
"Ahhhhh.... aku tahu nih, kamu menyogok Bella ya? Biar dia pergi sama Paijo.." Wajah Berta terlihat kesal.
"Enggak kok, Bella kan sudah besar, sedangkan kita sudah tua. Gak mungkin lah, kita ikut kegiatan anak muda. Apa sih yang jadi kegiatan kita saat liburan? Kalau tidak bersantai dan berduaan," Pongki mengedip sebelah matanya kepada Berta.
Berta mencebikkan bibirnya dan membuang pandangannya ke arah ornamen khas Bali di restoran tersebut.
"Sudah makan nya?" Tanya Pongki.
Berta bergeming, ia tidak mau menatap Pongki sedetik pun.
"Berta, kamu baca ini deh..." Ucap Pongki, sambil menyerahkan ponselnya.
Berta melirik ponsel Pongki. Terlihat sebuah surat dalam bentuk foto, yang dikirim ke WhatsApp Pongki.
"Apa itu?" Tanya Berta.
"Baca saja," Pinta Pongki.
Berta meraih ponsel Pongki dan membaca surat dalam bentuk foto tersebut. Disana tertulis perjanjian antara Anna dan Pongki. Berta membacanya dengan teliti. Ada perasaan iba di hati Berta kepada Anna, sebagai sesama wanita. Tetapi, ada juga perasaan benci yang tak dapat ia lukis kan kepada wanita yang telah diam-diam dinikahi suaminya itu.
"Ini bukan urusan ku," Ucap Berta, seraya menaruh kembali ponsel Pongki di atas meja.
"Ok, ada lagi," Ucap Pongki.
Pongki memperlihatkan beberapa foto yang ada di dalam aplikasi chat nya, kepada Berta.
"Baca ya," Ucap nya dengan wajah memohon.
Berta kembali melirik ponsel itu dan dengan malas, ia kembali meraih ponsel milik Pongki dan membaca surat dalam bentuk foto yang ada di sana.
Setelah sekian menit, Berta menatap Pongki dengan seksama.
"Kamu serius?" Tanya Berta.
__ADS_1
Pongki mengangguk sambil tersenyum tulus kepada Berta.
"Usiaku sudah tidak lama lagi. Aku sadar, aku bajingan dan sumber masalah dalam hidup mu. Semua yang tertulis disana, aku lakukan dengan sadar dan tulus." Pongki meraih tangan Berta dan menggenggam nya erat.
"Kenapa kamu buat akta balik nama ini?" Tanya Berta.
"Agar kamu percaya, aku tidak akan macam-macam lagi. Semua harta ku, untuk mu dan Bella. Sekarang, aku tidak punya aset apa pun juga. Semua milik mu dan Bella. Aku melakukan semua hanya untuk kamu dan Bella. Kita kaya, kita memiliki banyak rumah dan apa saja, itu semua karena kalian berdua lah semangat ku," Ucap Pongki.
Berta terdiam, ia tidak menyangka Pongki melakukan itu semua. Ternyata, Pongki memang ingin memperjuangkan dirinya dan Bella, dan melepaskan Anna untuk selama-lamanya.
"Masalah nark*ba..." Suara Berta tercekat saat mengatakan bisnis haram Pongki itu.
Pongki menghela nafas panjang, lalu ia tertunduk penuh penyesalan.
"Aku akan mengakhiri nya. Aku mau hidup kita normal dan baik-baik saja. Renta bersama mu dan mati di pelukan mu, Berta," Ucap Pongki dengan wajah yang terlihat bersungguh-sungguh.
Sedikit banyaknya, Berta mulai mencair. Kini, ia menatap Pongki dengan tatapan iba.
"Kapan kamu mau mengakhiri nya?" Tanya Berta lagi.
Berta bergeming, ia terus menatap wajah Pongki yang sudah menua.
"Aku berjanji, setelah itu. Mari kita selalu bersama. Aku akan menyerahkan semua usaha ku kepada Bella. Kita berdua akan hidup layaknya orang yang sudah pensiun. Melihat Bella menikah dan memiliki anak. Kita akan bahagia dengan cucu atau kita bisa bepergian bersama, keliling dunia. Kemana pun kamu mau. Aku mau mati di pelukan mu Berta,"
"Berta, kembali lah.. Jadilah berta yang dulu, lembut dan penuh cinta kepada ku. Aku tahu semua tidak akan mudah. Tetapi, aku akan membuktikan janji ku padamu. Langkah pertamanya, sudah aku lakukan. Menyerahkan semua yang ku punya untuk kalian berdua."
Berta menelan salivanya, dilema yang luar biasa tengah ia rasakan. Lalu, ia menundukkan wajahnya dan mencoba berpikir mana yang terbaik untuk hidupnya.
Satu sisi, ia memang bukan istri yang sempurna. Dan juga, Pongki melakukan pernikahan itu, karena tekanan dari warga di Desa Anna. Walaupun akhirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antara Pongki dan Anna, wajar saja, karena mereka merasa suami istri. Hampir setahun lamanya Pongki bersama Anna di Desa itu, sudah pasti mereka melakukan hal yang sewajarnya dilakukan suami istri. Walaupun perih yang dirasakan Berta, tetapi Berta tahu, Pongki melakukan itu bukan dasar cinta. Pongki hanya seorang lelaki yang mencoba bertahan 5 bulan lamanya untuk tidak menyentuh wanita manapun. Tetapi, lelaki tetaplah lelaki. Rasa sepi yang menggoda, akan menuntun nya untuk menyentuh wanita. Apa lagi, wanita itu sudah menjadi istrinya.
Setelah Pongki kembali, Berta juga merasakan tidak ada perubahan sikap di diri Pongki. Pongki tetap pulang sewajarnya. Bahkan waktu yang Pongki miliki, lebih banyak untuk dirinya dan Bella. Bahkan, pertemuan pertama nya dengan Pongki, setelah hampir setahun Pongki dalam pelarian, terasa luar biasa. Terlihat rindu yang memuncak saat ia melakukan hubungan dengan Pongki, waktu itu.
Saking wajarnya dan tidak ada perubahan apa pun dari Pongki. Sampai-sampai Berta tidak sadar, bila Pongki sudah menikah lagi. Sedangkan Anna, dia harus rela dijadikan persinggahan hanya karena 'terlanjur sudah menjadi istri'.
__ADS_1
"Kita buka lembaran baru ya... Setelah ini, hidup ku untuk mu," Ucap Pongki lagi.
Pongki mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam sakunya dan membukanya dengan perlahan. Terlihat sebuah cincin indah berhiaskan berlian yang tampak berkilau. Lalu, ia meraih tangan Berta dan menyelipkan cincin itu di jari manis Berta.
"Pas kan, aku masih ingat ukuran jari mu. Semua tentang mu, kenangan kita dan segala perjuangan kita. Maafkan aku, aku tidak bisa melepaskan mu. Aku salah, aku bertaubat. Aku mencintai kamu Berta." Pongki mengecup punggung tangan Berta dengan lembut.
Berta tersenyum dan menahan tangisan haru nya. Ia terus memandangi Pongki dan semua perlakuan Pongki kepadanya. Pongki meraih tubuh Berta dan memeluknya dengan erat. Saat itu juga, tangisan Berta pun pecah. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Bahagia kah? Sedih kah? Haru kah? Sakit Kah? Atau apa saja. Yang kini Berta pikirkan, hanya mencoba memberikan maaf kepada lelaki yang sudah puluhan tahun bersama dengan nya.
"Maafkan aku, aku mencintaimu," Bisik Pongki lagi.
Berta terus menangis dalam pelukan Pongki. Mereka berdua tidak mempedulikan tatapan orang sekitar yang terus memandangi mereka dengan tatapan yang bingung dan bertanya-tanya.
"Berta, apakah kamu mau memaafkan aku?" Pongki melepaskan pelukannya dan kembali menatap mata Berta yang basah oleh air mata. Lalu, ia meraih tisu dan mencoba menghapus air mata Berta dengan perlahan.
Berta menatap Pongki, ia mengigit bibirnya, menandakan dirinya masih bimbang.
"Berta, lihat aku.." Pinta Pongki.
Berta menatap Pongki dengan seksama.
"Coba tanya hatimu, apakah kamu masih mencintai aku?" Tanya Pongki lagi.
Cukup lama Berta menatap lelaki yang telah memberikan dirinya seorang anak tersebut.
Jantung Pongki berdebar kencang. Ia menunggu jawaban dari Berta dan berdoa, semoga jawaban Berta sesuai dengan ekspektasi nya.
"Pongki, aku tidak bisa...."
Darah pongki berdesir kencang, matanya nanar dan bibirnya bergetar.
"Aku juga tidak bisa hidup tanpamu," Sambung Berta.
Saat itu juga Pongki menghela nafas lega, wajah nya pun terlihat bahagia. Lalu, ia memeluk Berta dengan erat, hingga air mata bahagianya pun tak dapat ia bendung lagi.
__ADS_1
Pongki menangis dalam pelukan Berta. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih kepada istrinya itu. Yang rela dan bersedia memaafkan dan menerima dirinya lagi.
"I love you Berta, kamu adalah hidup ku," Bisik nya.