Masteng

Masteng
87. Wisuda impian


__ADS_3

Setiap nama yang di panggil untuk menerima ijazah mereka di atas panggung, selalu di iringi tepuk tangan dan ucapan selamat dari para hadirin. Terutama, saat mereka membacakan kesan mereka selama berkuliah di kampus itu, serta visi dan misi mereka setelah menerima gelar mereka.


Tetapi, saat nama Bella di sebut, tidak ada satupun tepuk tangan yang mengiringi Bella saat ia berjalan menuju keatas panggung. Semua hening, tatapan menghakimi pun tidak dapat Bella hindari.


'Bella Anastasya Susilo' Dulu, nama itu terdengar begitu indah dan selalu di agungkan oleh para pengagum nya. Tetapi kini, nama itu terdengar sangat tidak disukai oleh banyak orang. Banyak dari mereka terlihat berbisik. Entah apa yang mereka katakan, yang jelas pemandangan itu sangat menggangu bagi Bella.


Tidak hanya para teman satu angkatan saja yang berbisik-bisik di depan Bella. Tetapi, beberapa dosen pun berbisik, membicarakan dan menggunjing tentang kasus yang tengah dihadapi oleh orangtua Bella.


Bella menerima ijazah nya yang diserahkan oleh rektor di kampus itu. Ucapan selamat pun terdengar begitu pelan dari bibir sang rektor. Setelah itu, Bella beranjak ke podium untuk menyampaikan kesan dan visi misinya setelah menerima ijazah yang kini ia genggam. Matanya menatap nanar ke seluruh hadirin yang menatap dirinya seolah dirinya adalah sang pendosa.


Ya, terasa dunia runtuh seketika. Diantara mereka terlihat tidak mau mendengarkan apa yang akan Bella sampaikan. Hingga mereka tega melengos atau sibuk sendiri dengan orang yang duduk disebelahnya. Tentu saja membicarakan Bella, anak seorang narapidana yang memiliki pabrik dan pengedar obat-obatan terlarang.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua," Bella memulai pidatonya. Setelah itu, terdiam sejenak. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Pertama saya ucapkan terima kasih kepada para rektor, asisten rektor, para dosen, dosen pembimbing, teman-teman sekalian dan semua yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu,"


Hening...


"Menyelesaikan S2 di kampus tercinta ini adalah cita-cita saya. Mendapatkan gelar sebagai seorang psikolog adalah impian saya. Bila bukan karena bimbingan para dosen yang tercinta, mungkin saya tidak berada di titik ini."


"Turun lu Bella!" Terdengar teriakan dari arah teman satu angkatan Bella. yang berada di sisi depan podium.


Bella menelan salivanya. Ia sadar betul, bila saat ini, tidak ada satupun orang yang mau mendengarkan dirinya. Air mata terjatuh di pipi Bella. Tidak hanya Bella, Berta pun menangis setelah melihat Bella dipermalukan seperti itu di atas panggung.


"Bella, ya Allah..." Berta terisak dan memegang dadanya yang terasa sakit, bagai tertusuk sembilu. Tidak ada satupun ibu yang rela anak nya dipermalukan seperti itu.


"Anak narapidana! Turun! Perusak generasi muda!" Terdengar teriakan dari sisi kiri panggung. Suasana kisruh pun mulai tercipta, karena beberapa orang yang memancing untuk menghujat Bella.

__ADS_1


Bella menarik nafas panjang, lalu ia mengusap air matanya.


"Lu harus kuat Bella. Lu harus bisa!" Ucap nya di dalam hati.


"Saya akan turun setelah saya berbicara sedikit saja!" Ucap Bella dengan lantang.


Semua terdiam, hening..


"Saya yakin, yang menempuh pendidikan di kampus ini adalah orang-orang yang hebat. Orang yang berpikiran terbuka. Orang yang berprestasi dan memiliki integritas yang baik. Kita di tempa untuk mendapatkan ijazah yang sesuai dengan minat dan cita-cita kita. Tetapi, pendidikan tidak menjamin cara pandang orang dalam memandang suatu masalah."


"Sebagai pemegang ijazah psikologi, yang kini berada di genggaman saya. Saya ingin menyampaikan, cara pandang kita, adalah kualitas kita sebagai manusia. Memanusiakan orang adalah menandakan kita adalah manusia."


Semua terdiam, perlahan beberapa dari orang yang disana, tertunduk malu.


"Saya tidak membenarkan apa pun bentuk dari kesalahan, bila salah, ya salah. Tetapi, menghujat pun tidak menjadi andil bagi kita sebagai sesama manusia yang berpendidikan, yang di didik sejak kecil untuk menjadi orang yang berkualitas dan baik. Apa lagi bertingkah seolah kita adalah dewa atau Tuhan."


"Bangsa ini akan baik-baik saja, bila tidak ada orang yang menghujat saat seseorang berada di titik terendah nya. Sayangnya, menghujat sudah menjadi budaya yang mendarah daging, dibandingkan mencoba untuk berkata yang menyemangati. Entah itu orang yang berpendidikan tinggi, hingga orang yang tidak berpendidikan."


"Akhir kata, saya sangat berterima kepada semuanya. visi dan misi saya, sama seperti yang lain nya. Melakukan yabg terbaik dengan bekal ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari kampus tercinta ini. Dan juga, saya meminta maaf atas kesalahan yang telah ayah saya lakukan. Beliau bersalah, saya akui itu. Beliau tengah menebus kesalahannya di balik jeruji besi. Tetapi saya sebagai seorang psikolog, saya akan bertekad untuk membantu siapa saja dengan ikhlas untuk keluar dari masalah mereka. Agar mereka tidak merusak diri mereka, ataupun merusak orang lain. Terima kasih,"


Bella bergegas turun dari podium dengan air mata yang terurai di pipinya. Semua irang terdiam membisu. Hingga, suara detak jam dinding di ruangan itu terdengar sangat jelas, saking hening nya.


Bella berjalan kearah Berta yang menatap nya dengan air mata haru dan sekaligus kesedihan nya. Berta beranjak dari duduknya saat Bella berhenti dihadapan Berta.


"Ayo kita pulang mam," Ucap Bella.


Berta mengusap air matanya dan mengangguk dengan perlahan.

__ADS_1


Saat Bella dan Berta melangkah ke arah pintu aula. Mulai terdengar tepuk tangan dari seseorang, di susul dengan tepuk tangan lain nya. Tangis Bella meledak tak terkendali saat ia mendengar tepuk tangan yang dipersembahkan untuk dirinya. Bella menoleh kebelakang. Semua orang berdiri dan memberikan rasa hormat kepada Bella. Bella tersenyum di sela tangisan nya. Lalu ia mengangguk hormat dan meninggalkan aula tersebut.


Di depan aula itu, Berta memeluk Bella dengan erat. Hancur, haru, sedih, senang, risau, pilu, sakit, dan semua bersatu padu di hati ibu dan anak itu.


"Selamat atas kelulusan mu nak,"


Bella dan Berta terdiam saat mendengar ucapan selamat yang baru saja terucap dari seseorang.


Bella dan Berta menoleh kearah suara tersebut dan mendapatkan Pongki berdiri beberapa meter dari mereka. Disamping Pongki, terlihat Antok dan Suprapto. Mereka adalah orang-orang yang menjamin Pongki untuk sebentar saja keluar dari tahanan dan menemui Bella yang sedang di wisuda.


"Daddy!"


"Pongki!"


Dua wanita itu pun berlari kearah Pongki dan memeluk Pongki dengan erat.


"Maafkan daddy datang terlambat," Ucap Pongki.


Tidak ada kata yang mampu terucap dari bibir Bella. Ia hanya mampu memandangi Antok dan Suprapto. Serta gerak bibirnya yang mengucapkan terima kasih tanpa suara kepada kedua sahabat karib Topan tersebut.


Antok dan Suprapto pun tersenyum dan mengangguk kepada Bella.


"Ayo foto, waktu bapak tidak lama," Pinta Suprapto.


Bella dan Berta mengusap air mata mereka, dan mengangguk paham. Lalu, mereka mulai berpose di depan kamera ponsel milik Suprapto.


"Satu... dua... tiiiii....gaaaa!"

__ADS_1


Ckrekkkkk...


Dan impian Bella pun terabadikan. Yaitu, wisuda dihadiri oleh kedua orangtuanya.


__ADS_2