
Maaf, aku masih bertugas diluar Kota, aku tidak bisa ikut mengubur daddy. Aku benar-benar minta maaf Bella. Andai saja bukan karena tugas, aku pasti sudah di sana untuk mendampingi kamu menghadapi ini semua. Aku sangat menyesal karena aku tidak bisa selalu ada di samping kamu.
Bella membaca pesan singkat yang dikirim oleh Topan. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya. Di hadapan nya kini ada peti jenazah Pongki. Di sisi kanan nya ada Berta yang terus menangis di depan peti tersebut. Sedangkan Erna sedang sibuk menggendong Jagat yang merasa terganggu dengan suara-suara orang yang ramai di rumah tersebut. Sedangkan Galang, lelaki itu sedang sibuk mengurus keperluan untuk pemakaman Pongki.
Tidak apa-apa mas, mas hebat.. Aku bangga sama mas. Disini sudah ada baba, ibu dan mami. Aku kuat.. Hati-hati di sana ya mas. Jangan terlambat makan. Jaga kesehatan mu mas. Agar mas bisa pulang dengan sehat dan selamat.
Balas Bella.
Dreeetttttt....!
Topan yang sedang termenung di sebuah ruangan tempat dirinya beristirahat, meraih ponsel nya. Lalu membaca pesan yang baru saja di kirimkan oleh Bella. Air mata terus mengalir di pipinya. Rasa bersalah, berdosa, dan lain sebagainya terus menyerang pikiran nya.
"Ya Allah..." Topan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Topan Alexsander!"
Topan mengangkat wajahnya saat melihat seorang psikolog datang menghampiri dirinya.
"Ya, saya."
Psikolog itu adalah psikolog khusus yang bertugas untuk para abdi negara. Psikolog itu bukan sembarang psikolog, dirinya juga seorang polisi.
"Bagaimana keadaan nya?"
Topan terdiam membisu.
Psikolog itu menghela nafas panjang dan duduk di hadapan Topan.
"Turut berdukacita," Ucap Psikolog itu.
Topan menatap psikolog tersebut dengan tatapan yang kuyu.
"Apakah.."
"Ya, setiap data saya yang pegang. Saya tahu siapa yang sedang saya tangani. Saya tahu, betapa beratnya apa yang baru saja anda alami. Berbicaralah, hingga anda merasa lega. Setelah itu lebih baik lah, dan kembali bertugas."
__ADS_1
Topan kembali menangis, ia mengeluarkan semua emosi di hatinya, dan rasa sedih yang tak terkira yang sedang ia rasakan.
"Ya, menangislah. Lelaki juga harus menangis. Menangis itu wajar, dikala manusia mencari kekuatan, pasti dirinya akan menangis. Yang berbahaya justru bila kamu tidak dapat menangis."
Mendengar ucapan sang psikolog, tangisan Topan semakin menjadi. Ia meraung menangisi segalanya. Apa yang menjadi penyesalan nya, apa yang menjadi beban nya dan lain sebagainya. Hingga akhirnya sang psikolog memutuskan memberikan hipnoterapi untuk Topan, agar lelaki itu merasa membaik setelah nya.
...
Antok berdiri di sisi Suprapto, ya... Suprapto sengaja hadir untuk Topan dan keluarganya. Tanpa mereka berdua ketahui, Topan tidak bisa hadir saat penguburan jasad mertuanya, Pongki.
"Kemana anak itu? Tugas dimana?" Tanya Suprapto kepada Antok.
"Mana lah aku tahu bang.. bang..." Bisik Antok.
"Memang dia tidak ada mengabari kau?"
"Gak ada." Sahut Antok.
"Kayak ada yang aneh, kenapa dia tiba-tiba di tugaskan. Padahal semua orang tahu, bila mertuanya hari ini di eksekusi." Suprapto tampak sedang berpikir.
"Wuiiiihhh sudah dewasa cara berpikir mu itu Antok!"
Antok tersenyum semringah, lalu dengan sombongnya dia menepuk dadanya.
"Calon suami ini loh bang. Mau menikah aku Januari Januari nanti. Abang datang ya."
Suprapto terhenyak saat mendengar Antok akan menikah.
"Sama siapa kau menikah?" Tanya Suprapto yang tampak penasaran.
"Sama Lestari lah. Aku sudah melamar nya Mei kemarin. Selama ini aku sibuk mengurus pernikahan aku dengan dia."
"Wuiiihh... akhirnya burung mu itu tidak menganggur lagi ya... Tidak perlu cara manual lagi,"
"Iya lah bang, irit sabun sekarang. Tapi boros shampoo..!"
__ADS_1
Mereka berdua menahan tawa, sebenarnya ingin sekali Suprapto tertawa keras, hanya saja ia tahu suasana di sekitarnya yang tengah berduka.
"Ah, ada kau itu buat orang gagal sedih. Jauh-jauh kau dari aku! Gak lucu kalau orang-orang menangis, aku tertawa geli gara-gara kau!" Ucap Suprapto seraya mendorong Antok untuk menjauh darinya.
"Kok aku pula yang abang salah kan.." Antok terlihat kesal dan berjalan menjauhi Suprapto.
"Pak Pongki... " Tiba-tiba saja Antok menangis dan memanggil nama Pongki.
"Eeee... dasar bipolar!" Batin Suprapto.
.
Galang memasuki ruang tamu rumah Berta, dimana jasad Pongki sementara disemayamkan di sana. Galang berjalan mendekati Berta dan berbisik kepada wanita yang tengah berduka itu.
"Maaf Bu, liang lahat nya sudah selesai. Mari kita berangkat ke pemakaman," Ucap Galang.
Berta menghela nafas dan menghapus air matanya.
"Baik Pak, terima kasih," Sahut Berta.
Lalu, Galang beranjak dari samping Berta dan menginstruksikan kepada para lelaki yang ada di sana, untuk mulai mengangkut peti jenazah Pongki ke komplek pemakaman keluarga Berta, yang tak jauh dari rumah tersebut.
Komplek pemakaman berada di belakang rumah tersebut. Tetapi, tidak berada di dalam pagar rumah. Untuk ke komplek pemakaman itu, mereka harus keluar dari gerbang dan memutar jalan menuju ke jalan setapak yang di sisakan dari tanah milik keluarga Berta.
Antok, Galang, Suprapto menjadi bagian dari beberapa lelaki yang memanggul peti jenazah milik Pongki. Sedangkan di belakang mereka terlihat Berta dan Erna yang berjalan mengiringi peti jenazah tersebut. Sedangkan Bella terpaksa harus tinggal di rumah bersama dengan Jagat.
Setibanya di komplek pemakaman keluarga Berta, Peti jenazah Pongki pun diturunkan. Setelah melakukan serangkaian tata cara pemakaman, akhirnya jenazah itu pun di turunkan ke dalam liang lahat. Suprapto turun ke dalam liang lahat itu dan melantunkan adzan, sebelum jasad itu dikubur dengan tanah yang teronggok di masing-masing sisi liang.
Setelah selesai di adzan kan, Suprapto di bantu oleh Antok pun keluar dari dalam liang. Mereka pun mulai mengubur jenazah itu. Tangisan histeris Berta mengiringi penguburan jasad kekasih hatinya itu. Rasa luka mendalam dan patah hati yang luar biasa menyelimuti hatinya. Namun kuat tidak kuat, ia harus melalui ini semua. Dirinya sadar, masih ada Bella dan Jagat yang menjadi kekuatan untuk dirinya. Mungkin, rasa sakit ini hanya sebentar. Selebihnya ia akan belajar ikhlas untuk merelakan kepergian Pongki untuk selama-lamanya.
.
Kekasih hati... aku pergi hanya untuk sementara. Setelah itu, berjanjilah untuk menemui aku di akhirat. Bila aku masuk neraka dan kau masuk surga, aku mohon... berdoalah untuk ku.. Agar hukuman ku segera berakhir, lalu aku di angkat ke surga dan kembali mendampingi dirimu di kehidupan yang kekal kelak.
Kekasih ku, aku mencintaimu segenap jiwaku. Maka dari itu, walaupun jiwa ku terpisah oleh raga ini, rasa cinta ku kepadamu tidak akan ikut terkubur dengan jasad ku. Percayalah... _Pongki Susilo_
__ADS_1