Masteng

Masteng
72. Calon menantu


__ADS_3

Detak jarum jam, menggema di ruangan rawat inap dimana Berta sedang tertidur lelap. Si tangan kirinya tertancap jarum infus. Sedangkan tangan kanan nya sedang di cek tensinya oleh perawat yang sedang bertugas.


Perawat wanita itu melepaskan alat pendeteksi tekanan darah dan merapikan nya. Dengan wajah khawatir, Bella menatap perawat tersebut.


"Sus, mami saya tidak apa-apa kan?" Tanya Bella yang matanya terlihat sembab karena tadi sempat menangis histeris dengan apa yang terjadi.


"Tidak apa-apa mbak. Ibu sedang shock saja, makanya pingsan. Jadi, ibu harus beristirahat dan akan terus kami pantai keadaan nya."


Bella mengangguk paham, lalu ia mengucapkan terima kasih kepada suster itu. Suster itupun beranjak dari ruangan tersebut, dan kembali menjalankan tugasnya di ruangan yang lain nya.


"Mam," Bella kembali menangis. Ia menyentuh lembut tangan Berta yang masih tak sadarkan diri dengan selang oksigen yang berada di kedua lubang hidung nya.


"Mam, bangun..." Bella berusaha untuk menyadarkan Berta. Namun, wanita itu bergeming. Tampaknya ia benar-benar merasa shock yang diiringi perasaan yang lelah menjadi satu.


Bella menenggelamkan wajahnya di tepi ranjang. Tangan nya terus menggenggam tangan Berta yang lemah.


"Paijo... ternyata kamu.." Bella kembali menangis tersedu-sedu. Mengingat betapa bodohnya dirinya karena tidak menyadari siapa Topan sebenarnya.


Walaupun ia sudah mulai mencurigai Topan bukanlah supir yang biasa, namun dirinya tidak pernah menyangka bila Topan adalah polisi yang sedang menjalankan peran polos nya untuk menangkap daddy nya sendiri.


Bella merasa kecewa, bukan hanya merasa kecewa dengan Topan. Tetapi, ia juga merasakan kekecewaan yang mendalam dihatinya. Andai saja, dirinya tepat menganalisa siapa Topan dan tahu apa kesalahan Pongki, mungkin dirinya akan menyelamatkan Pongki dan meminta Pongki untuk tidak kembali ke Jakarta dan melarikan diri keluar negeri.


Anak tetaplah anak, keluarga tetaplah keluarga. Walaupun berapa berat salah mu, keluarga tidak akan rela bila kamu dihukum dan dikurung dan menderita di dalam penjara.


"Bella," Panggil Berta dengan suara yang terdengar lemah.


Bella terhenyak, lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap Berta dengan wajah yang cemas.


"Mam, bagaimana keadaan mami? Sebentar ya mam, aku panggilkan dokter." Bella beranjak dari duduknya dan hendak bergegas untuk menekan tombol kecil yang berada di samping ranjang Berta. Tombol yang di sebut Nurse call tersebut pun di tekan oleh Bella. Lalu, dengan wajah khawatir, Bella kembali menatap Berta.


"Mam, apa yang mami rasakan saat ini?"


Berta menggeleng lemah, lalu ia mulai menangis hingga sesenggukan. Bella yang melihat Berta masih shock pun, langsung memeluk Berta dengan erat.


"Mami, mami yang sabar ya.. Bella sudah menghubungi pengacara daddy. Mereka sudah mendampingi daddy di kantor polisi. Semoga daddy tidak di hukum berat mam,"


Berta masih terus menangis. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Hatinya begitu hancur, bersama dengan harapan yang di janjikan Pongki kepada dirinya.


Beberapa perawat bersama dengan seorang dokter pun memasuki ruang rawat Berta. Lalu, mereka mengecek keadaan Berta yang masih terlihat lemah.


Sedangkan disaat yang bersamaan, ponsel Bella berdering. Ia pun memilih untuk keluar dan menerima telepon yang ternyata dari pengacara Pongki.


"Halo," Sapa Bella, saat dirinya baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Halo mbak Bella."


"Ya pak, ada apa? Bagaimana keadaan daddy saya?"


"Keadaan pak Pongki baik. Ada satu hal yang ingin saya katakan pada mbak Bella."


"Apa itu pak?" Tanya Bella yang tampak penasaran.


"Begini mbak, sebenarnya kasus bapak kali ini sangat memberatkan nya. Bapak adalah pemilik pabrik dan sekaligus pengedar obat-obatan terlarang. Jadi, ada kemungkinan bapak mendapatkan hukuman mati."


Bella terdiam membisu, tubuhnya gemetar dan matanya mulai memerah menahan tangis.

__ADS_1


"Jadi bagaimana pak?"


"Kami berusaha semaksimal mungkin untuk membela bapak Pongki. Kami mohon doa dari mbak Bella dan juga ibu Berta. Karena selain kasus itu, bapak juga dijerat hukuman atas pencucian uang. Jadi, uang yang di dapatkan dari memproduksi obat-obatan terlarang itu, bapak dirikan bisnis yang lain nya. Ada kemungkinan, semuanya di sita mbak?"


Nyaris saja ponsel yang berada di dalam genggaman tangan Bella, terjatuh. Air mata mulai membasahi pipinya.


"Di-di-di sita bagaimana?" Tanya Bella dengan suara yang bergetar dan jantung yang berdebar kencang.


"Jadi, semua usaha dan harta bapak akan di sita negara."


Bella terdiam membisu.


"Ini sedang di dalami kasus nya. Kami akan berusaha sebaik mungkin."


"I-i-iya pak, saya mohon bantuannya."


"Baik mbak Bella. Harap bersabar dengan apa yang terjadi. Salam untuk Bu Berta."


"Iya." Tutup Bella.


Bella terduduk lemas di kursi tunggu yang berada di depan kamar rawat inap Berta.


"Bila semua disita. Terus, pakai apa aku membayar pengacara?" Gumam Bella.


..


"Ya Allah Topannnn..." Ucap Erna Sulastri, ibunda Topan. Saat ia melihat anak nya pulang ke rumah nya yang begitu asri.


Erna sangat menyukai tanaman. Hampir semua jenis tanaman hias, ada di rumah nya. Dan sebelum ia menyadari kedatangan Topan, ia sedang asik merawat dan menyiram tanaman hias yang ia miliki di halaman rumah nya yang tampak sederhana namun memiliki luas tanah yang begitu besar untuk ukuran Kota besar seperti Jakarta.


"Bu," Sapa Topan, lalu ia mengecup punggung tangan Erna dan memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.


"Baik bu. Ibu, bapak dan adik-adik apa kabar?"


"Baik, baik. Ayo masuk dulu.. Istirahat di dalam. Wajahmu itu lelah sekali, ibu buatkan teh ya.."


Inilah yang sangat dirindukan oleh Topan saat dirinya pulang kerumah. Sambutan hangat seorang ibu, tidak ada yang mampu menggantikan nya.


"Iya bu," Ucap Topan. Di iringi oleh Erna, Topan memasuki rumahnya dan duduk di sofa ruang tamu rumah tersebut.


"Sebentar, ibu buatkan teh dulu," Erna pun bergegas ke dapur. Sedangkan Topan mengangguk dan tersenyum manis kepada ibunya.


Sambil menunggu Erna membuatkan teh untuk nya, Topan menyenderkan punggungnya ke senderan sofa. Lalu, ia memijat pelipisnya yang terasa pusing. Pikiran nya tidak lepas dari Bella dan Berta.


"Bagaimana keadaan kalian?" Batin nya.


Wajah Bella dan Berta terus menghantui dirinya, yang membuat Topan sedikit merasa tertekan dengan keadaan.


"Topan, ayo diminum teh nya nak," Ucap Erna yang baru saja muncul di ruang tamu dengan membawa segelas teh hangat.


"Hmmm, ini dia yang Topan rindukan bu. Tidak ada teh yang paling enak, selain buatan ibu," Ucap Topan sambil meraih gelas teh itu dari tangan Erna.


Erna tersipu malu dan menatap Topan dengan tatapan yang begitu tulus.


"Terima kasih ibu," Ucap Topan sebelum ia menyeruput teh buatan wanita yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini.

__ADS_1


"Ahhhh... mantap..." Ucap Topan sambil tersenyum manis.


"Bagiamana pekerjaan kamu?" Tanya Erna.


"Alhamdulillah lancar bu," Sahut Topan.


"Bapak mu pasti bangga sekali dengan mu Topan."


Topan hanya tersenyum menanggapi ucapan Erna.


"Bapak mana bu?"


"Bapak sedang ke kantor. Kamu mau beristirahat dulu?"


"Tidak... nanti saja. Oh iya adik-adik mana bu?"


"Pinky dan Guntur sedang di kampus."


"Oh..." Topan mengangguk paham.


"Hmmm, bagaimana? Apa ibu sudah mau dapat calon menantu?"


Degggggg!


Topan terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Erna. Lalu, dengan perlahan ia tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Ayo dong... usia mu sudah tiga puluh dua tahun loh,"


"Apa sih bu..." Topan tersipu malu.


"Ibu kan ingin punya cucu, Pan. Gimana? Sudah ada pacar belum? Biar ibu lamar dia untuk mu. Atau kamu mau sama putrinya teman Bapak. Namanya Lestari, dia seorang dokter loh. Orang nya cantik sekali."


"Bu... Topan sudah ada pacar." Tegas Topan.


"Oh ya? Siapa namanya?"


Topan terdiam sejenak. Mengakui Bella kekasihnya membuat nafasnya terasa sesak. Tetapi, kenyataan Bella memanglah kekasihnya. Satu-satunya wanita yang mampu membuat dirinya begitu mencinta begitu dalam.


"Bella." Sahut Topan.


"Apakah dia sudah siap untuk menikah?" Cerca Erna.


Topan tersenyum kecut. Lalu, ia menatap Erna dengan tatapan yang sendu.


"Kami baru memulai kisah bu. Doakan saja aku berjodoh dengan nya."


"Pasti! Pasti ibu doakan. Tapi inget le.... jangan lama-lama. Ibu loh sudah kepengen punya cucu. Bayangkan, sehari-hari ibu sendiri terus di rumah."


Topan tersenyum dan mengangguk dengan pasti.


"Hanya doa ibu yang mampu mempermudah jalan ku untuk berjodoh dengan nya. Aku mohon doa nya saja."


"Iya, ibu pasti mendoakan kamu dan... siapa namanya?"


"Bella bu.."

__ADS_1


"Ah iya... Bella. Namanya saja sudah cantik, apa lagi orangnya."


Erna tersenyum semringah. Sedangkan Topan hanya mampu tenggelam dalam angan nya yang tidak tahu mau dibawa kemana bersama dengan Bella, sang wanita pujaan yang juga anak dari target yang berhasil dirinya tangkap itu.


__ADS_2