Masteng

Masteng
146. Risau


__ADS_3

"Aku akan pensiun," Ucap Galang dari ujung sana, saat ia berbicara di sambungan telepon bersama dengan Erna.


"Kapan?" Tanya Erna.


"Tahun ini," Sahut Galang.


Dalam satu bulan ini, mereka kerap berkomunikasi lewat telepon. Tepatnya, setelah Galang datang ke Jakarta dan melamar kan Bella untuk putranya, Topan.


Ya, hanya galang lah kini yang menjadi teman bicara Erna. Bagaimana tidak? Topan sibuk dengan pekerjaannya. Pinky sudah mulai sibuk dengan kuliahnya yang semakin banyak di tuntut untuk praktek. Sedangkan Guntur pun sama dengan Pinky. Ia memasuki semester akhir kuliah program S1 nya. Maka dari itu, Erna hanya berdua saja dirumah, bersama asisten rumah tangga nya.


"Kalau aku, aku akan pindah dari rumah dinas ini," Ucap Erna.


Galang di ujung sana terdiam.


"Sebenarnya masih diberikan waktu, maksimal setengah tahun. Hanya saja, aku rindu rumah orangtuaku. Lagipula, biar rumah ini bisa di tempati oleh yang lain. Aku tidak ada hak dirumah ini. Rumah ini milik Negara," Terang Erna.


"Apa kamu masih ingat dimana rumah orangtuaku mas?" Tanya Erna.


"Ya, walaupun ayah mu menempati rumah dinas saat itu, aku kerap menemaninya ke rumah milik pribadinya dulu."


Erna tersenyum angan nya kembali ke puluhan tahun lalu. Dimana ia masih memakai seragam putih abu-abu. Kala itu, ayahnya menjemput Erna ke sekolah. Erna ingat betul, bila Galang lah yang menyetir mobil milik ayahnya. Pada saat itu, getaran-getaran cinta diantara mereka sudah tumbuh, namun Galang belum mengatakan apa pun kepada Erna, sebagai bentuk terjalin nya kisah romantis antara dirinya dan Galang.


Tanpa di duga oleh Erna. Ayah nya membawa Erna mengunjungi rumah kakeknya. Saat itu, neneknya sudah meninggal dunia. Ayah Erna datang untuk menjenguk kakek Erna yang sudah pensiun saat itu.


Sesampainya di rumah kakek, ayah Erna berbincang dengan kakek Erna di ruang tamu. Sedangkan Erna duduk di halaman rumah tersebut. Disana ada pohon jambu air yang sedang berbuah lebat. Sedangkan Galang, berdiri di samping pintu masuk dengan ekspresi wajah yang datar.


Erna yang memang sangat tertarik dengan Galang, mencoba meminta galang untuk memanjat pohon jambu dan mengambil buah jambu tersebut. Namun galang menolaknya. Karena dapat penolakan, akhirnya Erna memberanikan diri untuk memanjat pohon itu. Sialnya, bukan jambu yang Erna dapatkan, melainkan ia tergelincir dan terjatuh.


Lutut Erna berdarah, melihat hal itu, dengan sigap Galang langsung membopong Erna dan mengobati luka Erna. Saat itu perasaan yang dimiliki Erna semakin dalam pada sosok Galang.


"Apa mas ingat aku pernah terjatuh dari pohon jambu air?" Tanya Erna lagi.


Terdengar tawa di ujung sana. Suara tawa yang tidak pernah Erna lupakan.


"Kok ketawa sih mas?" Tanya Erna.


"Ya ingat, ada bocah SMA yang sok tahu, memanjat pohon jambu air. Lutut nya terluka. Kakinya bengkak. Aku membopongnya dan mengobati lukanya. Di sangat cantik dan lucu," Kenang Galang.


Erna tersenyum saat mendengar ucapan Galang.


"Hmmmm, Erna. Aku minta maaf sebelumnya, bila aku membahas ini."


"Apa?"


"Masalah surat wasiat dari Amoroso.... Apakah....." Galang menghentikan ucapannya.


"Apa?" Tanya Erna.


"Hmmm.. aku takut kamu tersinggung."

__ADS_1


"Katakan saja,"


"Akhir tahun ini aku pensiun, sudah jelas aku kembali menjadi orang biasa. Maukah kamu untuk mewujudkan wasiat dari Amoroso, tentang kita itu? Lalu, hiduplah bersama dengan ku. Aku akan membeli rumah untuk kita."


Erna terdiam membisu. Matanya langsung menatap foto Amoroso yang masih terpampang di ruang keluarga.


"Erna?"


Erna masih terdiam membisu.


"Apakah kamu masih disana?"


"I-i-iya." Sahut Erna.


"Apakah kamu masih mencintai aku?"


Erna kembali terdiam.


"Mas, sudah dulu ya. Aku lupa kalau hari ini aku ada janjian dengan Dokter." Erna membuat alasan agar ia dapat mengakhiri sambungan telepon tersebut.


"Kamu sakit? Sakit apa?" Tanya Galang.


Galang masih seperti dulu. Ia memiliki kekhawatiran yang sangat besar terhadap Erna.


"Tidak mas, aku hanya cek-up kesehatan saja."


"Oh... baiklah.. aku kira kamu sakit. Ya sudah, hati-hati dijalan ya. Aku harap, aku akan segera mendengar kabar baik tentang pertanyaan ku tadi. Erna, aku menunggu jawaban darimu. Andaikan hubungan pernikahan kita nanti harus dirahasiakan dan tinggal jauh di pinggir Kota pun akan aku lakukan. Yang terpenting, aku ingin menebus semua waktu yang pernah kita tinggalkan."


"Assalamualaikum," Ucap Erna, tanpa menanggapi ucapan Galang sebelumnya.


"Wa-wa-waalaikumsalam.." Terdengar nada suara Galang yang kecewa dari ujung sana.


Erna langsung mengakhiri sambungan telepon nya dan terdiam di atas sofa. Matanya terus menatap foto Amoroso yang berada tepat di depannya.


"Mas, apa yang harus aku lakukan. Aku takut, bila aku dianggap senang akan kepergian mu dan mengambil kesempatan itu untuk bersatu kembali dengan Galang. Walaupun aku tahu, yang tertulis di surat terakhir kamu adalah meminta aku untuk bersatu dengan Galang, itupun bila mungkin. Keadaan nya mungkin saja mas, karena Galang tidak memiliki istri atau keturunan dari siapa pun. Hanya Topan lah anak Galang. Tetapi, apa iya kisah ini masih dilanjutkan?" Gumam Erna.


....


Bella terlihat gugup saat dirinya baru saja keluar dari kamarnya. Topan terlihat menatap dirinya dengan tatapan kagum. Ya, mereka akan melaksanakan foto untuk melengkapi pemberkasan syarat menikah, yang akan diserahkan kepada petugas yang akan memproses perijinan menikah bagi anggota Polri.


Bella memakai kemeja putih, sedangkan rambutnya tertutup oleh kerudung berwarna senada dengan kemejanya. Bella terlihat semakin cantik dengan memakai kerudung itu. Hingga Topan tidak sekalipun mengedipkan kedua matanya.


"Masya Allah.." Gumam Topan.


Berta hanya tersenyum melihat Topan yang mengagumi putrinya.


"A-ayo berangkat," Ucap Bella.


"I-i-iya," Sahut Topan, seraya meraih kunci mobilnya dari dalam saku celananya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Tanya Bella sambil menatap Topan dengan malu-malu.


"Kamu cantik, kayak bidadari."


Bella mengulum senyumnya dan menundukkan pandangan nya.


"Kalau begini kan semakin semangat aku. Ayo lah," Topan beranjak mendekati Bella dan langsung menggandeng tangan Bella dan mengajaknya untuk segera berangkat.


"Ehemmm," Berta mendehem.


Topan menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Berta.


"Astaghfirullah!" Topan menepuk dahinya dan menghampiri Berta.


"Aduh mami, maaf, Topan dan Bella pergi dulu ya.." Topan meraih tangan Berta dan mengecup punggung tangan Berta.


"Segitunya ya, lihat bella berkerudung, kamu sampai lupa segalanya," Protes Berta.


"Aduh.. maaf mam, suer... anak mami itu cantik banget, jadi saya kayak kena gendam gitu," Topan tersenyum kikuk.


"Halahhh.. alasan kamu Pan, bilang saja sudah gak sabaran," Canda Berta.


Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia tersipu malu.


"Ya sudah sana berangkat. Biar urusan nya cepat kelar," Ucap Berta.


"Iya mam, terima kasih mam." Topan meraih tangan Berta dan kembali mengecup punggung tangan calon mertuanya itu.


"Mau berapa kali kamu cium tangan mami?" Tanya Berta.


"Hah? Tadi sudah ya mam?" Topan seperti lupa ingatan.


"Sudah lah, yang belum itu Bella,"


"Astaga, memang anak mami buat saya lupa akan apa saja," Topan kembali menepuk keningnya.


"Lebay ah," Bella tertawa geli dan menghampiri Berta.


"Mam, Bella berangkat dulu ya."


"Iya sayang, anak cantik mami," Berta mengecup kedua pipi Bella dan membiarkan Bella memeluk dan mengecup punggung tangan nya.


"Assalamualaikum," Ucap Bella dan Topan.


"Waalaikumsalam," Sahut Berta. Lalu, Berta tersenyum melihat Bella dan Topan berjalan meninggalkan ruang keluarga tersebut.


"Ya Allah, aku mohon, lancarkan lah urusan anak-anak ku yang akan menikah. Aku mohon Ya Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Mu. Hanya Engkau yang bisa memberikan keajaiban, hanya engkau yang bisa mengabulkan segala keinginan umat mu. Aku mohon Ya Allah... Berikanlah kebahagiaan untuk Bella dan Topan. Berikanlah jalan yang indah dan jauhkanlah dari segala halangan dan rintangan. Aamiin," Doa Berta di dalam hatinya.


Meskipun harapan Berta tentang Pongki tidak di kabulkan, tetapi tidak membuat dirinya berhenti mempercayai keajaiban dan kebaikan Tuhan. Justru, kekecewaan itu membuat Berta paham, betapa Allah maha tahu mana yang terbaik untuk umatnya.

__ADS_1


Berta seorang mualaf, dengan kejadian yang ia alami saat ini. Justru membuat dirinya semakin dekat dengan sang pencipta. Itu semua tidak lain karena Topan juga. Selama masa sulit, Topan terus menjaga dan mengarahkan keluarga Pongki dengan hal-hal yang baik. Mengingatkan mereka tidak ada sebaik-baiknya pendengar selain sang pencipta.


Topan, calon menantu yang sangat diharapkan oleh Berta dan Pongki. Akankah rencana menikah Topan dan Bella akan berhasil?


__ADS_2