Ucap Sitohang.
"Sudah, santai saja. Kita berbicara layaknya keluarga," Ucap Amoroso.
Sitohang menundukkan wajahnya dan menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat cemas karena ulah sang istri.
"Tidak perlu berbasa-basi. Kata istri bapak bagus, dia mendapatkan gosip itu dari ibu Sitohang, apa betul?"
Hellena, terlihat pucat dan gemetar.
"I-i-iya pak," Sahut Hellena.
"Apakah ibu tahu, siapa sumbernya?"
Hellena mengigit bibirnya untuk mengusir perasaan cemas nya.
"Tolong ibu jujur saja. Ibu tahu dari mana dan ibu sudah berbicara kepada siapa saja?" Ucap Amoroso.
Hellena melirik suaminya. Seakan ia meminta pertolongan dari suaminya itu. Namun apa mau dikata? Suaminya sudah pasti tidak dapat menolong dirinya. Segala yang terjadi sudah pasti ada konsekuensinya.
"Jawab saja." Ucap Sitohang.
"Sa-saya baru memberitahukan ibu Bagus dan suami saya." Ucap Hellena.
Amoroso menghela nafas panjang. Lalu, ia menatap Hellena dengan tatapan yang dingin.
"Ibu tadi belum menjawab. Ibu tahu dari mana?" Tanya Amoroso lagi.
__ADS_1
Hellena mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap Amoroso.
"Sa-saya tahu dari ibu Eko," Ucap Hellena.
"Apakah ibu tahu, ibu Eko dapat informasi dari siapa?"
Hellena terdiam, ia kembali menunjukkan wajahnya.
"Katanya dari ibu Agus pak," Ucap Hellena dengan berterus terang.
Degggggg!
"Ibu Agus?" Amoroso mencoba memastikan apa yang telah ia dengar.
"Iya pak, dan itu terus berkembang dikalangan ibu-ibu. Dan beberapa oknum suaminya juga membicarakan hal ini di luar lingkup ibu-ibu." Terang Hellena.
Amoroso terdiam. Ia merasa tidak percaya bila istri dari Agus ikut menggunjingkan keluarga mereka.
"Apa ibu yakin, bila ibu Eko mengetahui nya dari ibu Agus?" Tanya Amoroso.
"Saya yakin pak, soalnya saat itu saya mengunjungi ibu Eko yang sedang di rawat dirumah sakit. Di sana ia berkata tentang gosip itu, dan saya tahu persis bila ibu Eko bilang, kalau ia mengetahui gosip itu dari ibu Agus yang baru saja menjenguk dirinya." Terang Hellena.
"Pak, saya yang bersalah. Jangan hukum suami saya pak," Hellena mulai terisak, ia terlihat sangat panik sekali.
Amoroso bergeming, ia menatap Sitohang dan istrinya.
"Ibu tahu konsekuensinya, bila ibu gegabah, pangkat suami lah taruhan nya."
Tangisan Hellena semakin kencang, ia benar-benar merasa menyesali perbuatannya.
"Sa-saya tahu pak, saya khilaf. Saya minta maaf pak.."
"Dalam kasus ini, dan dalam hukum pun, ibu termasuk menyebarkan fitnah, atau pencemaran nama baik."
"Saya mohon pak..." Hellena menangis tersedu-sedu.
"Bapak Bagus," Panggil Amoroso.
"Siap pak!"
"Besok pukul sepuluh pagi, saya minta orang-orang yang disebutkan oleh ibu Sitohang dan termasuk ibu dan bapak Sitohang sendiri, berkumpul di ruangan saya. Saya tegaskan, tidak boleh ada yabg mangkir. Bila mangkir, saya akan memecat nya!"
"Siap pak!" Sahut Bagus.
"Pak..." Hellena beranjak dari duduknya dan berusaha untuk memohon kepada Amoroso. Tetapi, Sitohang menahan Hellena.
"Apa Anda paham bapak Sitohang?"
"Siap Pak!" Sahut Sitohang.
"Sekarang, silahkan keluar dari ruangan saya."
"Siap pak!" Sahut Sitohang dan Bagus.
Mau tidak mau, Sitohang membawa Hellena yang sedang menangis tersedu-sedu, keluar dari ruangan tersebut.
"Agus? Apa iya dia yang menyebarkan gosip ini?" Gumam Amoroso.
__ADS_1