
Pukul 7 malam, aku akan menjemputmu.
Degggggg!
Jantung Bella berdegup kencang saat menerima pesan dari Topan. Entah mengapa ia mulai merasa paranoid setiap Topan menghubungi dirinya.
Mau ngapain?
Balas Bella.
Mau mengajak mu jalan-jalan, bukankah sudah lama kita tidak keluar bersama?
Balas Topan.
Bella termenung dan tangan nya gemetar. Bella sangat takut bila Topan akan membahas masalah koper-koper tersebut.
Mau bahas apa?
Balas Bella.
Bahas apa? Tidak bahas apa-apa. Kenapa? Apakah ada yang mengganjal di hatimu?
Balas Topan lagi.
Tidak, ya sudah.. aku akan bersiap-siap.
Balas Bella.
Ok, see you soon.
Bella beranjak dari duduknya, sesaat ia membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Topan. Dengan wajah yang tampak khawatir, ia pun bergegas ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya yang terasa lengket. Setelah itu, ia pun bersiap-siap untuk berdandan, sebelum Topan tiba 30 menit lagi.
.
Tepat 30 menit kemudian, mobil Topan memasuki halaman rumah Bella. Bella yang sedang merapikan rambutnya pun mengintip dari balik jendela kaca di kamarnya.
"Mampusssss gue," Gumam nya.
Terlihat Topan yang terlihat rapi dengan setelan kemeja putih dan celana jeans berwarna deep blue, turun dari mobil miliknya dan bergegas menuju ke pintu utama rumah tersebut.
Ting Tong!
Bunyi bell tersebut membuat Bella terperanjat. Ia benar-benar merasa paranoid dengan Topan.
Berta yang sedang duduk di ruang keluarga pun beranjak menuju ke pintu utama, dan membukakan pintu rumah tersebut.
"To-to-topan..!". Seru Berta.
"Assalamualaikum mam," Ucap Topan, seraya mengecup punggung tangan Berta.
"Wa-wa-walaikumsalam," Sahut Berta dengan gugup.
"Bella nya ada mam?"
"Ada, ma-masuk yuk.." Ajak Berta. Lalu, wanita paruh baya itu menutup pintu rumahnya setelah Topan beranjak masuk kedalam rumah tersebut.
Topan duduk diruang tamu, setelah Berta mempersilahkan Topan untuk duduk.
"Sebentar ya, mami panggilkan Bella,"
"Iya mam," Sahut Topan.
Setelah Berta beranjak dari ruangan tersebut, Topan tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya.
"Ha-hai," Sapa Bella saat ia muncul di ruang tamu, menemui Topan.
"Hai sayang," Sapa Topan. Lelaki itu pun beranjak dari duduknya dan mengecup kening Bella yang mulai berkeringat dingin.
__ADS_1
"Ayo kita keluar," Ajak Topan.
"I-i-iya,"
"Kamu kenapa?" Tanya Topan yang melihat sikap aneh dari Bella.
"Ti-tidak apa-apa," Bella berusaha tersenyum dan lalu menundukkan wajahnya.
"Baiklah. Oh iya, bagaimana? Seprai nya sudah di pakai?" Tanya Topan.
Bella menatap Topan dengan matanya yang membulat.
"Be-belum," Sahut Bella.
"Kalau begitu, di cuci saja dulu,"
Bella mengerutkan keningnya, dan menatap Topan dengan seksama.
"Maksudnya?" Tanya Bella.
"Di cuci, biar bersih. Biar nyaman memakainya." Jelas Topan.
"Money laundry?" Tanya Bella. Lalu, dengan cepat ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Topan tertawa geli dan mengusap puncak kepala Bella.
"Sayang ku, ayo kita jalan." Topan menggandeng tangan Bella dan mengajak nya untuk bertemu dengan Berta yang terlihat gugup di ruang keluarga, kala melihat Topan menghampiri dirinya.
"Mam, saya ajak Bella keluar dulu ya," Ucap Topan.
"I-iya.." Sahut Berta.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Tunggu," Ucap Bella.
Topan menatap Bella dengan seksama.
"Kamu mau mengajak ku kemana dulu? Apa kamu akan menjebak ku?" Tanya Bella dengan wajah yang terlihat panik.
Topan kembali tertawa geli dan menghampiri Bella. Ia meraih tangan Bella dan mengecup lembut punggung tangan kekasihnya itu.
"Iya, aku ingin menjebak mu,"
"Hah?" Bella mulai tampak ketakutan.
"Menjebak agar kamu menjadi istri ku, dan kamu tidak bisa kemana-mana lagi. Kamu saya tahan," Ucap Topan seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Bella.
"A-aku.. ma-malam i-itu..."
"Sudah, aku tidak melihatmu malam itu. Aku kan sudah pernah bilang." Topan tersenyum dan berusaha menenangkan Bella.
Bella menghela nafas panjang dan menatap Topan dengan puppies eyes nya.
"Maaf ya... aku membuat kamu menjadi..."
"Sssstttt... aku tidak melihat mu malam itu. Sudah, titik. Ayo kita jalan. Kamu mau traktir aku kan? Eh... salah, biar aku teraktir kamu,"
"Ih dia mah, nyindir!" Bella menepuk lengan Topan dengan wajah yang terlihat sebal namun sembari menahan tawanya.
Topan tertawa geli dan memeluk Bella dengan erat.
"Aku mau di sogok dong. Untuk tutup mulut," Ucap Topan.
"Jangan gila!" Seru Bella.
__ADS_1
"Sogok aku dengan ciuman," Topan memasang wajah konyolnya.
"Apaan sih..." Pipi Bella terlihat bersemu kemerahan.
"Ayo dong, mumpung tidak ada mami," Topan tertawa jahil.
"Enggak!" Bella melepaskan pelukan Topan dan beranjak masuk kedalam mobil kekasihnya itu.
"Dih, curang.." Topan menyusul masuk kedalam mobil itu dan menatap Bella yang terus tersenyum karena ulahnya.
"Kita mau kemana nih?" Tanya Bella.
"Ke suatu tempat, kayak orang-orang. Mojok di tempat gelap. Tunggu di ciduk Satpol-PP, lalu di nikahkan deh."
"Gila!"
"Yes, i'm crazy because of you!" Seru Topan.
Topan dan Bella tertawa geli, sebelum mobil itu meninggalkan halaman rumah tersebut.
.....
Pongki termenung di sel nya. Dua hari lagi, dirinya akan menghadapi pengadilan dan itu akan memakan waktu yang sangat panjang hingga masa hukuman tiba.
Masih belum tergambar di pikiran nya. Hukuman apa yang akaan ia terima nanti. Yang jelas, ia benar-benar sudah mempersiapkan mental nya untuk menghadapi semua yang akan terjadi. Setidaknya, ia sudah tenang meninggalkan anak istrinya dengan bekal yang ia kira lebih dari cukup.
"Tuhan, bolehkah aku meminta hukuman mati saja? Aku sudah siap," Gumam nya.
Seorang lelaki yang duduk di sebelahnya menatap Pongki dengan tatapan yang bingung.
"Bapak minta hukuman mati?" Tanya lelaki yang bernama Amin tersebut. Amin adalah teman satu sel Pongki. Amin terjerat kasus yang sama, yaitu kasus narkoba. Bedanya, Amin pengedar kecil-kecilan. Ia melakukan itu karena dirinya kerap di tolak saat melamar pekerjaan. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menjual narkoba kepada generasi muda di sekitar rumahnya.
Pongki menatap Amin dengan seksama, lalu ia tersenyum dan mengangguk dengan yakin.
"Kenapa pak?" Tanya Amin.
"Kamu dihukum berapa tahun?" Tanya Pongki.
Amin menghela nafas panjang. Lalu, ia tersenyum getir.
"Dua puluh tahun pak," Ucap lelaki berusia 26 tahun itu.
"Kamu dua puluh tahun di usia saat ini. Bila saya di hukum seumur hidup, apakah ada harapan saya keluar? Usia saya sudah lima puluh tahun lebih," Ucap Pongki sambil tersenyum masam.
Amin terdiam, lalu ia menatap Pongki dengan seksama.
"Pak, kalau dihukum mati, bapak memilih dengan cara apa?" Tanya Amin.
"Saya? Suntik mati saja. Atau, di tembak di jantung pun tak apa. Saya siap. Saya memang bersalah, saya ikhlas," Ucap Pongki.
Amin terdiam, lalu ia beranjak duduk di samping Pongki.
"Kamu, nanti kamu keluar umur berapa?"
"Mungkin empat puluh enam tahun pak," Sahut Amin.
"Setelah ini, jadilah orang baik. Jangan seperti saya yang terpaksa mengubur impian masa tua saya dengan istri saya yang tercinta."
Amin menatap Pongki dengan seksama. Lalu, ia mengangguk paham.
"Oh iya, ambil lah selimut dan jaket ini untuk mu." Pongki memberikan jaket dan selimut pemberian Anna kepada Amin.
"Buat saya pak? Nanti bapak bagaimana?"
"Saya sudah ada jaket dan selimut dari istri saya yang tercinta. Saya tidak membutuhkan jaket dan selimut ini. Untuk mu saja," Ucap Pongki, seraya kembali menyodorkan selimut dan jaket tersebut.
"Terima kasih pak," Dengan wajah yang semringah, Amin menerima jaket dan selimut tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada lagi tentang Anna. Biar kenangan itu hilang, dan yang tertinggal hanya kenangan ku dengan Berta. Wanita yang tidak akan pernah bisa tergantikan dengan siapapun yang ada di dunia ini," Batin nya.