
Pesawat yang ditumpangi oleh Anna baru saja mendarat di Jakarta. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Anna keluar dari pintu terminal kedatangan domestik. Disana sudah menunggu supir dari pengacara Pongki, yang ditugaskan oleh pengacara itu sendiri untuk menjemput Anna.
Anna melihat namanya yang tertera di kertas putih yang dipegang oleh supir pengacara. Lalu, ia menghampiri pemuda berusia 25 tahun itu.
"Saya Anna, ucapnya dengan wajah yang polos."
"Ah.. bu Anna."
"Iya," Sahut Anna.
"Mari bu, saya di tugaskan bapak untuk menjemput ibu," Terang supir tersebut.
Anna mengangguk dan menyerahkan kopernya kepada supir tersebut.
"Bapak dimana?"
"Baru jalan menuju ke lapas bu,"
"Oh.. iya.. jadi kita langsung kesana?" Tanya Anna lagi.
"Betul bu,"
Anna tersenyum tipis dan mengikuti langkah kaki pemuda itu menuju ke parkiran terminal bandara tersebut.
.
.
.
.
"Mam," Panggil Bella.
Berta yang sedang sibuk di dapur, menoleh dan tersenyum kepada Bella.
"Masak apa?" Tanya Bella.
"Masak bola-bola daging sapi. Daddy mu sangat menyukainya."
"Oh.." Bella yang sudah siap untuk menemani Berta ke Lapas pun, duduk di kursi makan dan memperhatikan Berta yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk Pongki.
"Pukul berapa kita berangkat mam?"
"Sebentar lagi. Ini mami lagi siapkan kopi di dalam termos." Sahut Berta.
"Topan tidak kesini?" Tanya Berta.
Bella menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Belum tahu mam, dia belum bilang apa-apa."
"Oh.., ya sudah. Ini sudah selesai. Ayo kita berangkat." Ucap Berta.
Bella mengangguk dan beranjak dari duduknya. Lalu, ia meraih kunci mobil milik Topan dan tersenyum tipis.
"Mam,"
"Ya?" Berta yang berjalan di belakang Bella menghampiri Bella yang memandangi kunci mobil milik Topan.
__ADS_1
"Dia baik banget ya mam. Dia bela-belain meninggalkan mobilnya hanya demi kita. Terus dia pulang menggunakan taksi. Dia juga membantu kita membersihkan seluruh bagian rumah ini hingga halaman rumah yang luas ini. Luar biasa sekali dia. Dia juga mengajarkan aku membuat kopi yang benar. Aku sungguh mengagumi dia," Bella menatap Berta dengan sorot mata yang berbinar.
Berta tersenyum dan mengusap pundak Bella.
"Kamu beruntung memiliki dia."
Bella kembali tersenyum, lalu ia menggandeng tangan Berta dan berjalan menuju ke halaman rumah tersebut.
Di halaman rumah Bella terlihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam. Bella dan Berta pun memasuki mobil tersebut dan mulai meninggalkan rumah mereka, menuju ke lapas, untuk mengunjungi Pongki.
.
Suasana canggung pagi ini, ketika Topan baru saja keluar dari kamarnya dan bersiap untuk berangkat bertugas dengan pangkatnya yang baru. Diruang makan, terlihat Pinky yang baru saja memasakkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga, dibantu oleh asisten rumah tangga. Disana tidak terlihat Erna, yang biasanya melakukan tugas menyiapkan sarapan.
Amoroso melirik Topan yang berjalan menghampiri bapak dan adik-adik nya yang sedang duduk di kursi makan.
"Pagi.." Sapa Topan.
"Pagi kak," Sahut Pinky dan Guntur. Sedangkan Amoroso tidak menyahut sapaan dari Topan.
"Ibu mana?" Tanya Topan.
"Masih dikamar." Sahut Pinky lagi.
Topan menatap satu persatu anggota keluarganya. Lalu, ia mengurungkan niatnya untuk duduk dan beranjak ke kamar Erna.
Tok! Tok! Tok!
Topan mengetuk pintu kamar tersebut. Namun, tidak ada sahutan dari dalam kamar itu.
Topan memberanikan diri untuk membuka pintu kamar ibunya itu. Namun, pintu kamar itu tidak dapat terbuka. Pintu itu di kunci oleh Erna dari dalam.
Topan beranjak kembali ke ruang makan. Lalu, ia menatap Amoroso yang tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi.
Amoroso mengangkat wajahnya dan menatap Topan dengan seksama.
"Menurut kamu?"
Topan terdiam, sikap Amoroso tidak bisa ia salahkan. Setelah kejadian semalam, Topan paham, bila Amoroso bersikap seperti itu karena lelaki yang ia panggil 'bapak' tersebut, terus meragukan dirinya anak kandung atau anak dari selingkuhan Erna.
Tanpa basa-basi, Topan kembali ke kamar Erna. Ia terus mengetuk pintu kamar tersebut. Masih belum ada jawaban dari dalam, Topan pun mulai panik. Ia kembali ke ruang makan dengan wajah yang terlihat marah.
"Kalian tenang-tenang saja? Apa kalian punya pikiran?" Ucap nya dengan mata yang tajam.
Amoroso, Pinky dan Guntur masih bergeming. Pinky dan Guntur terlihat gemetar. Saat itu juga, Topan mulai menangkap bila Amoroso melarang mereka berdua untuk memanggil Erna.
"Sumber masalah nya kan kamu, kamu lah yang menyelesaikan nya," Ucap Amoroso dengan nada suara yang sinis.
Topan menghela nafas panjang dan kembali beranjak ke kamar ibunya.
"Bu!" Panggil Topan.
"Ibu! Buka Bu!" Topan mencoba mendobrak pintu kamar tersebut.
"Bu!"
Di dalam kamar tersebut masih hening.
Topan mulai panik dan mundur kebelakang. Dengan sekuat tenaga, ia menendang pintu kamar tersebut.
Brakkkkkkkk!
__ADS_1
Pintu kamar tersebut pun terbuka. Topan berlari masuk dan menatap Erna yang termenung di atas ranjang.
"Bu!" Topan memeluk Erna yang pandangannya terlihat kosong.
"Bu, istighfar bu!"
Erna masih diam membisu. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Bu, Topan minta maaf bu..." Topan mengecup punggung tangan Erna dan mendekap Erna kedalam pelukannya.
Tangisan Erna semakin menjadi. Ia menangis hingga bahunya terguncang dan tersedu-sedu.
Tak lama kemudian, muncul lah Pinky, Guntur dan Amoroso. Mereka hanya menatap Erna dan Topan di ambang pintu kamar tersebut.
"Bu..." Topan mencoba menenangkan Erna.
"Ambilkan air!" Perintah Topan.
Pinky yang terpaku pun tersadar. Ia langsung beranjak ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Erna. Sedangkan Amoroso, memasuki kamar tersebut dan mengambil seragam nya, untuk ia kenakan.
"Apa bapak tidak peduli dengan ibu?" Tanya Topan dengan nada suara yang terdengar begitu dingin.
Amoroso masih diam, ia tidak mempedulikan pertanyaan Topan. Ia terus mengenakan seragam nya.
"Kalau bapak tidak peduli dengan ibu. Tinggalkan ibu."
Amoroso menghentikan kegiatannya memakai seragam dan menatap Topan dengan tatapan yang tajam.
"Apa hak mu mengatakan seperti itu?" Tanya Amoroso.
"Aku berhak, karena ibu adalah ibuku!" Topan beranjak dari tepi ranjang dan berdiri berhadapan dengan Amoroso.
"Kurang ajar sekali kamu! Dimana rasa hormat mu kepada saya!"
"Maaf pak, rasa hormat saya tidak pernah tumbuh. Karena bapak tidak pernah peduli kepada saya!" Ucap Topan.
"Kurang ajar kamu!" Amoroso mengangkat tangan nya dan hendak melayangkan pukulan nya ke wajah Topan. Tetapi, dengan cepat Topan menahan tangan Amoroso dan mencengkeram pergelangan tangan Amoroso dengan kuat.
"Anda tidak mengakui saya anak anda kan? Tidak apa-apa. Tetapi, ibu saya adalah istri anda. Maaf, bila anda sudah tidak peduli dengan nya, lepaskan saja ibu saya. Saya bisa merawatnya sendiri!" Ucap Topan dengan lantang.
Prangggg..! Gelas yang Pinky bawa terjatuh dan pecah di atas lantai. Ia merasa terkejut dengan perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Topan. Sedangkan Guntur, sama reaksinya dengan Pinky. Ia baru menyadari bila sikap Amoroso kepada Topan selama ini, karena bapak nya itu meragukan Topan sebagai anaknya.
"Ku-kurang-ajar-ka-kamu!" Tangan Amoroso gemetar hebat. Ia sudah tidak muda lagi, dan kini ia berhadapan dengan sosok anak muda yang kuat. Jantungnya pun berdegup kencang, hingga terasa sakit di dadanya.
"Pak!" Pinky mulai menghampiri Amoroso dan memeluk bapak nya itu dengan erat.
"Kak!" Pinky memaksa Topan melepaskan cengkraman tangan nya dari pergelangan tangan Amoroso.
Perlahan, Topan melepaskan cengkeraman nya dari pergelangan tangan Amoroso, tanpa melepaskan tatapan nya dari lelaki yang selama ini ia kenal sebagai bapaknya tersebut.
Tiba-tiba saja Erna beranjak dari ranjang dan dengan tubuh gemetar, ia berdiri di antara Topan dan Amoroso. Lalu, dengan tatapan tajam, ia menatap Amoroso,
"Ayo test DNA. Biar semuanya berakhir," Ucap Erna.
Semua yang berada di ruangan itu terdiam.
"Aku pasrah apa pun yang terjadi. Ayo," Erna menuntun tangan Amoroso dan Topan.
"Bu..."
"Ayo... bukankah kamu meragukan dia? Kita buktikan sekarang. Bila aku salah, aku siap untuk kamu campakkan, kamu benci dan kamu maki. Bila dia memang anak mu, aku mohon, hilangkan rasa benci di hati kalian berdua. Aku lelah melihat ini semua. Aku tahu aku bersalah, inilah hukuman yang aku terima. Aku hidup bagaikan di neraka, kala melihat kalian terus seperti ini."
__ADS_1
Tanpa banyak kata lagi, Erna menarik tangan Topan dan Amoroso, membawa mereka berdua menuju ke rumah sakit untuk melakukan test DNA.