
"Selamat siang. Perkenalkan, nama saya Bella Anastasya Susilo. Dosen baru kalian."
Semua mata tertuju pada Bella yang baru saja memasuki sebuah ruangan di bekas universitas nya dulu, saat menuntut pendidikan S1 nya.
Sebagian lagi terbelalak saat menyadari siapa wanita yang berdiri di depan kelas mereka. Sebagian lagi, mengagumi kecantikan Bella sebagai seorang wanita.
Bella menatap satu persatu mahasiswa nya dan lalu ia meraih sebuah map yang berisi absensi para mahasiswa.
"Saya disini mengajar Psikometri, menggantikan bapak Rama, dosen sebelumnya. Ada pertanyaan?" Tanya Bella seraya melirik ke arah mahasiswa nya.
Seorang mahasiswi mengangkat tangan nya.
"Ya? Siapa nama kamu?" Tanya Bella.
"Raisya, bu.."
"Ya, Raisya, kamu mau tanya apa?" Tanya Bella seraya mendekap map yang isinya belum sempat ia baca.
"Apakah ibu Bella yang pernah muncul di televisi?" Tanya mahasiswi tersebut.
Bella terdiam, begitu terkenalnya Pongki dan keluarganya sebelum ada kasus yang menimpa Pongki, membuat Pongki dan keluarganya semakin terkenal setelah memiliki kasus yang menimpa Pongki.
Bella menghela nafas panjang dan menatap mahasiswi tersebut.
"Ya, saya adalah Bella Anastasya Susilo. Anak dari Pongki Susilo. Seorang bandar narkoba dan juga orang yang memiliki pabrik narkoba terbesar di Negeri ini. Ada pertanyaan lain?" Bella kembali menatap satu persatu mahasiswa dan mahasiswi nya.
Mereka semua terdiam mendengar kejujuran dari seorang Bella Anastasya Susilo.
"Tidak ada pertanyaan?" Bella menantang para mahasiswa dan mahasiswi nya.
"Mengapa ibu bisa mengajar disini?" Tanya Seorang mahasiswa berkaca mata, yang duduk paling belakang.
Bella tersenyum, ia sudah sangat mempersiapkan mental nya untuk mendapatkan pertanyaan seperti ini di kampus tempat nya mengajar.
"Karena saya memenuhi kriteria sebagai dosen, dan saya memiliki sertifikat pendidikan di jurusan ini," Ucap Bella.
Semua terdiam.
"Begini, saya disini mengajar Psikometri. Ada yang paham tentang Psikometri?" Tanya Bella.
Semua masih diam membisu dan menatap Bella dengan tatapan yang bermacam-macam artinya.
"Ok, Psikometri atau pengukuran psikologis adalah cabang ilmu psikologi yang mendalami seluk beluk pengukuran dan analisis berbagai perbedaan antar individu. Dapat dikatakan bahwa psikometri mempelajari perbedaan antar individu dan antar kelompok."
"Contoh, disini kita mengatakan tentang individu masyarakat. Yang terkecil dari kelompok masyarakat adalah individu yang disebut keluarga. Sebagai contoh, suatu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak."
__ADS_1
"Sedangkan dalam satu keluarga semua memiliki peran nya masing-masing. Contoh, seorang ayah. Dalam psikologi, peran ayah adalah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak nya. Berperan mencari nafkah, pendidik, pelindung, sebagai pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga dan sebagai anggota dari kelompok sosialnya. Pertanyaan saya, apakah ada ayah yang mengajarkan anak nya untuk menjadi bandar narkoba?"
Semua mulai merasa malu dengan pertanyaan dari Bella.
"Tentu saja ada. Tetapi tidak dengan ayah saya." Bella tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Orangtua yang ingin anak nya hancur, atau mengikuti jejak nya yang kelam, tentu memiliki masalah dalam psikologi nya. Tetapi, kebanyakan dari orangtua, tidak ada yang ingin anak nya mengikuti jejaknya. Jangankan mengikuti jejak nya, bahkan, mungkin seorang ayah tidak akan mau anaknya tahu sisi kelam atau siapa dirinya sebenarnya."
"Mau saya bahas, mengapa banyak dari anak penjahat bisa tidak mengikuti jejak bapak nya? dan mengapa banyak anak dari orangtua yang di pandang lurus, justru memiliki masalah di lingkungan nya? Saya rasa, kalian duduk di semester ini sudah paham masalah itu. Karena kalian mempelajari ilmu dasar Psikometri di semester sebelumnya." Tutup Bella.
Semua menundukkan wajahnya, masing-masing dari mereka terlihat gelisah.
"Ada pertanyaan lain? Atau sudah siap menerima saya sebagai dosen baru kalian?" Tanya Bella.
"Siap buuuu..."
"Good," Bella tersenyum puas, saat melihat mahasiswa dan mahasiswi nya tidak melontarkan pertanyaan lagi kepada dirinya.
.
.
.
.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya wanita tersebut.
"Saya mau mengambil hasil test DNA atas nama Topan Alexander."
"Ada bukti pengambilan nya?" Tanya petugas itu lagi.
"Ya, ada." Topan merogoh saku jaketnya dan menyerahkan sebuah amplop berwarna putih dengan logo rumah sakit tersebut kepada petugas itu.
Petugas itu meraih amplop tersebut dan membaca isi dari lembar kertas dari dalam amplop yang baru saja diserahkan oleh Topan.
"Baik pak, kami cek dulu," Ucap Petugas itu.
Topan mengangguk dan tersenyum kepada petugas tersebut. Sementara menunggu, Topan pun duduk di bangku tepat di depan ruangan laboratorium tersebut. Kakinya terus ia goyangkan untuk mengusir rasa gelisah nya. Kepalanya tertunduk dalam, dan sesekali ia mengusap wajahnya yang mulai berkeringat.
Lima menit kemudian, petugas tersebut pun keluar dari ruang laboratorium dengan membawa sebuah amplop berisi hasil test DNA yang Topan butuhkan.
"Bapak Topan, ini hasil test DNA nya." Petugas itu tersenyum dan memberikan amplop tersebut kepada Topan.
"Ah iya," Topan beranjak dari duduknya dan meraih amplop tersebut.
__ADS_1
"Administrasi nya sudah selesai ya pak, jadi bisa langsung di bawa."
"Baik, terima kasih," Ucap Topan. Lalu, Topan beranjak dari sana menuju ke lift untuk kembali ke lantai 3 rumah sakit tersebut. Dimana Amoroso dan Erna sedang menunggu dirinya di ruang rawat inap yang Amoroso tempati.
Tangan Topan gemetar. Ingin sekali ia membuka amplop yang masih tersegel tersebut, dengan segera. Tetapi, hatinya belum cukup kuat untuk melihat hasil dari test DNA tersebut. Walaupun dugaan sudah jelas menjurus bahwa dirinya adalah anak dari lelaki bernama Galang. Namun tetap saja, membuka hasil test DNA adalah hal yang membuat jantung siapa saja berdegup kencang tak beraturan. Karena itu menyangkut identitas genetik seseorang.
"Tuhaaaannn... apa yang harus aku lakukan bila isi dari amplop ini mengatakan hal yang menyakiti hati bapak?" Gumam Topan yang baru saja memasuki lift kosong, yang akan membawa dirinya ke lantai 3.
Topan menekan tombol angka 3 dan sedetik kemudian pintu lift tersebut pun tertutup. Lift mulai bergerak keatas. Tangan Topan semakin gemetar dan wajahnya terlihat pucat.
"Mengapa perasaan ini begitu lebih menyeramkan dari pada harus menembak mati seseorang?" Batin Topan.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 3. Topan menatap keluar dan menghela nafas panjang.
"Bismillah," Topan pun melangkah keluar dan berjalan menuju ke ruangan Amoroso.
Namun, setelah ia berada di depan ruangan Amoroso, ia pun mengurungkan niat nya untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ahhhh... lebih baik aku tahu terlebih dahulu," Batin Topan.
Lelaki itu melangkah menuju ke toilet yang terletak di lantai 3 tersebut. Lalu, setelah sampai di toilet khusu Pria, Topan pun langsung memasuki salah satu bilik yang berada disana. Topan menutup tutup closet dan mengunci pintu bilik itu. Lalu, ia duduk di atas tutup closet tersebut. Tangan nya terus gemetar, keringat dingin mulai membanjiri setiap inci tubuhnya.
"Ya Allah.." Batin nya.
Topan menatap sampul hasil test DNA tersebut dan mulai merobek segel dari sampul itu.
"Apa pun yang terjadi, terjadilah." Batin nya.
Srekkkk...!
Amplop tersebut sudah Topan robek. Lalu, ia mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dengan rapi, dari dalam amplop tersebut. Topan menghela nafas panjang untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim..! " Batin nya mengucapkan itu dengan lantang.
Lipatan dari lembaran tersebut pun Topan buka. Mata topan langsung tertuju kepada hasil dari test tersebut, yang tertulis di bagian bawah dari daftar rangkaian test yang sesuai prosedur dalam melakukan test DNA.
Probability of parentage : 0 %
Topan nyaris saja terjatuh, jantung nya seperti di bobol oleh peluru dari senjata McMillan TAC 50, yang langsung di tembak kan oleh sniper elite.
Slapppp...!
Seketika nyawa Topan terasa melayang entah kemana. Sekuat apa pun mental yang ia persiapkan. Tetapi, mengetahui bahwa diri kita bukan bagian dari ayahanda tercinta, itu adalah hal yang sangat menyakitkan bagi semua anak di muka bumi ini.
__ADS_1
Ya, Amoroso bukanlah ayah kandung Topan.
*