Masteng

Masteng
119. Malam ini, aku tidak melihatmu


__ADS_3

"To-to-topan..?" Ucap Berta, sesaat ia membukakan kaca mobil itu.


"Mami, ngapain disini? Bella mana?" Tanya Topan.


"Bella.. hmmm.. mami disini hanya merindukan rumah ini. Be-bella... dia.. dia keluar sejak sore." Ucap Berta dengan gugup.


Topan menatap rumah Pongki yang telah disita, rumah itu terlihat gelap gulita.


"Kamu kok tahu kalau mami ada disini?" Tanya Berta.


"Maaf mami, saya iseng melacak mobil ini. Saya hanya ingin memastikan saja bila semua baik-baik saja. Ternyata, mobil ini cukup lama berhenti di sini. Tapi, mengapa mami parkir disini?"


Berta kembali gugup, ia takut sekali bila Topan mengetahui misi nya dan Bella.


"I-i-iya, ta-ta-tadi sudah mau jalan. Hanya saja, mami masih merindukan rumah itu. Jadi, berhenti disini deh."


Topan menatap Berta dengan seksama, lalu ia mengangguk paham.


"Bella kok tidak mengatakan apa-apa ya mam, sama saya," Ucap Topan.


"Ma-masa?" Berta pun semakin gugup.


"Iya tapi ya sudahlah. Nanti dia saya hubungi. Mami mau pulang? Atau mau disini dulu. Tapi, saya khawatir kalau terjadi apa-apa. Saya juga harus segera pulang. Ada yang harus saya kerjakan,"


"I-i-iya.. ya sudah, mami pulang ya..." Berta menyalakan mesin mobil tersebut dan tersenyum kepada Topan.


"Hati-hati ya mam,"


"Iya, kamu juga hati-hati dijalan."


"Siap mam," Topan tersenyum dan menjauh dari mobil yang dikendarai oleh Berta itu mulai bergerak untuk meninggalkan lingkungan perumahan tersebut.


Topan menatap mobil itu hingga mobil tersebut menghilang di tikungan jalan. Setelah itu, Topan kembali menatap rumah milik Pongki yang telah disita. Lalu, ia melangkah menuju ke mobilnya. Topan pun bergegas meninggalkan lingkungan perumahan tersebut.


.


.


.


.


Berta yang sedang mengendarai mobil, mencoba menghubungi Bella. Untuk memberitahukan kepada Bella, bila ia terpaksa jalan untuk menghindari kecurigaan dari Topan yang tiba-tiba saja muncul di lingkungan tersebut.


"Angkat dong bellllll...!" Berta terlihat sangat panik, kala Bella tidak menerima panggilan darinya.


Sedangkan di dalam rumah tersebut, Bella baru saja selesai memindahkan seluruh harta karun yang berada di brankas kedalam dua koper yang ia bawa. Bella menutup brankas tersebut dan kembali menekan patung kuda yang berada di atas meja. Kini, lantai tersebut pun sudah kembali tertutupi oleh meja jati yang sangat berat tersebut.


Bella tersenyum dan menepuk tangannya. Ia merasa misinya kali ini sungguh hebat. Layaknya dalam film yang bertema perampokan bank, dan ia berhasil menggasak seluruh tumpukan uang dalam brankas bank tersebut.


Bella beranjak dari ruang kerja Pongki dengan menyeret dua buah koper di masing-masing tangan nya. Walaupun, koper tersebut telah terisi dan sangat berat. Tetapi bagi Bella tetap terasa ringan. Karena ia merasa ada harapan hidup yang terdapat di dalam koper-koper tersebut.


Bella berhasil membawa koper-koper itu ke lantai atas. Tepat di balkon bagian belakang rumah tersebut, dimana ia berhasil masuk ke dalam rumah itu melalui balkon tersebut. Maka, Bella juga harus keluar dari rumah tersebut, melalui balkon itu.


Bella mengamati sekitar halaman belakang, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Ia pun merasa yakin untuk melemparkan koper-koper itu ke bawah. Setelah koper-koper itu mendarat di atas rerumputan yang ada di sekitar halaman belakang, Bella pun mulai menuruni anak tangga.


Tidak butuh waktu yang lama, Bella sudah berada di bawah, tepatnya kini ia berdiri di rerumputan halaman belakang rumah tersebut. Bella memunguti koper-koper yang tergeletak di atas rumput dan menyeretnya menuju ke gerbang kedua.

__ADS_1


Gerbang kedua terlewati. Lalu, bella berdiri cukup lama di depan gerbang pertama. Ia bingung memikirkan bagaimana caranya ia membawa koper itu melompati gerbang yang sangat tinggi tersebut. Bila saja kopernya kosong, mungkin sangat mudah. Tetapi, koper-koper itu terisi penuh uang yang mau tidak mau harus ia bawa.


Bella menepuk dahinya dan terus bergumam,


"Ayo dong berpikirrrrrrrr duhhh.... gimana ini?" Bella tampak panik dan terus berpikir bagaimana cara untuk membawa koper itu keluar.


"Butuh bantuan?"


Bella terperanjat kala ia mendengar suara dari kegelapan.


"Si-si-siapa itu?" Bella terlihat ketakutan dan langsung mengepalkan kedua tangannya. Tanda ia telah siap untuk melawan siapa saja yang berani menghalangi dirinya membawa koper-koper tersebut.


Sreggg...!


Terlihat seseorang melangkah mendekati dirinya. Samar, Bella mulai mengenali siapa lelaki yang sedang menghampiri dirinya.


"To-to-topan!" Bella nyaris saja berteriak saat ia melihat Topan dengan jelas.


Topan menatap Bella dengan seksama, layaknya seorang Polisi yang tengah menangkap basah seorang targetnya.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya Topan.


"A-aku.."


"Ini koper apa? Apa isinya?" Tanya Topan lagi.


"A-aku... Aku.. aku hanya mengambil barang-barang ku yang masih tertinggal di dalam sana."


"Barang apa?" Topan memegang koper tersebut dan mencoba mengangkat nya.


"Kamu tahu, ilegal hukumnya bila masuk tanpa izin. Walaupun ini adalah bekas rumah mu. Apa lagi membobol pintu belakang," Ucap Topan.


"Ta-tapi, ah.. Topan.. aku mohon.." Ucap Bella dengan wajah yang memelas.


"Ya sudah, sini aku bantu,"


"Bagaimana caranya? Oh iya, kamu masuk dari mana?" Tanya Bella.


Topan mendorong pagar tersebut dan melangkah keluar dari sana. Bella tercengang dan menatap Topan dengan tak percaya.


"Bagaimana bisa? Kok kamu bisa buka kuncinya?"


Topan tersenyum dan membantu Bella mengeluarkan koper-koper itu. Bella pun berjalan mengikuti Topan. Setelah Bella keluar dari sana, Topan kembali mengunci gembok pagar tersebut.


"Bagaimana bisa?" Tanya Bella yang sedang terheran-heran melihat Topan yang begitu santai membuka dan mengunci gembok tersebut tanpa bantuan kunci di tangan nya.


"Ssssttt.. ayo.." Topan menggandeng tangan Bella untuk menjauhi rumah tersebut. Bella berjalan di belakang Topan dengan membawa satu koper, sedangkan Topan berjalan di depan Bella dengan menggandeng tangan Bella di tangan kanan nya dan koper di tangan kirinya.


Dari belakang mereka, terlihat sebuah mobil menghampiri tanpa menyalakan lampu. Lalu, mobil itu berhenti tepat di sebelah Topan dan Bella yang sedang berjalan bergandengan.


"Bella!"


"Mami!


"Topan!" Berta terlihat sangat terkejut saat melihat Topan memegang satu koper di tangan nya.


Berta melangkah keluar dari mobil itu dan mulai menghampiri Topan dengan wajah yang terlihat cemas.

__ADS_1


"Topan, mami bisa jelaskan...!" Air mata mulai mengalir di pipi Berta.


"Sudahlah mi, tidak apa-apa. Topan akan tutup mulut kali ini. Lain kali, jangan masuk secara diam-diam begitu. Apa lagi mami kerja sama dengan Bella. Kalau tertangkap, bagaimana caranya Topan membela. Kan memang salah," Ucap Topan.


Berta terdiam, ia menatap Bella yang mengerlingkan matanya. Kini Berta paham, bila Topan tidak tahu menahu tentang uang tersebut. Topan hanya menyangka bila Bella dan Berta hanya melakukan kesalahan karena masuk kedalam rumah yang bukan hak nya lagi secara diam-diam.


"Mami dan Bella minta maaf ya Pan,"


"Tidak apa-apa mam, yang terpenting, mami dan Bella tidak kenapa-kenapa. Sekarang pulanglah, sebelum ada yang melihat mami dan Bella disini."


"I-i-iya.." Sahut Berta dengan wajah yang tampak bersemangat.


"Biar topan yang urus disini." Ucap Topan seraya membantu Bella dan Berta memasukan koper-koper itu kedalam bagasi mobil.


"Terima kasih Pan,"


"Sama-sama mam,"


"Hati-hati dijalan ya sayang," Ucap Topan, seraya mengecup kening Bella.


"Terima kasih sayang, kamu juga hati-hati dijalan ya..." Bella tersenyum semringah.


"Iya..." Topan membalas senyuman Bella. Lalu, Bella dan Berta meninggalkan lokasi perumahan tersebut dengan senyuman yang terus tersungging di bibir mereka.


"Asikkk! Kamu hebat Bella!" Puji Berta.


"Bella gitu loh!" Bella menyombongkan dirinya dengan gayanya yang khas.


"Kok mami tidak bilang ada Topan? aku kaget loh, jantungku mau copot!"


"Mami tuh sudah telepon kamu. Tapi enggak kamu angkat. Gimana sih... Untung saja Topan tidak curiga. Eh, tadi kamu bilang apa sama Topan? Kok dia tidak curiga?"


"Gampang mam, tinggal bilang saja ambil seprai dan baju-baju yang tertinggal,"


"Cerdas!" Puji Berta.


Dreettt! Dreett!


Bella meraih ponselnya dari dalam saku Hoodie nya. Lalu, ia membaca pesan dari Topan dengan ekspresi wajah yang terpaku.


Topan


Lain kali jangan pernah lakukan itu lagi. Karena kamu butuh, ya sudah... Malam ini aku tidak melihatmu.


"Apa dia tahu?" Batin Bella.


.


.


.


Topan tersenyum dan menggelengkan kepalanya, saat ia baru saja mengirim pesan kepada Bella. Lalu, ia berjalan menuju ke mobilnya dan bergegas meninggalkan lingkungan rumah itu.


Kini, ada tugas yang paling penting di dalam hidupnya. Yaitu, mengetahui jati dirinya.


Di dalam mobil, tepatnya di bangku penumpang yang berada tepat di samping kemudi, terlihat sebuah album yang bersampul kain bludru berwarna merah. Topan membawa album itu bersama dengan nya. Untuk ia tanyakan kejelasan nya kepada Erna. Wanita yang telah melahirkan dirinya 32 tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2