
"Iya dimana?" Tanya Pongki saat ia berkomunikasi dengan kuasa hukum nya yang sedang mendampingi Anna.
"Di terminal keberangkatan gate 'C' pak," Sahut kuasa hukum Pongki dari seberang sana.
"Baik," Sahut Pongki, seraya mengakhiri percakapan nya dengan kuasa hukumnya.
"Jo, angkat koper saya ya," Perintah Pongki yang berjalan terlebih dahulu di depan Topan.
"Ngeh pak," Sahut Topan, seraya menyeret koper milik Pongki.
Mereka berdua beranjak menuju ke terminal keberangkatan domestik. Dimana mereka harus mengikuti serangkaian pemeriksaan tiket, tubuh dan barang bawaan mereka. Setelah lolos dari pemeriksaan, mereka pun beranjak untuk check-in di konter maskapai penerbangan yang mereka pilih untuk membawa mereka ke Bali.
Pongki berdiri di depan Topan. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikan nya kepada petugas konter, yang bertugas mencatat kehadiran mereka. Agar mereka bisa menikmati pelayanan dari maskapai yang sudah mereka pilih. Proses check-in Pongki lancar saja. Tetapi, giliran Topan, sedikit ada kendala. Karena, nomor induk dari kartu tanda pengenal milik Topan tidak sesuai dengan nama yang tertera.
Topan sedikit panik, nyatanya dirinya bukan sedang bertugas. Jadi, ia sedikit tertahan di konter check-in.
"Ada masalah apa Jo?" Tanya Pongki.
"Gak tahu pak," Ucap Topan berpura-pura bodoh.
Ia menatap petugas konter sembari memberikan kode yang tidak dimengerti oleh petugas konter. Petugas itu pun beranjak dari duduk nya dan berbisik kepada petugas yang lain nya.
"Pak, bisa ikut kami sebentar?" Tanya petugas keamanan yang baru saja dipanggil oleh petugas konter.
"Ada apa ya?" Tanya Pongki penasaran.
Topan terlihat gugup, ia hanya mengedip-ngedipkan kedua mata dan menggelengkan kepalanya.
Tampaknya petugas keamanan mengerti, bila Topan tidak menginginkan Pongki ikut bersama mereka.
"Hanya bapak ini saja. Bapak sudah check-in? Kalau sudah, silahkan tunggu di ruang tunggu ya pak." Pinta petugas keamanan tersebut.
Pongki tampak khawatir dengan Topan. Tetapi, ia tidak bisa mendampingi Topan.
"Kalau ada apa-apa, hubungi saya. Catat nomor saya Jo," Pongki memberikan nomor ponselnya yang langsung di catat oleh Topan. Setelah itu, mau tidak mau, Pongki hanya bisa menunggu Topan di ruang tunggu, di lantai atas terminal tersebut.
"Siapa sih yang bikin KTP palsu ini? Kenapa tidak menyertai nama asli pemilik NIK nya saja!" Keluh Topan, saat ia dibawa ke kantor maskapai tersebut.
Di kantor maskapai tersebut, Topan duduk menghadapi seorang petugas.
"Bapak siapa namanya?" Tanya petugas tersebut.
"Paijo," Sahut Topan.
"Maaf bapak Paijo, apakah bapak memakai tanda pengenal palsu? Soal nya di NIK yang tertera, tidak sesuai dengan nama bapak. Disini, nama pemilik NIK adalah Bapak Supandi."
Topan memijat pelipisnya, lalu ia mencoba menghubungi komandan kesatuannya. Setelah tersambung, ia pun membicarakan permasalahan yang sedang ia hadapi.
__ADS_1
"Apa! Kamu ke Bali? Ngapaiiiiinnn!" Komandan nya yang bernama Sudrajat tersebut pun terkejut.
"Di ajak target pak," Keluh Topan.
"Terus?"
"Saya mau nanya, siapa yang bikin KTP palsu ini. Mau saya dorrrrrrr dia!" Ucap Topan dengan ekspresi wajah yang kesal.
Petugas keamanan maskapai pun mulai menyadari bila Topan adalah anggota kepolisian yang sedang menyamar.
"Maaf pak, bapak polisi?" Tanya petugas tersebut.
"Iya! Nih ngomong sama komandan saya. Saya ini juga tidak berniat mau ke Bali. Keadaan saja yang memaksa saya ke Bali. Jadi tidak ada surat perintah!" Ucap Topan, seraya menyerahkan ponselnya kepada petugas keamanan.
Petugas itu pun meraih ponsel milik Topan dan berbicara dengan bapak Sudrajat, komandan Topan. Setelah tampak nya dia mengerti, ia pun memberikan kembali ponsel itu kepada Topan.
"Sebentar ya pak, kami memanggil polisi bandara dulu. Bisa minta tanda pengenal asli bapak?" Tanya petugas tersebut.
"Saya menyamar, bagaimana saya bawa tanda pengenal asli?" Tanya Topan.
"Ya sudah, kita tunggu polisi bandara dulu," Ucap petugas tersebut.
Topan terlihat kesal, usut punya usut, ternyata yang membuatkan tanda pengenal palsu adalah Antok. Dia sangat kesal kepada Antok. Sampai-sampai dia bertukar pesan dengan Antok yang tidak mau menerima panggilan telepon dari dirinya.
Owalahhhh.... bajingannnnn!
Wkwkwkwkwkw! Sorry Pan!
Balas Antok, yang sedang bersantai di kantor mereka.
Polisi bandara pun datang, mereka mencoba mengecek semua tentang jati diri Topan. Bersyukur, salah satu polisi di sana mengenali Topan. Mereka sempat berbincang dan Topan pun menjelaskan duduk perkaranya. Akhirnya, mereka hanya bisa menunggu email resmi perintah jalan dan penyamaran yang sedang dilakukan oleh Topan.
...
Pongki beranjak ke gate 'C' di mana kuasa hukumnya dan Anna menunggu dirinya disana. Dengan jantung berdebar, Pongki menghampiri Anna yang duduk membelakangi dirinya di sebuah cafe yang terdapat di gate tersebut.
"Anna," Panggilnya.
Anna menoleh, ia menatap Pongki sejenak, lalu ia mencoba tersenyum kepada Pongki. Anna beranjak dari duduknya dan menundukkan wajahnya.
Pongki bergegas mendekati wanita yang pernah ia nikahi itu. Lalu, ia berdiri tepat di depan Anna.
"Selamat jalan," Ucap Pongki.
Anna mengangkat wajahnya dan menatap kedua manik mata Pongki yang juga menahan tangisnya.
Anna tidak menyangka, ada tangis yang tersembunyi di kedua mata Pongki.
__ADS_1
"Terima kasih pak," Sahut Anna. Perlahan, bulir air mata kembali membasahi pipi perempuan muda itu.
Pongki meraih bahu Anna, lalu ia mendekati tubuh Anna hingga terjatuh ke dalam pelukannya.
Tangisan Anna pun meledak, ia tidak kuasa menahan apa yang tengah ia rasakan. Anna menangis tersedu-sedu, hingga membasahi kemeja Pongki. Sedangkan Pongki, lelaki itu hanya bisa mengusap punggung wanita yang ia kenal sangat baik tersebut.
"Kamu bisa hidup dengan baik tanpa saya," Ucap Pongki.
"Bagaimana bila tidak?" Ucap Anna di sela tangisan nya.
Pongki mendongak, ia mencoba menahan tangisan nya yang hampir saja terjatuh di pipinya.
"Saya yakin, kamu baik-baik saja." Tegas Pongki.
Anna melepaskan dirinya dari pelukan Pongki. Lalu, ia menatap wajah Pongki dengan tatapan sayu.
"Saya ingin mendengar kejujuran dari bapak, apakah bapak mencintai saya?" Tanya Anna.
Pongki mengigit bibirnya, ia menelan salivanya dan membalas tatapan Anna yang begitu dalam.
"Jujurlah pak, agar saya bisa melanjutkan hidup dengan tenang," Desak Anna.
Pongki terlihat gelisah. Ia menundukkan wajahnya dan memijat pelipisnya yang terasa berat.
"Pak, tolong dijawab." Tegas Anna.
Pongki kembali menatap Anna dan mengusap air mata di kedua pipi Anna.
"Kamu bisa hidup tanpa ku, walaupun aku tidak menjawab nya. Lupakan aku, aku sangat mencintai istri ku." Ucap Pongki dengan mantap dan tegas.
Anna kembali menangis tersedu-sedu. Ia memegangi dadanya yang terasa perih dan sakit.
"Selamat jalan melati ku," Ucap Pongki. Lalu, Pongki menurunkan tangan nya dari kedua pipi Anna. Lalu, ia melangkah keluar dari kafe tersebut, dan berbincang sebentar dengan kuasa hukumnya yang tengah menunggu dirinya di luar kafe itu.
"Saya titip dia, antarkan dia sampai ke Desa nya. Bantu dia membeli apa yang tertulis di surat perjanjian. Setelah itu, kembali lah ke Jakarta." Perintah Pongki.
Kuasa hukum Pongki pun mengangguk paham. Lalu, ia menjabat tangan Pongki.
"Bapak tidak usah khawatir, saya akan melakukan tugas saya sebaik mungkin, sesuai dengan amanat bapak," Janji nya.
"Ya... hati-hati dijalan," Ucap Pongki. Lalu, Pongki melangkah menuju ke gate yang tertera di boarding pass milik nya.
Anna hanya bisa menatap punggung lelaki yang sangat ia cintai itu. Sedangkan Pongki, ia tidak lagi menoleh kebelakang. Diam-diam, air mata terjatuh di pipi Pongki. Tidak dapat ia pungkiri, ia juga sudah mulai mencintai Anna. Tetapi, ia tahu, Berta lah yang terbaik untuk nya. Rasa cintanya kepada Berta lebih besar dari pada Anna. Karena Berta, adalah wanita yang selama ini mendampingi dirinya dikala susah dan senang.
..
"Lelaki memang memiliki banyak cinta. Namun, cinta mana yang lebih besar, perjuangan mana yang lebih besar, maka ia akan memilih wanita itu." -De'rini-
__ADS_1