
"Itu apa mas?" Tanya Bella saat Topan baru saja masuk kedalam rumah dengan mambawa kotak kado dari Antok.
"Astaghfirullah!" Topan nyaris saja melompat saat Bella menegur dirinya yang hendak menutup pintu rumah.
"Kok kaget begitu?" Tanya Bella sambil menghampiri Topan.
"Ti-tidak tidak apa-apa." Jawab Topan dengan gugup.
"Itu apa?" Tanya Bella lagi.
"Hmmm, bu-bu-bukan apa-apa."
"Lah, kok aneh gitu sih kamu mas?" Tanya Bella.
"Hmmm, ini titipan Antok," Ucap Topan dengan cepat.
"Oh," Bella mengangguk paham.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya mas."
"Kamar?" Tanya Topan dengan mata yang terlihat berbinar.
"I-i-iya, kenapa mas?"
"Ah, enggak. Aku mau ke dapur dulu," Topan bergegas ke dapur dengan melewati Bella yang terlihat bingung dengan sikap Topan.
Setibanya di dapur, Topan terlihat panik hendak menyimpan dimana barang-barang pemberian dari Antok. Topan terlihat mondar-mandir di dapur dengan wajah yang cemas.
"Pak Topan mau ngapain?" Tanya Ijah yang kebetulan muncul di dapur.
"Astaghfirullah!" Lagi-lagi Topan terlihat gugup dengan kedatangan Ijah.
"Kok kaget begitu sih pak?"
"Ti-tidak apa-apa, kamu bi Ijah ngapain kesini?"
"Lah, ini kan daerah kekuasaan saya pak,"
"Oh..." Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bapak mau apa? Kopi? Teh? Biar bibi yang buatkan."
"Tidak, tidak, saya mau ke kamar." Ucap Topan, seraya hendak melangkah ke arah kamar.
"Bapak mau bikin jamu ya....?" Terka Ijah.
Langkah Topan tertahan dan menatap Ijah sambil berulang kali menelan salivanya.
"Jangan malu-malu sama Ijah pak. Sudah biasa kan kalau pengantin baru minum jamu seterong!" Ucap Ijah.
"Sssstttt...! Apaan sih bi... nanti kedengaran non Bella loh. Saya kan malu,"
Ijah menutup mulutnya dan mengangguk paham.
"Jadi, mau diseduh kan pak?" Tanya Ijah lagi.
"Siapa yang mau minum jamu. Tidak ah, saya mau ke kamar," Topan terlihat sewot dan berjalan meninggalkan dapur sambil menenteng kotak kado dari Antok.
"Nyusahin emang si Antok!" Keluh nya.
"Eh, tapi ngapain juga aku bawa-bawa ini kotak? Mending tinggal di mobil saja." Batin nya lagi. Lalu Topan bergegas kembali ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah tersebut, dan kembali lagi tanpa membawa kotak itu.
"Hmmmm, Bella lagi ngapain ya?" Batin nya sambil bergegas menyusul Bella ke kamar. Setibanya Topan di depan pintu kamar Bella, mendadak nyalinya ciut. Ia kembali menggaruk kepalanya dan menghela nafas panjang.
"Hmmm... ya sudah lah, dari pada tidur di sofa." Batin nya.
Topan membuka pintu kamar secara perlahan dan melangkah masuk ke dalam kamar Bella. Lalu ia menutup pintu kamar pelan-pelan dan berjalan menghampiri Bella yang terbaring di ranjang dengan posisi miring membelakangi Topan.
"Hmmmm, Bel... aku boleh tidur di sini?"
Bella yang diam saja, justru membuat jantung Topan berdegup kencang.
__ADS_1
"Bell, maaf sebelumnya, aku masuk kedalam selimut ya... Aku tidur di samping kamu.." Ucap Topan lagi.
Bella masih bergeming dan memunggungi Topan.
"Sayang... kamu lagi gak marah kan sama aku? Sayang..." Topan mengintip wajah Bella yang sedang memunggungi dirinya.
"Yah tidur! Untung belum minum jamu!" Seru Topan sambil menepuk dahinya.
"Hah? Jamu?" Tiba-tiba saja Bella menoleh dan menatap Topan dengan tatapan yang sangat sulit di artikan oleh Topan.
"Ka-kamu belum tidur?" Topan terkejut dan Pipi nya terlihat memerah karena malu.
"Jamu?" Lagi-lagi Bella bertanya.
Rupanya saking groginya, Bella tadi berpura-pura sudah tertidur. Namun, saat dirinya mendengar kata jamu, jiwa penasaran nya pun bergejolak dan hendak tertawa terbahak-bahak.
"Ja-jamu masuk angin," Sahut Topan seraya mengalihkan pandangan nya.
"Kamu masuk angin mas?"
"Enggak?" Topan menggelengkan kepalanya dengan polos.
"Terus? Kenapa minum jamu?" Tanya Bella lagi.
"Ah iya, masuk angin.." Topan tersenyum canggung. Lalu, dua-duanya terdiam diatas ranjang itu. Sedetik kemudian, mereka berdua mulai tersenyum dan tertawa geli. Setelah itu kembali diam dan menundukkan pandangan nya.
"Ok lah, aku jujur, itu.. si Antok menghadiahkan jamu kuat," Ucap Topan.
"Hah?" Bella terkejut dan menatap Topan dengan seksama.
"I-i-iya... gitu... tapi.. aku gak mau minum.. kan aku sudah kuat.." Ucap Topan terbata-bata.
"Kuat apanya mas?" Tanya Bella dengan ekspresi wajah yang terlihat polos.
"Hmmmm, tenaga."
"Emang mau ngapain?" Tanya Bella.
Bella membuang pandangannya dan terlihat gugup. Mereka berdua kembali terdiam.
"Mas kita mau tidur apa main..."
"Main sambil tidur!" Sela Topan.
Bella terbelalak dan menatap Topan dengan tak percaya.
"Ma-maksudnya?" Tanya Bella.
"Bella, aku ingin kita melakukan nya," Ucap Topan berterus terang.
"Ma-maksudnya apa ya mas?" Tubuh Bella terlihat gemetar ketakutan.
"Itu.. kita.. hmmm.. kita suami istri kan? Jadi... itu.. anu.. apa namanya..."
"Apa?" Tanya Bella yang tampak semakin ketakutan.
Topan menatap Bella dengan tatapan penuh gelora asmara. Sebaliknya, Bella menatap Topan seperti sedang merasa terancam.
"A-aku bo-boleh cium kamu?" Tanya Topan berterus terang.
"Hah? Hmmm ya.." Bella mengangguk dengan ragu.
Topan mendekati Bella dan menatap Bella dengan tatapan yang gugup.
"Ah, aku sudah pernah mencium nya, kenapa kali ini sangat grogi?" Batin Topan.
Topan mendekati bibirnya ke bibir bella, lalu menyentuh bibir Bella dengan sentuhan yang hangat dari bibir lembutnya. Hanya sekedar mencium, namun jantung mereka berdua berdegup dengan kencang.
Topan melepaskan ciuman nya lalu ia menatap Bella dengan tatapan yang canggung.
"Boleh?" Tanya nya dengan wajah yang penuh harap.
__ADS_1
"Hmmm, gimana ya.."
Mereka berdua terdiam diatas ranjang.
"Kalau tidak boleh tidak apa-apa," Ucap Topan seraya tersenyum. Lalu, ia menundukkan pandangan nya.
"Hmmm mas.."
"Ya..?" Topan kembali menatap Bella.
Bella tersenyum dan menundukkan wajahnya.
Topan tersenyum dan kembali mendekati Bella. Perlahan tangan Topan menarik celana tidur Bella. Bella sempat menahan tangan Topan. Namun, saat ia menatap Topan saat mencegah suaminya itu, ia mengurungkan niatnya untuk menahan dan memilih untuk membiarkan apa yang akan Topan lakukan kepada dirinya.
Melihat hal itu, Topan mulai bersemangat. Ia mulai melakukan apa yang harus ia lakukan kepada istrinya. Ia mulai menyentuh dan melucuti satu persatu apa yang dikenakan oleh Bella. Tidak menunggu lama, kini Bella sudah terlihat polos di depan dirinya.
Topan sempat tertegun sesaat, lalu ia menelan salivanya dan menghela nafas panjang.
Topan mulai beraksi, tangan nya mulai menjelajahi di setiap inci tubuh istrinya. Bibirnya yang hangat mulai bermain di setiap titik sensitif yang dimiliki oleh setiap wanita. Tanpa ampun, Topan tidak sedikitpun ingin membuat Bella merasa kecewa kepada dirinya. Terutama apa yang menjadi ketakutan nya selama ini tentang mimpi buruk nya itu terbukti pada malam ini.
Bella terlihat sudah melayang ke langit ketujuh. Seakan tak sabar, Bella menarik Topan dan memeluknya dengan erat.
"Aku milikmu mas," Bisik nya dengan suara yang terdengar serak dan menggoda.
Topan menatap wajah istrinya yang sudah mabuk kepayang. "Inilah saat nya membuktikan durasi Topan Alexander!" Batin Topan dengan penuh semangat.
Tanpa perlu petunjuk, Topan sudah berada di posisi yang pas, untuk siap membuktikan kejantanan nya sebagai seorang lelaki. Dengan nafas tersengal, Bella memegangi kedua tangan Topan yang berada di antara tubuhnya.
"Mas, pelan-pelan." Ucap Bella yang terlihat mulai bersiap menerima serangan dari Topan.
Topan mengangguk dan mulai menekan nya kedalam milik Bella.
Bella terbelalak, menahan sakit yang sangat luar biasa.
"Ma-ma-mas...!" Bella meringis tubuhnya mulai gemetar.
Tetapi, Topan mencoba untuk membuat Bella merasa santai, ia memeluk Bella dan mengecup lembut bibir Bella. Tanpa menghentikan aksinya untuk membuktikan kesucian istrinya.
Saat itu juga Bella nyaris berteriak. Ia mengigil dan meremas seprai sekuat tenaga. Terasa benda asing memenuhi setiap rongga di dalam bagian sensitif nya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa sakit, yang menjalar ke seluruh tubuhnya seketika membuat dirinya lemas tak berdaya.
Saat itu juga Topan mulai melakukan aktivitas nya. Mencoba mencapai apa yang sangat ingin ia lakukan selama bertahun-tahun lamanya semenjak dirinya merasakan pubertas.
Pun dengan Bella, perlahan rasa sakit itu hilang entah kemana. Yang tersisa hanya rasa nyaman yang diberikan oleh Topan. Rasa yang begitu luar biasa hingga sangat sulit digambarkan. Bella mengigit bibirnya, menancapkan kuku-kukunya di lengan Topan yang berada tepat diatas tubuhnya. Hingga akhirnya, terasa hal yang sangat aneh, perlahan wajah Bella terasa memanas dan memerah. Seperti terbuai, ia mulai merasakan relaksasi yang luar biasa nikmatnya. Bella membuka kedua matanya dan menatap Topan dengan senyum di bibirnya.
Topan tersenyum sambil terus mengatur nafasnya. Lalu ia mengecup kening Bella dengan lembut dan kembali menatap istrinya itu.
"Sudah?" Tanya Bella.
"Belum?" Topan menggelengkan kepalanya.
"Hah!" Bella terkejut dan mengerutkan keningnya.
"Aku tidak selemah itu," Ucap nya sambil menancapkan miliknya dalam-dalam.
Bella terbelalak dan sedikit merasakan nyeri.
"Mau berapa lama? Ayo..!" Seru Topan sambil tersenyum nakal.
"Mas!" Pekik Bella.
Topan tak peduli. Ia terus melanjutkan aksinya sampai hingga dimana titik ia merasa terpuaskan. Ya, Topan tidak selemah itu. Malam ini dia membuktikan nya tanpa bantuan dari segala macam merk jamu yang diberikan Antok kepada dirinya.
Dua kali set, yang di mulai pukul setengah satu dini hari, hingga harus berhenti saat waktu subuh menjelang.
Bella terengah-engah dan terkapar di samping Topan.
"Lanjut habis subuhan ya.." Ucap Topan.
"Tidakkkk! Nyerah!" Pekik Bella.
Topan tertawa geli dan mengecup kening Bella yang dipenuhi peluh, dengan gemas.
__ADS_1
"Gak kok, bercanda." Topan tertawa penuh kemenangan.