
Mobil Topan dan truk pembawa barang, memasuki sebuah rumah mewah dengan cat dinding yang sudah kusam dan tak terawat. Dedaunan kering memenuhi hampir semua bagian halaman rumah berpagar hitam dengan tinggi dua meter tersebut. Sejak kepergian kedua orangtua Berta, rumah itu terbengkalai begitu saja. Berta hanya datang dua bulan sekali membawa para pekerjanya untuk membantu dirinya membersihkan rumah tersebut.
Mengapa tidak membayar orang saja untuk menjaga rumah itu? Pernah, namun jarang sekali orang yang amanah. Berta di khianati pegawainya sendiri yang membawa beberapa barang berharga dari rumah warisan orangtuanya itu dan meninggalkan rumah itu begitu saja. Padahal, ia selalu mentransfer gaji untuk mereka setiap bulan dengan tepat waktu. Tetapi, Berta mengikhlaskan nya. Sejak saat itu, dia malas membayar orang dan lebih memilih untuk membawa pekerja nya saja untuk membersihkan rumah itu. Rumah warisan orangtua Berta terletak di pinggir kota Jakarta, cukup jauh dari pusat Kota tersebut.
Pengemudi truk dan beberapa personilnya pun turun. Mereka menurunkan dan membawa masuk barang-barang milik Berta dan Bella ke dalam rumah usang tersebut, setelah Berta membuka pintu rumah yang dipenuhi dengan debu dimana-mana.
Berta menghela nafas panjang dan menatap Bella dengan tatapan putus asa. Pun dengan Bella, gadis itu termenung dengan ekspresi wajah yang terlihat tidak menerima keadaan saat ini.
Topan tersenyum dan langsung membuka kaosnya. Kini Topan bertelanjang dada dengan otot perut yang terpahat begitu indah.
"Mami dan Bella duduk saja. Biar saya yang membereskan semuanya." Ucap Topan, seraya menggulung celana panjang nya.
Bella dan Berta saling bertatapan. Tidak mungkin mereka hanya diam saja, sementara Topan terlihat begitu bersemangat untuk membersihkan rumah tersebut.
Tanpa aba-aba, Topan yang sudah terbiasa di didik disiplin dan mengerjakan pekerjaan apa saja pun mengambil sapu dari sudut ruangan itu dan mulai menyapu dari ruang keluarga. Berta pun mulai bergerak, ia mengambil sapu satu lagi untuk membersihkan lantai dapur. Kini tinggal Bella yang terpaku menatap Topan yang begitu sexy dimatanya. Peluh mulai membanjiri dari dahi hingga ke pinggang Topan. Aliran peluh itu mengalir dari leher hingga ke perut lelaki itu.
Topan menggeser sofa yang di tutupi kain putih yang berdebu, hanya dengan satu tangan saja. Lalu, Topan berjongkok dan menyapu bagian bawah sofa tersebut. Bella masih berdiam diri, matanya terus menatap Topan yang sedang sibuk membersihkan ruang keluarga.
Berta pun muncul dari dapur, ia menatap Bella yang terus menatap Topan. Lalu, ia menghampiri Bella dengan senyuman khasnya.
"Bell, dari pada kamu terus menerus mengagumi dia, lebih baik kamu sapu ruang tamu ya nak,"
Bella terhenyak dan menatap Berta dengan seksama.
"Aku tidak sedang memperhatikan dia, aku sedang bingung, apa yang harus aku lakukan mam," Bella mencoba mengelak.
Berta tertawa geli, lalu ia melirik Topan.
"Mami akui, dia tampan sekali. wajah dan tubuhnya begitu sempurna. Otot-otot perut dan lengan nya begitu menggoda. Kalau mami seusia kamu, sudah dipastikan kita akan bersaing," Ucap Berta.
"Apaan sih mi.." Bella mengerutkan dagunya.
"Sudah, nanti kamu malu sendiri loh, kalau Topan tahu bila kamu terus menerus menatap dirinya. Ini sapu, kamu sapu ruang tamu nya ya." Berta menyerahkan sapu ijuk kepada Bella.
Bella menatap sapu itu dengan seksama, lalu dengan ragu, ia meraih sapu itu dari tangan Berta.
Jujur saja, seumur hidup, Bella belum pernah memegang sapu. Ia juga tidak tahu bagaimana cara menyapu. Terdengar berlebihan memang, tapi sebelum hidup seperti ini, Bella benar-benar seorang princess di rumahnya.
Berta kembali ke dapur. Ia sudah siap dengan beberapa lap yang ia pegang untuk membersihkan kompor dan meja di dapur. Sedangkan Topan, lelaki itu masih sibuk menyapu hingga ke kolong bufet.
Bella menggaruk kepalanya dan terus memperhatikan Topan.
"Topan yang lelaki saja, bisa menyapu. Masa aku tidak," Gumam nya. Bella mulai belajar menyapu. Saat itu juga ia tersenyum geli. Ternyata menyapu itu tidak begitu sulit. Hanya saja, pergelangan tangan nya terasa sedikit pegal.
Sambil menyapu, Bella terus mencuri pandang kepada Topan. Topan yang nyaris saja selesai menyapu ruang keluarga pun, mulai menyerok dan mengumpulkan sampah dan debu yang berada di ruang keluarga dengan pengki dan memasukkan nya kedalam plastik sampah berwarna hitam.
__ADS_1
Topan mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan nya. Dahi Topan pun terlihat menghitam karena debu.
Topan meraih kaos nya dan mengikatkan kaos tersebut ke wajahnya. Hingga kaos itu terlihat seperti cadar atau masker. Lalu, Topan mengibaskan tangannya untuk menghalau debu yang beterbangan di sekitar wajahnya.
"Humfff.." Topan nyaris saja bersin.
Bella terus tersenyum. Dengan begitu saja, rasa cintanya pada Topan semakin bertambah. Lelaki mana yang bisa berinisiatif seperti itu. Sangat jarang bukan. Bahkan, Bella pernah menderita cerita dari beberapa sahabatnya yang sudah menikah, bila mereka kerap makan hati karena suami yang lebih tidak memiliki fungsi saat dirumah. Bella kembali tersenyum. Lalu, ia mencoba fokus menyapu.
"Sini aku bantu," Ucap Topan yang mulai nyapu di ruang tamu.
"Disitu sudah bersih?" Tanya Bella.
"Sudah, tinggal di pel saja. Nanti aku pel kalau semua sudah selesai di sapu. Nanti juga aku akan membersihkan lantai dua. Kamu tenang saja. Duduk manis disitu." Topan menunjuk sofa diruang keluar yang tertutupi kain putih pelindung debu.
Bella masih terdiam menatap Topan.
"Ayo... duduk yang manis..." Topan menuntun Bella keruang keluarga dan membuka kain penutup debu dari sofa tersebut.
Bella hanya menurut dengan Topan dan duduk dengan manis diatas sofa. Lalu, ia terus menatap Topan yang mulai melangkah menuju ke ruang tamu.
"Topan," Panggil Bella.
"Ya?" Topan yang wajahnya tertutup kaos yang ia buat sebagai masker pun menoleh.
"I love you."
"I love you too."
Bella tersenyum, pipinya memerah dan ia pun menunduk wajahnya dalam-dalam.
Topan terus tersenyum dan melanjutkan menyapu diruang tamu.
"Apapun, asal kamu tersenyum, asal kamu bahagia, asal kamu disamping ku, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan semua itu," Batin Topan.
20 menit kemudian, Topan pun beranjak ke lantai dua. Dimana ia berencana membersihkan seluruh ruangan yang ada di lantai dua.
Sebelum Topan melanjutkan pekerjaan nya, Topan pun menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak dan membakar sebatang rokok di beranda lantai dua. Ia begitu mengagumi pemandangan di rumah itu.
Tidak berapa lama terdengar langkah kaki mendekat. Topan menoleh dan menatap Bella yang membawakan secangkir kopi untuknya.
"Buat kamu," Ucap Bella seraya tersenyum malu-malu.
"Terima kasih, ini kamu yang buat atau mami?" Tanya Topan.
"Aku."
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya... cobain ya. Ini pertama kalinya aku membuat kopi," Ucap Bella dengan wajah yang bangga.
"Oh ya," Topan terlihat sangat tertarik. Lalu ia meraih gelas kopi itu dan menyeruput kopi itu dengan perlahan.
"Astaga!" Hampir saja Topan memuntahkan kopi tersebut. Tetapi, demi menjaga perasaan Bella, ia terpaksa menelan kopi itu dan tersenyum kepada Bella.
"Enak sekali sayang," Ucap Topan dengan wajah yang memerah dan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Benarkah?" Bella bertepuk tangan dan melompat girang.
"I-i-iya," Sahut Topan.
Bella tersenyum semringah dan menggulung tepi kaos nya.
"Aku harus bisa masak, bikin kopi dan lain sebagainya. Karena aku adalah calon istri..." Bella menutup mulutnya dengan telapak tangan nya. Pipinya mulai merah merona dan ia pun terlihat salah tingkah.
"Calon istri idaman? Istriku ya," Ucap Topan, lalu ia beranjak mendekati Bella yang masih terlihat salah tingkah.
"Aku akan membantu kamu belajar melakukan itu semuanya, dan aku akan membawa asisten juga untuk mu biar tidak kelelahan."
Bella menatap Topan dan ia kembali menundukkan wajahnya.
"Menikahlah denganku Bella Anastasya Susilo."
Bella terbelalak dan menatap Topan dengan seksama.
"Sekarang?" Tanya Bella dengan wajah yang polos.
"Mau sekarang ayo.." Topan meraih tangan Bella.
"Gak mau sekarang ah.." Bella melepaskan tangan nya.
Topan tertawa geli dan menatap Bella dengan seksama.
"Iya tidak sekarang. Harus ada persiapan. Tetapi, aku mengajak kamu menikah itu tidak main-main."
Bella kembali tersenyum malu-malu.
"Setelah semuanya selesai, kita menikah ya."
Bella menatap Topan dengan sorot mata yang berbinar. Lalu, ia mengangguk dengan pasti.
Topan tersenyum melihat Bella mengangguk tanpa keraguan sedikitpun. Lalu, ia meraih kedua pipi Bella dan mengecup bibir Bella dengan lembut.
__ADS_1
"Aku berjanji, aku akan selalu disamping mu selamanya," Bisik Topan.