Masteng

Masteng
50. Saya hanya supir bagi non Bella


__ADS_3

"Non, mau saya foto?" Tanya Topan, saat mereka berada di Pura Tanah Lot yang terletak di atas batu karang, berjarak sekitar 300 meter dari garis pantai.


Bella melirik Topan dengan wajah kesalnya, lalu ia mengacuhkan Topan dan berjalan ke arah pembatas Pura tersebut.


Suara deburan ombak yang menghempas batu karang, terdengar begitu menenangkan. Bella yang berdiri tepat di pinggir pembatas pura tersenyum dan menatap ke laut lepas dengan mata yang berbinar.


Topan menghampiri Bella dan berdiri di samping Bella. Lelaki itu turut menatap ke arah lautan lepas. Bella kembali melirik Topan, terlihat wajah sempurna lelaki itu, semakin mengagumkan kala terkena sinar mentari yang begitu terik pada siang ini. Bella kembali membuang pandangannya, saat Topan menoleh kepadanya.


"Non lagi patah hati ya?" Tanya Topan.


Bella menoleh dan menatap Topan dengan seksama.


"Tahu dari mana? Sok tahu!" Ucap Bella. Lalu, gadis itu berusaha mengacuhkan Topan.


Topan tersenyum dan menatap Bella dari samping gadis itu. Terlihat ukiran wajah Bella yang di ciptakan Tuhan dengan sangat sempurna. Topan sangat mengagumi ukiran wajah yang dimiliki oleh gadis itu.


"Semalam, non kan bilang sama saya," Celetuk Topan.


Bella menelan salivanya dan terlihat salah tingkah. Lama ia terdiam, hingga akhirnya Bella memberanikan diri untuk bertanya tentang kejadian semalam kepada Topan.


"Semalam tidak terjadi apa-apa kan diantara kita? Apa jangan-jangan lu ngambil kesempatan dalam kesempitan lagi!" Bella menatap Topan dengan tatapan curiga.


Topan tertawa geli dan mengusap wajah nya yang mulai berpeluh, karena sengatan panas mentari pada siang itu.


"Memangnya yang non Bella rasa bagaimana?" Tanya Topan.


Mendengar pertanyaan nya dibalas dengan pertanyaan kembali, Bella terlihat kesal dan mengerutkan keningnya.


"Gue nanya, terus lu balik nanya? Apa sopan begitu!"


Topan tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jawab... ye... malah ketawa!" Desak Bella.


"Ya saya harus apa non, jawab apa? Mau saya ceritakan yang sebenarnya?" Tanya Topan.


"Iya lah!" Sahut Bella yang semakin kesal dengan Topan.


"Ya sudah, tak ceritakan yang sebenarnya," Ucap Topan.


"Ya sudah, buruan cerita,"


"Tapi disini panas sekali non, cari tempat lain yuk," Topan beranjak dari tempatnya berdiri. Sedangkan Bella terlihat tidak terima dengan sikap Topan.


"Eh Masteng! Yang nyuruh lu pergi siapa? Lu cerita disini, sekarang!" Ucap Bella.


"Loh, kok harus saya yang menuruti non Bella? Yang butuh siapa? Non Bella kan? Ya, sekarang saya gak mau cerita disitu, masa saya di paksa?" Ucap Topan dengan gaya Paijo nya yang polos.


"Iiiiihhhhh...!" Bella terlihat semakin gemas dengan Topan.


"Ayo..." Topan mengulurkan tangannya ke arah Bella.


Bella menatap tangan lelaki itu. Lalu, ia terlihat salah tingkah.


"Ya sudah, ayo!" Bella beranjak dan berjalan mendahului Topan.


Topan hanya tersenyum melihat tingkah Bella yang baginya sangat menggemaskan.

__ADS_1


Lagi-lagi Topan berjalan dibelakang Bella. Karena Bella tidak mau jalan berdampingan dengan nya. Mereka berjalan ke arah deratan kios makanan yang tak jauh dari tangga menuju ke pantai Tanah Lot.


Bella menentukan tempat untuk mereka berbincang, sedangkan Topan terus mengikuti Bella dari belakang, sesekali ia membalas senyum para wanita lokal ataupun turis yang mengagumi wajahnya yang tampan, saat dirinya berpapasan jalan dengan para wanita itu.


Bella duduk di bangku kios dan melihat Topan yang sedang berjalan ke arah kios itu sambil membalas senyuman para wanita yang menyapa nya.


"Hai.."


"Hai," Balas Topan.


Bella mencebikkan bibirnya dan berpura-pura akan muntah melihat tingkah para wanita dan Topan yang seperti itu.


"Hai, hoekkk!" Gumam nya.


Akhirnya, Topan duduk di depan Bella. Lelaki itu memesan segelas kopi saja. Sedangkan Bella memesan air minum kemasan dengan rasa teh hijau.


Setelah pesanan mereka tiba, Bella menatap Topan yang sedang menghirup aroma kopi Bali miliknya. Bella terus memperhatikan tingkah laku Topan, serta terus menatap setiap ukiran di wajah sempurna lelaki itu.


"Tidak salah sih mereka-mereka itu. Dia memang ganteng," Batin Bella. Perlahan, ia mulai salah tingkah, saat Topan membalas tatapan nya.


"Ya... ya... ya sudah buruan cerita," Ucap Bella.


Topan tersenyum kecil dan terus menatap Bella, hingga Bella semakin salah tingkah.


"Lu mau cerita, apa mau cengar-cengir doang sambil lihat muka gue?" Tanya Bella dengan wajah yang mulai kesal.


"Iya, saya cerita deh." Ucap Topan.


"Ya sudah, cepetan," Desak Bella.


"Jadi... semalam saya lagi jalan-jalan," Topan memulai ceritanya dengan berbohong. Padahal, ia sengaja mengikuti Bella dari lobby hotel, hingga ke diskotik.


"Terus?"


"Iya pokoknya itu," Sahut Bella yang merasa tidak sabar ingin mendengar cerita saat ia mencium Topan.


"Nah, saya khawatir non... Makanya, saya pun ikut masuk dan melihat non Bella dari kejauhan. Soalnya, yang saya tahu, tempat begituan kan bahaya untuk wanita, kalau sendirian kesana."


Bella terdiam saat mendengar ucapan Topan. Memang benar sangat berbahaya untuk perempuan yang mengunjungi tempat seperti itu tanpa adanya teman dan yang mengawasi. Bisa saja, dirinya menjadi incaran para predator diluar sana.


"Terus, saya lihat non Bella minum, minuman yang bikin pusing itu loh non," Topan seakan tidak pernah tahu dengan dunia malam dan berbagai macam minuman yang ada di sana.


"Kenapa toh? Kok non Bella minum begituan sampai banyak-banyak?"


"Bukan urusan elu!"


Topan mengerutkan dagunya saat Bella bereaksi seperti itu dengan pertanyaan nya.


"Terus? Buruan cerita...!" Pinta Bella.


"Ehemmmm..." Topan mendahem dan meraih kopi nya, dan menyeruput nya dengan perlahan. Lalu, ia menaruh kembali gelas kopinya dan kembali menatap Bella yang terlihat tak sabar.


"Sabar dong non," Keluh Topan.


Bella hanya menatap Topan dengan tatapan tak suka, saat Topan mengeluhkan ketidak sabaran nya.


"Terusssss...., ada laki-laki yang mendekati non Bella. Peluk-peluk gitu, terus joget-joget kayak kuda lumping. Apa lagi non Bella, joget nya kayak jaran, kalau di kampung saya namanya."

__ADS_1


Bella terdiam, ia merasa malu dengan apa yang diceritakan oleh Topan.


"Saya risih toh, mosok gadis baik-baik kayak non Bella di peluk-peluk lelaki itu," Ucap Topan.


Bella menundukkan wajahnya dan mengigit bibir nya.


"Saya samperin deh lelaki itu, dan meminta dia menjauh dari non Bella. Masa iya, saya diam saja?"


Bella pun teringat saat Topan bertarung dengan lelaki asing itu.


"Terus lu berantem sama dia?" Tanya Bella.


"Iya dong, untung saya pernah masuk taekwondo," Ucap Topan sambil tersenyum Bangga.


Bella mencebikkan bibirnya saat melihat ekspresi bangga dari Topan.


"Terus?" Tanya nya lagi.


"Ya, non Bella saya bawa ke hotel dong. Tiba di hotel, eh... kunci kamar non Bella ketinggalan di tempat jedak jeduk. Ya sudah, non Bella saya taruh di kamar saya saja. Sementara, saya kembali lagi ke tempat jedak jeduk, untuk mengambil tas non Bella. Nah, setelah saya dapat tas non Bella, non Bella saya pindahkan ke kamar non Bella deh," Terang Topan.


"Di taksi, gue cerita apa?" Tanya Bella dengan wajah yang cemas.


"Hmmm, paling masalah patah hati, dan.... "


"Dan apa?" Desak Bella.


"Tidak, tidak ada hanya itu yang saya ingat," Topan tidak ingin menceritakan yang sebenarnya, bahwa di dalam taksi, Bella mengajak nya menikah, dan menciumi leher dan dadanya.


"Terus dikamar lu? Lu yakin tidak berbuat apa-apa sama gue?" Tanya Bella dengan tatapan yang curiga.


"Sumpah non, saya tidak mungkin kurang ajar sama non Bella. Itu harga diri saya sebagai lelaki." Tegas Topan.


Bella terdiam, sebenarnya sedikit banyaknya ia tahu, Topan tidak sama sekali membalas sentuhan nya. Justru Topan seperti menghindari dirinya.


"Apa lagi yang mau non tanyakan?" Tanya Topan, sambil menatap Bella dengan wajah yang tampak tenang dan mengagumi gadis itu.


"Hmmm... masalah..."


"Ciuman?" Celetuk Topan.


Bella tersentak dan menatap Topan dengan mata yang membulat.


"Jadi? Gue beneran ciuman sama si Masteng?" Batin Bella. Seketika wajah nya memerah, matanya memanas dan menjadi salah tingkah.


"I-i-iya," Sahut nya tanpa berani menatap Topan sedetik pun.


"Saya tidak menganggap itu ada." Tegas Topan.


Bella terhenyak dan menatap Topan dengan seksama.


"Kenapa?" Tanya nya dengan wajah yang masih memerah menahan malu.


"Karena saat itu non Bella tidak dalam keadaan yang terkendali. Dan saya sadar, saya hanya supir bagi non Bella."


Deggggg!


Ucapan Topan sederhana, namun cukup menghantam hati Bella yang terlalu menganggap Topan begitu rendah.

__ADS_1


"Apa lagi yang mau non tanyakan?"


"Ti-tidak, sudah cukup," Sahut Bella, lalu ia meraih botol minuman nya dan meneguknya hingga habis tak tersisa.


__ADS_2