
"Pak Pongki!"
Pongki beranjak dari duduknya dan menatap sipir penjara yang memanggil dirinya.
"Saya pak," Sahut Pongki.
"Ikut saya, ada yang mengunjungi."
"Ya pak," Sahut Pongki lagi. Lalu, ia merapikan pakaian nya dan rambutnya yang terlihat lusuh dan melangkah mendekati jeruji besi yang sedang di buka oleh sipir penjara tersebut.
Setelah kunci jeruji besi itu di buka, Pongki melangkah keluar dan berjalan di lorong blok tahanan tersebut. Di iringi oleh satu orang sipir lagi, Pongki berjalan menuju ke ruang jenguk yang di sediakan di Lapas tersebut.
"Jangan lewat situ!" Cegah sipir itu.
"Bukan nya ruang jenguk disana?" Tanya Pongki dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Ayo ikut saja!" Perintah sipir tersebut.
"Siapa yang mengunjungi saya?" Tanya Pongki.
"Sudah ikut saja," Ucap sipir tersebut seraya memakaikan borgol di kedua pergelangan tangan Pongki.
Sipir penjara membuka pintu ruangan khusus yang tidak biasanya untuk mengunjungi tahanan. Pongki terkejut saat melihat keluarganya dan juga keluarga Topan sedang berkumpul di ruangan tersebut.
"Ada apa ini?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang terheran-heran.
"Apa kabar kamu sayang?" Berta menghampiri dan memeluk Pongki dengan erat.
"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar?" Tanya Pongki sembari menatap Berta dengan tatapan haru nya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja," Ucap Berta.
Lalu Bella menghampiri Pongki dan memeluk daddy nya itu. Pongki membalas pelukan Bella dengan sedikit memiringkan tubuhnya karena kedua tangannya di borgol.
"Apa kabar kamu sayang?" Tanya Pongki.
"Alhamdulillah baik dad, daddy apa kabar?" Tanya Bella yang menahan tangis nya kala melihat kedua tangan Pongki yang di borgol dan juga penampilan Pongki yang tidak terawat.
"Daddy baik-baik saja, Alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat," Pongki berusaha tersenyum menutupi luka dihatinya.
"Pak," Topan menyalami Pongki setelah Bella.
"Apa kabar kamu nak?"
"Alhamdulillah baik," Sahut Topan.
"Ini ada apa kok berkumpul? Kok bisa menjenguk bersama-sama seperti ini?' Tanya Pongki.
__ADS_1
"Ini semua berkat Jeung Erna loh sayang," Ucap Berta.
"Ah, bu.. apa kabar? Pak apa kabar? Apa kabar semua?" Tanya Pongki kepada Erna, Galang, Antok, satu orang ustad dan dua adik Topan.
"Alhamdulillah baik..." Sahut mereka secara bersamaan.
"Ada apa ya?" Pongki masih terheran-heran karena melihat ramainya yang mengunjungi dirinya.
"Begini pak," Erna berusaha menjelaskan apa yang menjadi tujuan mereka datang bersamaan ke Lapas Nusakambangan.
"Ya bu, ada apa?" Tanya Pongki.
Erna mulai membicarakan tentang rencana mereka yang akan menikahkan Bella dan Topan saat ini juga. Mereka ingin melihat Bella dan Topan dinikahkan oleh Pongki secara langsung.
Pongki terkejut mendengar penjelasan Erna. Ia menatap semua yang ada di ruangan itu.
"Kalian tidak bercanda kan?"
"Begini pak, selama bapak masih hidup, dan memungkinkan untuk menikahkan Bella dan Topan, lebih baik bapak yang menjadi wali nikah mereka berdua," Terang bapak ustad yang sengaja di ajak oleh dua keluarga tersebut.
"Tetapi saya..."
"Sayang.. aku mohon. Aku tahu ini adalah cita-cita mu sebagai seorang ayah," Ucap Berta.
Saat itu juga Pongki terdiam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Tetapi tangan ku.."
"Tenang saja," Sergah Galang. Galang beranjak keluar dari ruangan tersebut dan membicarakan kepada sipir penjara tersebut untuk membuka borgol Pongki untuk sementara. Dirinya berani menjamin bila Pongki tidak akan macam-macam di dalam sana. Sipir penjara pun menyetujui karena dirinya yakin bila Galang akan bertanggung jawab atas Pongki, terpidana mati yang di titipkan di Lapas nya.
Sipir penjara membuka borgol tersebut dan kembali meninggalkan ruangan tersebut.
Di bantu Berta, Pongki langsung mengganti pakaiannya dengan setelan jas yang dibawakan Berta untuk dirinya. Seketika, penampilan Pongki terlihat kembali seperti dulu. Hal itu membuat siapa saja menahan rasa haru dan tangis mereka dengan berusaha tersenyum dan mengagumi penampilan Pongki saat ini.
"Bagaimana? Sudah bisa dimulai? Soalnya kita hanya diberikan waktu tiga puluh menit saja," Ucap bapak ustad.
Pongki menatap satu persatu orang yang berada di ruangan tersebut.
"Apa kalian yakin?" Tanya Pongki, ia hanya berusaha meyakinkan keputusan kedua keluarga.
"Kami semua yakin," Sahut Galang.
Pongki menghela nafas panjang, lalu menatap Berta dan Bella. Air mata mulai mengalir di kedua pipinya.
"Baiklah, kita mulai. Siapa yang menjadi saksi?" Tanya Pongki.
"Saya pak," Sahut antok.
__ADS_1
"Saya juga," Sahut Guntur.
"Saya juga bisa," Sahut Galang.
Pongki mengusap air matanya yang terus menerus mengalir di pipinya.
"Baik," Sahut Pongki.
"Bismillahirrahmanirrahim.." Sang ustad mulai menuntun Pongki untuk menjabat tangan Topan. Sang ustad mulai menuntun Pongki untuk mengucapkan Ijab, yang berarti mewajibkan. Dimana seorang ayah, atau wali wajib mengucapkan agar terlaksana nya kabul, yang berarti menerima. Kabul akan di ucapkan oleh Topan, sesaat setelah Pongki mengucapkan kalimat nya yang menyerahkan atau menikahkan Bella kepada calon suaminya, Topan.
"Saya terima nikah dan kawin nya Bella Anastasya Susilo binti Pongki Susilo, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar dua puluh dua juta rupiah di bayar tunai!" Seru Topan.
"Sah?"
"Sah!" Seru Antok, Guntur dan Galang.
"Alhamdulillah."
Semua orang bersyukur, namun Pongki langsung menangis hingga bahunya terguncang hebat. Bukan dirinya tidak bersyukur karena dapat menikahkan anak kandungnya secara langsung. Namun, pernikahan seperti ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pongki sangat bersyukur memiliki besan seperti Erna dan Galang, yang mau mengerti keadaan dirinya, dan mau memberikan kesempatan sekali seumur hidup bagi ya.
"Daddy," Bella dan Topan langsung menghambur ke pelukan Pongki. Suasana haru tidak dapat terbendung. Semua yang berada di ruangan itu akhirnya tidak dapat menahan air mata mereka. Antara bahagia, sedih dan prihatin dengan keadaan yang mengharuskan pernikahan Bella dan Topan terlaksana seperti ini.
Namun bagi mereka, asalkan cita-cita Pongki terlaksana, mereka merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Karena Pongki tidak akan lama lagi berada di dunia ini. Minimal, dirinya dapat merasakan kebahagiaan nya yang terakhir kalinya.
Namun, waktu jua yang harus memisahkan mereka. Sepasang pengantin baru itu berpamitan kepada Pongki. Dengan derai air mata, Pongki harus rela melepas kepergian Berta, anak dan menantunya dan juga keluarga besan nya itu.
Sebelum mereka pergi, Pongki kembali melepas setelan jas nya dan menyerahkan nya kepada Berta. Kini, Pongki kembali memakai pakaian tahanan miliknya. Dengan raut wajah yang sedih, Berta menerima setelan jas yang Pongki serahkan kepada dirinya.
"Baik-baik disini ya.." Ucap Berta.
Pongki tersenyum dan memeluk Berta dengan erat.
"Kamu juga, yang sabar ya..." Ucap Pongki.
Berta hanya mengangguk dan lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Pongki. Seorang sipir sudah siap untuk membawa Pongki kembali ke sel nya. Hanya lambaian tangan lah yang mengiringi perpisahan tersebut.
Tidak ada wejangan dari seorang ayah, tidak ada tamu undangan, tidak ada hidangan makanan dan lain sebagainya.
Hanya ada beberapa foto yang di abadikan dari ponsel milik Pinky, dan kenangan yang terukir di hati masing-masing yang berada di sana.
Pernikahan yang tidak biasa, namun sangat bermakna dan mengharukan bagi Bella, Berta dan Pongki. Bila tidak karena kebaikan hati Erna, mungkin Pongki tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya menikahkan buah hati semata wayangnya itu.
..
Allah memberikan hati yang baik pada setiap insan. Terkadang, orang yang kita sangka tidak memiliki hati, nyatanya lebih memiliki simpati kepada orang sekitarnya.
Ya, seperti Erna. Mengapa Galang begitu tergila-gila kepada dirinya? Sekarang terjawab sudah. Walaupun Erna memiliki kesalahan karena buta dalam mencintai, tetapi sekelam apa pun masa lalunya, bila seseorang memiliki hati yang baik, dia akan selalu menjadi orang baik. -De'rini-
__ADS_1